Breaking News:

Ngopi Santai

Belajar dari Amerika Serikat, Kisah Pemilu di Masa Pandemi Flu Spanyol 1918

Rencananya, pemungutan suara Pilkada yang dihelat di masa pandemi Covid-19 ini pada 9 Desember 2020 mendatang.

Istimewa/https://www.loc.gov/pictures/item/2002695677/
Tiga orang lelaki melempar kertas suara, surat penghitungan suara dan buku-buku jajak pendapat pemilihan Newberry 1918 ke tungku api di Gedung Capitol, AS 

TRIBUN-BALI.COM - Indonesia bakal melaksanakan pemilu lokal atau yang lebih dikenal dengan Pilkada untuk memilih kepala daerah baik Gubernur di tingkat provinsi atau Bupati/Walikota di tingkat kabupaten/kota.

Rencananya, pemungutan suara Pilkada yang dihelat di masa pandemi Covid-19 ini pada 9 Desember 2020 mendatang.

Untuk diketahui, Pilkada Serentak sendiri akan diselenggarakan pada 9 Desember 2020 di 270 daerah, yakni, masing-masing 9 provinsi, 224 kabupaten, dan 37 kota.

Provinsi Bali juga akan ikut dalam pesta demokrasi lokal tersebut, di Pulau Dewata sendiri ada 6 kabupaten/kota yang akan melaksanakannya, diantaranya, Kota Denpasar, Kabupaten Badung, Tabanan, Jembrana, Bangli, dan Karangasem.

Oknum Notaris Ini Jalani Pelimpahan, Ditahan Terkait Kasus Penggelapan dan Pemalsuan Dokumen Tanah

Kesulitan Air Bersih, 17 Desa di Karangasem Usulkan Pengadaan Sumur Bor ke Kementerian ESDM

Tempat Ibadah di Buleleng Mulai Dibuka, Pengurus dan Umat Wajib Terapkan Protokol Kesehatan

Menariknya, Pilkada yang akan dilaksanakan di masa pandemi ini membuat kekhawatiran bagi banyak pihak.

Bagaimana tidak, seperti yang ditulis oleh  Fernanda Buril dan Staffan Darnolf dalam Low Voter Turnouts, Fear, Disinformation and Disrupted Supply Chains: How Election Commissions Are Unprepared for Covid-19, yang dikutip dari www.ifes.org, 27 Maret 2020 menyebutkan bahwa ketakutan akan infeksi menjadi pendorong utama rendahnya jumlah pemilih di negara-negara yang menyelenggarakan pemilihan saat pandemi.

Di beberapa negara yang juga menyelenggarakan pemilu, seperti di Perancis yang melaksanakan municipal elections atau pemilihan dewan kota tingkat lokal yang menariknya hanya diikuti 46% pemilih, dibandingkan dengan 63,5% pada 2014.

Hal senada juga terjadi di Iran yang juga melaksanakan Pemilihan Legislatif yang di masa pandemi ini hanya 43% pemilih secara nasional dibandingkan pada 2016 dengan jumlah pemilih yang mencapai 62%.

Bahkan, di Teheran tingkat partisipasi publik hanya 25%. Menariknya, hal ini menjadi pemilihan di Iran paling rendah jumlah pemilihnya sejak Revolusi Islam pada 1979.

Namun, jika kita berkaca pada sejarah, pelaksanaan pemilu di masa pandemi bukan merupakan hal yang baru.

Halaman
1234
Penulis: Ragil Armando
Editor: Wema Satya Dinata
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved