Warga Stres dengan Ketidakpastian Covid-19, Psikiater Ramai Sepekan Terakhir  

Kebanyakan pasien mengeluhkan magh, jantung berdebar-debar, dan sulit tidur dan khawatir berlebihan terhadap masa depan dalam situasi pandemi ini.

Penulis: I Wayan Erwin Widyaswara | Editor: I Putu Darmendra
Tribunnews
Ilustrasi Kondisi Stres 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Jumlah kunjungan masyarakat ke psikiater di Denpasar meningkat dua kali lipat sejak sepakan terakhir. Kebanyakan pasien mengeluhkan magh, jantung berdebar-debar, dan sulit tidur dan khawatir berlebihan terhadap masa depan dalam situasi pandemi ini.

"Sejak sepakan terakhir ini, ada peningkatan kunjungan dua kali lipat bisa dibilang. Sebenarnya mereka itu mengalami gangguan sejak sebulan atau dua bulan lalu. Tapi karena mereka selama ini dilarang keluar rumah, da rumah sakit dan klinik juga sepi, jadi baru seminggu ini pada datang untuk berobat," kata Psikiater, I Gusti Rai Putra Wiguna, Rabu (20/5/2020).

Dokter ahli jiwa di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Wangaya itu mengatakan dari konsultasi dengan para pasien yang datang, mereka mengaku rata-rata mengalami kecemasan karena mendapatkan informasi yang terus berubah-ubah soal Covid-19.

Ini membuat mereka tak bisa mengambil keputusan dengan tegas sehingga stres sendiri memikirkan nasib mereka. Selain itu, lanjut dr Rai, ada juga yang depresi lantaran sering cekcok dengan suami atau istri karena faktor ekonomi.

"Rupanya beban ekonomi ini berpengaruh juga nih. Sering cekcok dalam keluarga, kemudian orangtua juga stres memikirkan anak mereka karena belum jelas kapan mulai masuk sekolah," kata dr Rai.

Masyarakat yang akhirnya memutuskan untuk berkonsultasi ke psikiater karena sebelumnya mereka sudah sempat berobat ke dokter umum, namun dikatakan tidak ada penyakit serius yang menyebabkan mereka sulit tidur, magh, dan jantung berdebar-debat.

"Jadi setelah berobat mereka dikatakan masih sehat. Makanya mereka memilih ke psikiater," ujar dia.

Selain faktor-faktor tersebut, ada juga kelompok masyarakat yang konsultasi ke psikiter karena stres tak bisa mudik. Sementara orangtua mereka di luar Bali meminta mereka untuk pulang.

"Jadi depresi ini karena ketidakpastian keadaan sekarang ini. Di satu sisi ada yang aman aman saja pulang, di satu sisi ada larangan. Kemudian orangtua mereka berharap pulang, sementara orang ini takut gak bisa lagi balik ke Bali. Nah keragu-raguan ini juga yang memicu kecemasan," katanya.

Dokter Ahli Jiwa di RSUP Sanglah, Lely Setyawati beberapa waktu lalu mengungkapkan jumlah pasien cemas yang ditanganinya meningkat semenjak wabah virus corona muncul di Bali.

"Iya meningkat jumlah pasien cemas yang kami tangani. Tapi kami belum rekap datanya karena belum sebulan. Yang jelas, mereka khawatir berlebihan padahal tidak kena covid dan akhirnya sakit beneran," kata Lely.

Namun saat ini, kata dia, sudah tidak lagi seperti bulan lalu. Ia menduga ini karena pada saat awal-awal adanya kasus Covid-19 di Bali, masyarakat panik dan cemas berlebihan sehingga mengalami depresi. "Sekarang sudah tidak banyak lagi," katanya. 

Sumber: Tribun Bali
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved