Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Menpar: Sektor MICE Mampu Dongkrak Pariwisata Berkualitas

Wishnutama Kusubandio, dalam webinar online “Roadmap to Bali’s Next Normal” membahas potensi MICE pasca new normal

Surya/Haorrahman
Wishnutama seusai meluncurkan 123 agenda wisata Banyuwangi Festival di Jakarta, Rabu (8/1/2020) malam. 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR – Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Wishnutama Kusubandio, dalam webinar online “Roadmap to Bali’s Next Normal” membahas potensi MICE pasca new normal resmi diberlakukan nanti.

Wishnutama menjadi narasumber dalam webinar online itu.

“Tanggal 5 Juli nanti hari baik, dan Bali ready for MICE,” katanya, Kamis (28/5/2020). Pariwisata adalah sektor yang terdampak cukup parah oleh Covid-19, dan tentunya sektor pariwisata sangat vital di Bali. Walaupun Covid-19 memang menghantam dunia, tetapi dampak di Bali sangat luar biasa pada perekonomian yang disampaikan BI Bali.

Intinya penurunan sangat dalam untuk sektor pariwisata ini, dari tingkat hunian kamar kunjungan dan lain sebagainya. “Dan ini menjadi konsen kami bersama sejak awal. Data BI menunjukkan penurunan wisatawan ke Bali mengakibatkan penutupan sementara operasional hotel dan usaha terkait, yang mempunyai dampak pada pekerjaan atau lapangan pekerjaan yang ada,” jelasnya.

Percepatan pemulihan sektor pariwisata di Bali, kata dia, sangat penting dan strategis. Sebab selain perekonomian di Bali sangat tergantung pariwisata, Bali juga adalah icon Indonesia untuk dunia. “Keberhasilan kita menangani Covid-19 di Bali cermin untuk icon Indonesia,” jelasnya. Ia mengapresiasi Bali dalam menangani Covid-19.

Dari data BI, diketahui kontribusi pariwisata terhadap perekonomian Bali itu sekitar 57 persen, artinya dampak Covid-19 ini luar biasa. Memberikan tekanan pada industri pariwisata di Bali.

“Dampak Covid-19  pada industri MICE, serta potensi MICE dalam kondisi ini juga sangat terdampak,” jelasnya.

Berdasarkan data Ivendo, kurang lebih sekitar 96 persen penundaan kegiatan MICE dan 84 persen pembatalan kegiatan MICE yang tersebar di 17 provinsi dengan potensi kerugian Rp 2,6 triliun – Rp 6,9 triliun.

Potensi MICE  terhadap perekonomian di suatu destinasi wisata sangat tinggi. “Spending bisnis visitor di MICE 17,5 persen lebih besar daripada pengeluaran leisure visitor. Artinya MICE ini menjadi bagian strategis di pariwisata,” katanya. Berdasarkan datanya, komposisi pengeluaran MICE 43 persen untuk perjalanan dan komodtias pariwisata lainnya seperti makan-minum. Kemudian 57 persen, untuk keperluan meeting dan pertemuan.

“Dampak ekonomi MICE serta event betul-betul bisa menetes ke bawah, banyak peluang yang terlibat di MICE. Industri tranportasi, suvenir, pekerja seni, dan lainnya,” tegasnya.

Sehingga MICE tidak hanya berdampak langsung di sektor pariwisata.

“Tetapi dengan adanya Covid-19 ini, yang terdampak juga banyak, band, penyanyi, penari, supir juga kena,” imbuhnya.

Seperti IMF pada 2018 dampak langsung yang dirasakan Rp 5,4 triliun investasi infrastruktur dan sisanya pengeluaran peserta meeting.

Bali memiliki brand luar biasa, kesiapan masyarakat, keindahan alam-budaya ini menjadi brand yang harus terus didorong.

“Walaupun pemerintah menetapkan 5 wilayah prioritas menurut saya Bali tetap hebat,” tegasnya.

Tentunya era new normal perlu persiapan sangat baik, jeli, dan teliti.

“Upaya the new nomal telah kita siapkan. Ada berbagai macam tahapan. SOP dan simulasi di berbagai macam bidang tersebut, penting dilakukan. Bagaimana menyiapkan video tutorial dan promosi, bagaimana Bali menangani Covid-19. Sehingga para pelau tidak usah repot baca aturan,” sebutnya.

Dengan protokol jelas, MICE bisa dilakukan tanpa meninggalkan aturan menjaga kesehatan dan kebersihan serta keamanan.

“Ke depan kami sudah mengusulkan kegiatan meeting conference dan lembaga agar dilaksanakan di Bali dalam waktu dekat. Kami mempersiapkan usulan ke kementerian dan lembaga mencari potensi menciptakan conference lokal dan internasional,” jelasnya.

Intinya, pelaksanaan protokol harus sangat disiplin, detail, dan diharapkan Pemda Bali memberikan sanksi bagi yang melanggar.

“Saya yakin pariwisata di Bali akan kembali bangkit dan MICE akan menajdi core devisa Indonesia pariwisata ke depan,” imbuhnya. 

Wakil Gubernur Provinsi Bali, Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati, setuju bahwa MICE sangat potensial di Bali.

Sebelum Covid-19 menyerang, MICE banyak dilakukan di Bali dengan jumlah sedikit hingga besar.

Tersedianya akomodasi memadai, ruang dan venue yang indah, infrastruktur, airport dan jalan yang memadai mendukung MICE diselenggarakan di Bali. 

Terbukti adanya Apec hingga IMF-World Bank Annual Meeting.

Dengan era new normal, kata dia, MICE tidak bisa dilakukan seperti dahulu di ruang tertutup.

Kini MICE bisa dilakukan di ruang terbuka, seperti alam dan kebun atau pantai.

“Bahkan termasuk di bale-bale adat Bali dengan tetap jaga jarak dan pakai masker,” tegasnya.

MICE dengan jumlah peserta tidak besar, antara 30-100 orang bisa dilakukan di bale adat Bali.

Ini juga sekaligus mengeksplore alam Bali yang sangat indah, dan memiliki vibrasi luar biasa. “Ruang terbuka konon bisa menurunkan potensi transmisi penularan Covid-19,” tegasnya.

Sehingga tetap berpegang pada protokol kesehatan yang telah ditetapkan, namun pariwisata mulai bergerak sedikit demi sedikit. (aSk)

Sumber: Tribun Bali
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved