Corona di Bali
Persepsi Berbeda Jadi Penyebab Timbulnya Klaster Covid-19 di Pasar Tradisional
Adanya kerumunan yang menyebabkan terjadinya klaster COVID-19 di pasar karena persepsi risiko untuk kalangan sektor informal berbeda
Penulis: I Wayan Sui Suadnyana | Editor: Ida Ayu Suryantini Putri
Lalu di tingkat komunitas, selain menjaga protokol kesehatan juga harus sudah mulai membiasakan dengan hal-hal non kesehatan.
"Selama ini kan di komunitas kita melihat ada stigma yang tinggi, mungkin bersama-sama mengurangi stigma itu. Tidak hanya untuk kasus Covid-19, tetapi juga penyakit-penyakit lain," harapnya.
• Sebagai Wujud Bakti Rsi Yadnya, Bupati Giri Prasta Haturkan Punia Kepada Sulinggih
• Masa Pelunasan Sukuk Global, Garuda Indonesia Raih Persetujuan Perpanjangan
Di tingkatkan komunitas juga penting adanya peran secara ekonomi yakni berperan dalam ketahanan atau resilience di tengah pandemi Covid-19.
"Jadi kenormalan baru itu tidak hanya menyangkut upaya kesehatannya, tapi juga non kesehatan. Jadi terbiasa untuk sama-sama membangun resilince yang berbasis komunitas," kata dia.
Bagi pemerintah, new normal tidak berarti bisa bersantai, melainkan momentum tersebut harus semakin meningkatkan kapasitas upaya kesmas, edukasi masyarakat juga ditingkatkan karena tidak semua memiliki persepsi risiko yang sama dan juga mengedepankan Nation Blue Print for Health Security. (*)