Layanan Prima Jasa Raharja di Masa Pandemi Covid-19

PT Jasa Raharja terus melakukan inovasi dalam mengoptimalkan layanannya

Tribun Bali/AA Seri Kusniarti
Petugas melayani masyarakat sesuai protokol kesehatan dalam penerapan new normal di kantor Jasa Raharja Bali. 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR – PT Jasa Raharja terus melakukan inovasi dalam mengoptimalkan layanannya. Satu diantara inovasi tersebut adalah, cepatnya penyelesaian klaim pada kasus kecelakaan dengan korban meninggal dunia. Syaiful Anwar, Humas JR Bali, menjelaskan penyelesaian klaim untuk korban meninggal dunia secara nasional ditargetkan selesai 6 hari.

“Namun kami bisa menyelesaikan dalam kurun waktu rata-rata 1,3 hari saja,” katanya kepada Tribun Bali, Senin (22/6/2020). Sehingga jika ada korban meninggal dunia di tempat kejadian, besoknya Jasa Raharja telah menyerahkan santunan pada ahli waris. Ia menjelaskan penyebab laka lantas kebanyakan karena kurang hati-hatinya pengendara kendaraan bermotor di jalan raya.

Ia menyebutkan, langkah pertama adalah melaporkan ke unit laka lantas setempat setelah adanya kejadian kecelakaan. Data ini, akan diambil petugas Jasa Raharja guna menghubungi dan mendatangi keluarga korban, baik luka-luka maupun meninggal dunia. “Sehingga ahli waris tidak perlu ke kantor kami lagi, karena datanya sudah diambil petugas Jasa Raharja,” jelasnya.

Apalagi saat ini, Laporan Polisi pun bisa didapatkan secara online dan telah terintegrasi dengan kepolisian. Sehingga pencetakan pelaporan bisa dilakukan secara online. Intinya, kata dia, syaratnya adalah surat dari kepolisian, KTP, buku nikah bagi yang sudah menikah, atau KK. “Kami juga terintegrasi dengan Dispendukcapil, jadi kami bisa menarik data si korban, siapa keluarganya” imbuhnya.

Ahli waris itu, adalah suami atau istri yang sah, anak yang sah, dan orang tua yang sah. Santunan meninggal dunia diberikan Rp 50 juta, santunan biaya perawatan rumah sakit karena luka-luka ditanggung hingga Rp 20 juta. “Misalkan korban masuk rumah sakit, di RS yang sudah kerjasama dengan Jasa Raharja, maka biaya perawatannya langsung kami tanggung,” tegasnya.

Sehingga setelah ditangani kepolisian, Jasa Raharja langsung menerbitkan surat jaminan untuk rumah sakit. Setidaknya ada 49 rumah sakit di Bali yang telah join dengan Jasa Raharja. Ia pun mengingatkan, agar masyarakat tertib membayar pajak kendaraannya dan SWDKLLJ . Syaiful, sapaan akrabnya, menjelaskan selama pandemi Covid-19 angka klaim kecelakaan menurun.

Hal ini diperkirakan karena penerapan social distancing, yang mengurangi aktivitas masyarakat di luar rumah. Berdasarkan datanya, pembayaran klaim seluruh Bali Rp 11,47 miliar dari Maret-31 Mei 2020. “Pembayaran ini menurun dari Rp 12,2 miliar di periode yang sama tahun 2019,” sebutnya. Selain karena lebih banyak di rumah, pendatang yang keluar masuk Bali pun kini dibatasi dengan syarat yang ketat.

Lanjutnya, penerapan protokol kesehatan di kantor Jasa Raharja juga dilakukan sejak pandemi ini masuk ke Bali bulan Maret 2020 lalu. “Semua petugas dalam tugas klaim, atau pelayanan mengedepankan keselamatan. Dalam hal ini, kami menggunakan protokol kesehatan mulai dari kelengkapan APD di dalam dan di luar kantor,” tegasnya. Sebelum melakukan survei, pihak Jasa Raharja juga mengecek apakah daerah tersebut masuk zona merah Covid-19 atau tidak.

Namun demikian, pelayanan Jasa Raharja tetap optimal, tidak mengalami penurunan. Selama new normal ini, Jasa Raharja mulai mempersiapkan ke arah digitalisasi. Baik dalam penerbitan jaminan, yang dilakukan secara online. Serta sedang dalam proses pembuatan host to host ke rumah sakit. “Jadi kami bisa langsung berkoordinasi dengan rumah sakit, melalui media online. Host to host itu, kami bisa melihat data korban kecelakaan langsung melalui sistem online,” jelasnya.

Ia pun memastikan, pelayanan terhadap masyarakat tidak terganggu. “Kami menerapkan protokol kesehatan untuk keselamatan baik petugas kami, ataupun masyarakat yang kami temui,” tegasnya. Hal tersebut terlihat dari pintu masuk kantor, telah dicek suhu tubuh. Kemudian cuci tangan, serta wajib menggunakan masker. “Petugas lapangan juga demikian, dan kami berlakukan WFH dan WFO secara bergantian,” tambahnya. (ask)

Penulis: AA Seri Kusniarti
Editor: Aloisius H Manggol
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved