Corona di Bali
Hasil Kerja Satgas Gotong Royong Desa Adat Sayan Gianyar Berbuah Manis
Satgas Gotong-royong desa adat, yang selama ini menjadi ujung tombak pemutusan rantai Covid-19 di Bali, telah berbuah manis
Penulis: I Wayan Eri Gunarta | Editor: Putu Dewi Adi Damayanthi
TRIBUN-BALI.COM, GIANYAR – Satgas Gotong Royong desa adat, yang selama ini menjadi ujung tombak pemutusan rantai Covid-19 di Bali, telah berbuah manis.
Dimana, hampir sebagian besar masyarakat telah mematuhi protokol kesehatan, seperti memakai masker saat keluar rumah, dan rajin mencuci tangan di tempat umum yang disediakan Satgas Gotong Royong.
Satu diantara reka kesuksesan Satgas Gotong Royong ini terjadi di Desa Sayan, Kecamatan Ubud, Gianyar, Bali.
Anggota Satgas Gotong Royong Desa Adat Sayan, Ubud, I Made Suardika, Jumat (26/6/2020) mengatakan, sejak Satgas Gotong Royong dibentuk hingga saat ini, dirinya bersama rekan-rekannya rutin berjaga di Pasar Sayan.
• Golose: Kalau Coba-coba Silakan Saja! Siap Tindak Tegas Ormas Apapun yang Berbuat Kriminal di Bali
• 5 Zodiak Ini Paling Berpotensi untuk Berselingkuh, Gemini Ada di Peringkat Pertama
• Respon Tegas PDIP Soal Insiden Pembakaran Bendera Partai Dibawa ke Ranah Hukum, Mega Perintahkan Ini
Pasar tersebut selama ini menjadi lokasi yang paling rentan terpapar Covid-19.
Sebab, hampir setiap hari ramai.
Sebab pasar ini difungsikan menjadi dua pasar, yakni pasar tradisional dan pasar senggol.
Pada awalnya, kata Suardika, pihaknya kesulitan mengajak masyarakat, khususnya orang tua di atas umur 50-an untuk mematuhi protokol kesehatan, yakni menggunakan masker dan mencuci tangan saat masuk ke pasar.
Namun setelah beberapa kali sosialisasi, secara berangsur-angsur saat ini hampir 100 persen telah mematuhi.
“Awalnya sulit mengajak orang tua memakai masker dan cuci tangan, karena memang itu kebiasaan baru yang sulit diterima orang tua. Tapi setelah dikasi pendekatan, akhirnya hampir semuanya sudah memahami kondisi ini, sehingga tugas kami semakin ringan,” ujarnya.
Meskipun demikian, pihaknya tidak serta merta mengendorkan pengawasan.
Malahan, kata dia, saat ini ada prosedur baru yang dilakukan, yakni memeriksa suhu tubuh masyarakat yang masuk pasar.
Selain pasar, pihaknya juga melakukan tugas lain, yakni patroli di persawahan, mengecek keberadaan pendatang, memastikan toko atau warung telah tutup maksimal pukul 20.00 Wita, dan sebagainya.
Terkait pemantauan di persawahan, kata dia, ini dilakukan karena sawah di desanya kerap terjadi kerumunan.
Bukan oleh petani, tetapi masyarakat yang jalan-jalan untuk berselfie.
“Kalau hanya olahraga tidak apa. Tapi ini masalahnya mereka jalan-jalan lalu selfie, dan biasanya yang jalan-jalan ini berbanyak orang, makanya terpaksa kami tegur. Astungkara, mereka mau menuruti arahan kami, dan situasi sawah tidak ramai-ramai lagi,” ujarnya.
Tak hanya penduduk pendatang, sampai saat ini tidak ada yang masuk ke wilayahnya, meskipun tidak ada larangan.
Bahkan yang sebelumnya kos atau ngontrak, dan sempat pulang kampung, sampai saat ini juga belum datang.
“Terkait kegiatan anak muda, tidak ada lagi yang keluyuran. Jam delapan malam, situasi desa sudah sepi,” tandasnya.
Ia berharap masyarakat menghargai pengorbanan Satgas Gotong Royong Desa Adat yang harus keluar rumah, saat masyarakat berada di rumah, yang harus berhadapan dengan banyak orang saat masyarakat menjauhi keramaian.
“Mari hargai apa yang dilakukan Satgas, dengan cara tetap mentaati protokol kesehatan, supaya pandemi Covid-19 ini bisa segera berakhir,” harapnya. (*).
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/satgas-gotong-royong-desa-adat-sayan.jpg)