Breaking News:

Pitana Optimistis Pariwisata Bali Segera Pulih

Pitana menggarisbawahi, apapun yang dilakukan harus memenuhi protokol kesehatan

Tribun Bali/Wema Satya Dinata
Prof. I Gede Pitana. 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR – Ida Bhawati Prof Pitana, Guru Besar Ilmu Pariwisata Universitas Udayana, mengaku optimistis pariwisata Bali akan segera pulih seperti sediakala.

Ia mengapresiasi, adanya langkah pemerintah re-opening Bali, dengan konsep new normal pada 9 Juli 2020 ini.

Memberi angin segar, bagi pariwisata Bali yang mati suri sejak pandemi Covid-19 melanda Bali mulai Maret 2020.

“Sejatinya ini persis seperti yang saya usulkan dulu, dibuka secara bertahap mulai dari yang paling dekat sampai yang paling jauh. Pertama orang Bali bisa ke Karangasem, main ke Buleleng, sembahyang ke Besakih dan sebagainya. Itu semua akan menggerakkan ekonomi, apalagi saat nanti dilanjutkan ke wisatawan nusantara dan internasional,” jelasnya kepada Tribun Bali, Kamis (2/7/2020).

Pitana menggarisbawahi, apapun yang dilakukan harus memenuhi protokol kesehatan mencegah penularan Covid-19. Memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan. “Saya sudah mengobrol dengan swasta, mereka sangat mengharapkan ke Bali. Tentunya dengan syarat sesuai new normal,” katanya. Akademisi yang lama berkecimpung di Kementerian Pariwisata ini, menegaskan bahwa setiap adanya pergerakan manusia maka pasti diikuti pergerakan uang.

“Nah kalau di rumah saja, tentu kan tidak ada uang yang bergerak, apalagi kondisi ekonomi belakangan ini juga tidak baik,” jelasnya. Sehingga ia menyambut baik keputusan re-opening Bali. Apalagi didahului dengan melakukan persembahyangan di Batur dan Besakih, sesuai dengan kearifan lokal dan konsep Tri Hita Karana Hindu. Optimismenya, karena melihat kecendrungan kepanikan warga Bali dan Indonesia bahkan dunia mulai menurun.

Bila dibandingkan awal virus ini masuk dan menjangkiti warga. “Kebetulan saya kan peneliti, saya melihat sekarang pasar mulai ramai, dan 90 persen menggunaklan masker. Jadi new normal setidaknya sudah berjalan dari masker, cuci tangan, dan jaga jarak,” jelasnya. Sehingga jika semua berjalan lancar, sesuai rencana re-opening Bali tanpa adanya kenaikan transmisi lokal. Maka dipastikan Natal dan tahun baru 2020 Bali kembali ramai. “Walaupun tentu tidak seramai tahun lalu,” tegasnya.

Sebab, kata dia, masalahnya pandemi ini menjangkiti seluruh dunia. Sehingga semua orang sedang kesulitan secara finansial. Termasuk turis yang biasanya datang plesiran ke Bali. “Apalagi sekarang kan memang syaratnya ketat, harus Swab dan lain sebagainya. Jadi tentu tidak semudah dulu,” imbuhnya. Sehingga ia memperkirakan, memang untuk okupansi dari turis asing masih single digit. Sedangkan wisdom atau wisnu akan bisa dua digit. “Hal ini terbukti dari bom Bali I, dimana wisnu yang dianggap sebagai pelengkap saja ternyata sangat membantu pemulihan pariwisata Bali saat itu,” jelasnya.

Memang kelemahannya, tidak ada devisa masuk jika tidak ada wisman, namun pergerakan ekonomi dari wisnu sangat tinggi. “Rata-rata pengeluaran wisdom/wisnu itu Rp 800 ribu per kunjungan. Wisman rata-rata 1.112 USD per kunjungan. Tapi wisman kan cuma 16 juta, sedangkan wisnu sampai 273 juta jadi lebih besar,” sebutnya. Ia pun yakin, 2021 pariwisata akan pulih sedikit demi sedikit seperti sediakala.

“Ini saya melihat dari recovery di Bali yang umumnya sangat cepat. Dulu kan bom Bali, ternyata baru setahun sudah kembali. Terus erupsi Gunung Agung baru 4 bulan sudah kembali. Namun karena sekarang menyangkut dunia, mudah-mudahan prediksi saya tidak meleset,” imbuhnya. Apalagi pariwisata adalah kebutuhan saat ini, dan banyak yang menjadikannya hobby. Ia juga berharap, pariwisata ke depannya balance antara kualitas dan kuantitas. Sehingga bisa membantu mensejahterakan masyarakat lokal yang bergerak di industri pariwisata baik sebagai karyawan maupun owner. (ask)

Penulis: AA Seri Kusniarti
Editor: Aloisius H Manggol
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved