Corona di Bali

Sembahyang Bakcang pada Tradisi Peh Cun di Pantai Kuta Terapkan Protokol Kesehatan

Ia menyampaikan hari ini kita yakini adalah hari baik jadi katanya satu matahari, bulan dan bumi tegak lurus. Dibuktikan dengan telor yang bisa berdir

Tribun Bali/Zaenal Nur Arifin
Suasana sembahyang Bakcang dalam tradisi Peh Cun yang diadakan di pinggir Pantai Kuta siang ini. 

Laporan Wartawan Tribun Bali, Zaenal Nur Arifin

TRIBUN-BALI.COM, BADUNG - Puluhan Etnis Tionghoa melakukan sembahyang Bakcang dalam tradisi Peh Cun yang diadakan di pinggir Pantai Kuta siang ini.

 
Namun di tengah pandemi Covid-19 seperti sekarang, kegiatan tersebut diadakan secara sederhana tidak semeriah tahun sebelumnya.

 
Di mana tahun sebelumnya dihadiri ratusan orang dan dimeriahkan penampilan barong sai serta dipasangi umbul-umbul dan lain-lainnya.

Hari Ini, 205 Pedagang Pasar Kumbasari Resmi Dipindah ke Pelataran Pasar Badung

Mengenal Sosok Putri Bulan, Penyanyi Pop Bali Yang Telah Meniti Karir Sejak Usia Belasan

Dispar Gianyar Data & Susun Indikator Daftar Objek Wisata yang Akan Dibuka Nanti

“Hari ini kita mengadakan sembahyang kue bakcang yang jatuh pada hari 5 bulan 5 kalendar lunar China. Atau jatuh setiap bulan Juni di kalender Masehi. Dipersembahkan pada satu Menteri Chie Yen yang sangat setia dan sayang rakyatnya, kemudian kedua kita persembahkan ke dewa laut untuk hari ini,” jelas Luwih Berata selaku Ketua II Pengurus Vihara Dharmayana Kuta, Kamis (25/6/2020).

 
Ia menyampaikan hari ini kita yakini adalah hari baik jadi katanya satu matahari, bulan dan bumi tegak lurus.

Dibuktikan dengan telor yang bisa berdiri di atas piring.

 
Selain itu kita juga membawa dua ekor penyu sebagai kalau di Bali dibilang upa saksi kepada para dewa laut.

6 Warisan Budaya di Denpasar Ini Diusulkan untuk Ditetapkan Sebagai WBTB Tahun 2020

Kisah Perjuangan Hidup Delisa Pemeran Mira di Sinetron Preman Pensiun, Kerja Keras Demi Tebus Ijazah

Kenali Gejala Penyakit Tekanan Darah Tinggi, Faktor Risiko dan Cara Pencegahannya

“Harus penyu yang kita lepaskan. Dan habis sembahyang kita mandi di laut kemudian baru lepas penyu. Karena kita yakini hari ini hari baik untuk membersihkan diri untuk mencari berkah untuk hidup bisa lebih tenang. Biasanya diikuti ratusan orang tapi karena pandemi kita batasi jadi hanya sekitar 30 orang,” ujarnya.

 
Kelian Banjar Dharma Semadi Kuta, Adi Dharmaja Kusuma menyampaikan cerita tradisi Peh Cun berawal saat Jenderal Qiu Yen menceburkan diri ke sungai.

Karena rasa hormat penduduk kepada-Nya membawa nasi ditanak dibungkus daun dikirim ke dasar laut dan agar tidak dimakan ikan dikasih duri-duri nasi tanaknya itu.

Update Covid-19: 503 Orang Masih dalam Perawatan di Bali - Kasus Positif di Jawa Timur Meningkat

Prakiraan Cuaca Bali 25 Juni 2020: Siang Hari Cerah Berawan, Hujan Ringan di Malam Hari

“Pemikiran orang lama seperti itu. Kalau di Bali umumnya persembahyangan kue bakcang tapi di Negara Tionghoa gitu namanya sembahyang Peh Cun dengan ada lomba-lomba perahu naga. Tapi tidak  umum harus ada lomba itu, karena kita tetap memperingati dan menghormati tradisi Tionghoa ini kita adakan,” ungkap Adi Dharmaja.

 
Menyambut tatanan kehidupan baru atau new normal di Vihara Dharmayana Kuta.

Ia mengatakan pihaknya telah koordinasi dengan Gugus Tugas di Kecamatan, Kabupaten dan Provinsi.

 
Dan protokol kesehatan diterapkan bagi umat atau pun pengurus yang memasuki Vihara wajib memakai masker, mencuci tangan, jaga jarak dan suhu tubuh dicek terlebih dahulu sebelum masuk.(*)

Penulis: Zaenal Nur Arifin
Editor: Ida Ayu Suryantini Putri
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved