Insiden 'Panas' di Laut China Selatan Antara China & AS, Kapal AL Kedua Negara Saling Berdekatan
Persaingan China dan Amerika Serikat di Laut China Selatan membawa dampak risiko pecahnya konflik di kawasan paling disorot akhir-akhir ini.
TRIBUN-BALI.COM, HONG KONG -- Persaingan China dan Amerika Serikat di Laut China Selatan membawa dampak risiko pecahnya konflik di kawasan paling disorot akhir-akhir ini.
Demi menghidari pecahnya konflik terbuka, kedua belah pihak harus bisa berupaya menjalankan kode etik dalam krisis ketika kapal kedua negara berada dalam lokasi yang cukup berdekatan.
Dilansir Tribun Bali via Kontan, sumber militer China angkat bicara terkait satu insiden di bulan April lalu.
Di mana, kapal-kapal kedua negara saling berdekatan sejauh 100 meter.
"Insiden semacam itu menunjukkan kurangnya kepercayaan politik antara kedua militer," kata sang sumber seperti dikutip South China Morning Post.
• Jika Amerika dan China Tempur di Laut China Selatan, Ini Dampaknya bagi Indonesia
• Ketegangan Antara China & AS di Selat Taiwan Meningkat, AL AS Kirim Kapal Perusak USS Rafael Peralta
• Skuadron F-16 Taiwan Usir Jet Tempur Sukhoi Su-30 AU China yang Langgar Wilayah, Ini Kronologinya
Namun sang sumber itu tidak menyebutkan kapal perang mana yang terlibat dalam pertemuan itu.
Beijing dan Washington telah berkompetisi untuk mengerahkan lebih banyak kapal perang ke wilayah tersebut sejak kru di kapal induk yang berbasis di Pasifik Amerika, USS Theodore Roosevelt dan USS Nimitz terpapar virus corona pada akhir Maret.
Sementara kapal-kapal Angkatan Laut People's Liberation Army (PLA) China yakni Liaoning dan Shandong, tampaknya tidak terpengaruh oleh wabah corona.
Hu Bo, Direktur Pusat Studi Strategi Maritim di Universitas Peking, mengatakan penyebaran baru dilakukan AS termasuk dengan mengirimkan kapal serbu amfibi USS America.
Sementara Angkatan Laut PLA juga mengerahkan sejumlah kapal yang serupa.
Dia mengatakan Amerika Serikat membuat penyebaran baru karena khawatir bahwa China mungkin mengambil keuntungan dari kekosongan kekuatan di Laut China Selatan yang dihasilkan dari wabah virus corona.
Dia mengatakan kedua belah pihak sebagian besar tetap profesional dan terkendali dalam insiden di bulan April, tetapi ada risiko bahwa insiden tersebut dapat mengakibatkan kesalahan perhitungan dan meningkat menjadi konflik militer.
"Perilaku provokatif semacam ini sepenuhnya didorong oleh kebutuhan politik yang ditujukan untuk menunjukkan kekuatan, tetapi aksi itu bisa saja menjadi kecelakaan," katanya.
Ini bukan pertama kalinya kedua angkatan laut melakukan pertemuan dalam jarak dekat.
Pada bulan Oktober 2018, foto udara yang diambil oleh Angkatan Laut AS menunjukkan sebuah kapal perusak China bergerak dalam jarak 41 meter dan hampir bertabrakan dengan kapal perusak USS Decatur selama pertempuran tegang di Laut Cina Selatan.