Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Corona di Bali

Bank Indonesia: Tertahannya Kunjungan Wisman Sebabkan Kontraksi Ekonomi Bali

Pembatasan aktivitas produksi, konsumsi, dan distribusi tersebut menyebabkan penurunan kinerja perekonomian negara-negara di seluruh dunia

Tayang:
TRIBUN BALI/EKA MITA SUPUTRA
Dinas Kesehatan, Jumat (13/3) melakukan screening, atau pemeriksaan suhu tubuh terhadap wisatawan di pelabuhan Sampalan, Nusa Penida. 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR – Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, Trisno Nugroho, kembali menjelaskan ihwal dampak dari tak adanya turis ke Bali. Materi ini dibawakan dalam webinar online bertajuk “Roadmap to Bali’s Next Normal. “Is Bali ready for a MICE Business” via aplikasi zoom.

“Mencermati perkembangan ekonomi global terkini, pertumbuhan ekonomi triwulan I-2020 di banyak negara menurun tajam seiring meluasnya pandemi Covid-19,” jelasnya, Kamis (28/5/2020).  IMF WEO, kata dia, memperkirakan ekonomi global 2020 mencatat pertumbuhan negatif hingga (-3) persen. Berbagai upaya penanggulangan penyebaran Covid 19, telah dilakukan mulai dari lock down, social distancing, dan protokol kesehatan lainnya.  

Pembatasan aktivitas produksi, konsumsi, dan distribusi tersebut menyebabkan penurunan kinerja perekonomian negara-negara di seluruh dunia. “Perlambatan pertumbuhan ekonomi juga kita alami. Sumber perlambatan terjadi di hampir seluruh wilayah Indonesia. Penurunan permintaan domestik, menekan kinerja komponen pertumbuhan ekonomi, terutama konsumsi swasta akibat Covid-19,” jelasnya.

Pada triwulan I-2020, perlambatan ekonomi terjadi di seluruh wilayah dengan yang terdalam di Jawa dan Bali serta Nusra. “Hanya dua provinsi yang mencatat kenaikan pertumbuhan ekonomi, yakni Kalimantan Selatan dan Papua, karena ditopang perbaikan kinerja pertambangan,” imbuhnya. Sementara itu, terdapat 2 provinsi yang mencatat kinerja ekonomi yang terkontraksi yakni DIY Yogyakarta dan Bali.

Di tengah pandemi ini, pertumbuhan ekonomi Bali pada triwulan I-2020 mengalami perlambatan. “Tertahannya kunjungan wisatawan ke Bali menyebabkan kinerja ekonomi Bali terkontraksi sebesar (-1,14) persen (yoy),” sebutnya. Memasuki triwulan I-2020, kunjungan wisman sempat meningkat di Bali. Namun, pertumbuhan kunjungan wisman menurun tajam di penghujung triwulan I-2020.

Hal ini menjadi penyebab kontraksi pada komponen ekspor jasa. “Bali merupakan daerah yang paling terdampak dari turunnya kunjungan wisman tersebut,”sebutnya. Akumulasi inbound wisman periode Januari sampai  Maret 2020 mengalami kontraksi sebesar (-21,82) persen (yoy), dengan penurunan terdalam pada wisman asal Tiongkok sebesar (-64,24) persen (yoy).

Namun demikian, penurunan inbound tourism di Indonesia masih lebih moderat, dibanding negara-negara lainnya. Singapura, Thailand, Korea Selatan, Jepang dan Hongkong mencatat penurunan yang lebih dalam dengan ditetapkannya restriksi kunjungan wisman untuk mengendalikan penyebaran Covid-19.

“Menyikapi perkembangan Covid-19 di seluruh dunia, kita perlu merumuskan berbagai strategi untuk terus bersaing dengan destinasi wisata lainnya di berbagai negara,” katanya. Tren pariwisata diperkirakan mengalami perubahan. Pandemi Covid-19 menimbulkan disrupsi pada dunia pariwisata dan preferensi/perilaku wisatawan.

Di era pasca pandemi, wisatawan akan mengedepankan aspek safety, hygene and cleanliness atau yang sering kita sebut sebagai kondisi new normal. “Sejumlah negara sudah mulai merencanakan untuk membuka perjalanan internasional ke negara tertentu. Di Eropa Utara, Latvia, Lithuania, dan Estonia, sudah sepakat mengizinkan penduduknya melakukan perjalanan ke masing-masing 3 negara tersebut (Balitic Travel Bubble),” katanya.

Australia dan New Zealand berencana akan menerapkan travel bubble, tanpa karantina 14 hari. Vietnam, Thailand dan Singapura juga mulai melakukan persiapan untuk membuka sektor pariwisata. Pemerintah, pelaku usaha dan stakeholder terkait harus mampu beradaptasi/menciptakan inovasi sebagai respon terhadap perubahan dalam rangka meningkatkan daya saing dan bersiap menghadapi kondisi new normal.

Dengan menerapkan protokol kesehatan pada setiap lini, termasuk membangun non-cash payment environment. “Berbagai tantangan yang dihadapi pariwisata Bali, perlu kita jawab bersama. Sebagaimana kita ketahui, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif telah membuat strategi pemulihan pariwisata Indonesia melalui program CHS (Cleanliness, Health, & Safety) Pariwisata Indonesia,” jelasnya.  Untuk Program CHS Pariwisata Indonesia, Kemenparekraf juga telah menentukan 3 daerah prioritas termasuk Bali. 

Lanjutnya, menghadapi berbagai tantangan di tengah pandemi Covid-19, semua harus bekerjasama dan saling bahu membahu. Bank Indonesia berkomitmen terus bersinergi dengan pemerintah pusat, pemerintah provinsi, pemerintah daerah, otoritas, instansi, asosiasi, pelaku usaha, dan seluruh lapisan masyarakat dalam meningkatkan kinerja ekonomi Indonesia khususnya pertumbuhan ekonomi Bali yang akhirnya meningkatkan kesejahteraan masyarakat Bali. “Dengan koordinasi dan sinergi yang baik dari seluruh pihak, kami yakin kita semua pasti bisa memasuki norma-norma baru pasca pandemi Covid-19,” katanya.(ask)

Sumber: Tribun Bali
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved