Corona di Bali
Kisah Pemilik Usaha Kopi Hadapi Pandemi Covid-19, Hanya Buka Kedai By Request Hingga Jual Biji Kopi
Bayu Arya Bagaskara mengakui, di tengah pandemi Covid-19 bisnis kopinya berjalan stagnan
Penulis: I Wayan Sui Suadnyana | Editor: Irma Budiarti
Laporan Wartawan Tribun Bali, I Wayan Sui Suadnyana
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) memang berdampak pada segala sektor, termasuk ke usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM).
Berbagai siasat dijalankan pelaku UMKM agar usahanya tetap berjalan di tengah badai pandemi Covid-19.
Salah satu pelaku UMKM di Bali yang memiliki usaha kedai kopi, Bayu Arya Bagaskara mengakui, di tengah pandemi Covid-19 bisnis kopinya berjalan stagnan.
Padahal sebelum adanya pandemi Covid-19, usaha dengan branding Simalu Kopi yang ia jalankan menunjukkan peningkatan yang cukup baik.
Meski adanya badai pandemi Covid-19, Bayu mengaku berkomitmen mempertahankan usaha rumahannya itu.
Terlebih usaha itu ia jalankan sudah selama tiga tahun, terhitung sejak masih duduk di bangku kuliah.
Kini kedai Simalu Kopi milik Bayu yang berada di Jalan Batu Intan III Nomor 1A, Batubulan, Sukawati, Gianyar, Bali, itu hanya dibuka ketika ada permintaan.
"Kedai kopi saya masih buka sampai sekarang, tetapi hanya by request. Misalkan teman-teman atau siapa yang mau datang, dia request dulu. Tapi kalau tidak ada, ya kita tetap tutup," kata Bayu dalam Temu Wirasa #2 via live Instagram yang dilaksanakan oleh Ikatan Alumni Universitas Udayana (Ikayana) Jakarta-Jawa Barat-Banten (Jakjaban), Minggu (7/6/2020).
Di tengah kedai kopinya yang lebih sering ditutup, Bayu kini fokus menjalankan usaha penjualan biji kopi.
Hal itu juga dilakukan karena pesanan kopi siap minum, termasuk melalui platform daring, sudah jarang ada pesanan dari pelanggan.
Dalam acara bertajuk "Meneguk Bisnis Kopi di Kala Pandemi" itu, Bayu menuturkan dirinya memang menjalankan dua jenis usaha kopi.
Selain membuka kedai untuk menjual berbagai minuman kopi, dirinya juga mensuplai coffee bean ke rumah atau pemilik kedai lainnya.
"Jadi bisnis kopi saya ada dua jenis bisnis, yaitu pertama kedai kopi sama coffee bean untuk menyuplai ke rumah-rumah dan kedai kopi," tuturnya.
Berdayakan Kopi Bali
Bayu mengatakan, saat ini dirinya masih mempertahankan kopi Bali dalam menjalankan usahanya.
Sebagai pelaku usaha kopi yang berada di Pulau Dewata, sampai saat ini kopi Bali masih terbilang gampang untuk dicari.
Selain itu, walaupun ada yang mengatakan bahwa kopi luar Bali lebih enak, seperti Gayo dan Toraja, Bayu percaya bahwa kopi Bali tetap bisa bersaing di pasaran.
Lulus Agroteknologi Fakultas Pertanian Unud tahun 2018 itu menjelaskan, ia menjual biji kopi jenis arabika Kintamani.
Biji kopi yang tersedia di tempatnya yakni yang diolah dengan natural proces dan honey proces.
Pengolahan honey proces sendiri terdapat tiga jenis, yakni green, yellow dan black honey.
Sementara untuk kopi robusta, yang tersedia yakni full wash dan honey proces.
Bayu mengambil kopi robusta tersebut dari petani di Pupuan, Tabanan.
Sementara untuk usaha kopi yang dijual dalam bentuk minuman hampir sama dengan di kedai lainnya, seperti cappucino, latte, kopi kekinian seperti kopi bobba dan sebagainya.
Kopi boba ini biasanya ia buat ketika ada pesanan dari pelanggan.
Ketika mengambil kopi di tingkat petani, Bayu mengaku berusaha menciptakan simbiosis mutualisme atau situasi yang saling menguntungkan.
Jika seandainya membeli kopi yang kurang enak di tingkat petani, Bayu akan memberikan masukan kepada petani.
"Jadi komunikasi saya dengan petani tetap jalan karena saya pasti mencari kopi yang terbaik dari mereka," jelasnya.
Secara kebetulan, Bayu mengambil kopi kepada petani yang usianya relatif masih muda, yakni masih berada di bawah 40 tahun.
Kondisi ini mempermudah komunikasi antara dirinya dengan pihak petani.
Bukan Saingan
Saat ini, keberadaan kedai kopi di Bali terbilang cukup banyak.
Kondisi ini tak lantas membuat Bayu menganggap bahwa berbagai kedai tersebut sebagai saingan.
Apalagi dirinya sendiri juga menjual biji kopi kepada kedai-kedai lainnya di Pulau Dewata.
"Saya tak menganggap itu sebagai saingan. Walaupun di sebelah rumah saya ada buka kedai kopi, malah bukan saya marahi, tapi saya malah tawari untuk pakai biji kopi saya," kata dia.
Hingga saat ini Bayu mengaku masih mensuplai biji kopi kepada lima kedai di Bali.
Jumlah ini mengalami penurunan semenjak adanya pandemi Covid-19 karena beberapa kedai lain juga sudah tutup.
Bayu juga mengaku tidak takut dengan adanya bisnis usaha kopi yang sudah besar seperti Starbucks dan sebagainya.
Menurutnya, UMKM seperti yang dijalankan olehnya memiliki pasar yang berbeda dengan perusahaan kedai kopi yang sudah besar.
(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/bayu-arya-bagaskara-menjadi-salah-satu-pembicara-dalam-acara-temu-wirasa-2.jpg)