Bendesa Sulit Batasi Warga Malayangan, Sehari PLN Turunkan 48 Layang-layang dari Kabel Listrik
Sejumlah bendesa adat merasa kesulitan jika diminta turun tangan mengatasi permasalahan layang-layang yang banyak menimbulkan korban
Penulis: I Komang Agus Aryanta | Editor: Ady Sucipto
TRIBUN-BALI.COM, MANGUPURA - Sejumlah bendesa adat merasa kesulitan jika diminta turun tangan mengatasi permasalahan layang-layang yang banyak menimbulkan korban nyawa serta gangguan listrik di masa pandemi Covid-19 ini.
Para bendesa adat tak bisa membatasi warganya malayangan, sehingga komponen terkait perlu duduk bersama mencari solusi terbaik.
Bendesa Adat Pecatu, Kabupaten Badung, I Made Sumerta, mengakui maraknya warga bermain layang-layang karena tidak adanya lomba.
Semestinya masyarakat diberikan wadah untuk melaksanakan lomba.
"Kita tahu sekarang tidak ada lomba layang-layang karena pandemi Covid-19.
Makanya masyarakat banyak yang bermain layangan. Mereka harus diberikan wadah dengan mematuhi protokol kesehatan," katanya kepada Tribun Bali, Selasa (7/7).
Protokol kesehatan yang dimaksud yakni membatasi peserta dan lomba berlangsung sebulan penuh. Sehingga pelaksanaan lomba tidak menimbulkan kerumunan banyak orang.
Terkjait imbauan Polda Bali agar desa adat turun tangan karena banyak kecelakaan akibat tali layangan, Sumerta yang juga merupakan anggota DPRD Badung itu mengatakan harus dibahas secara bersama.
Apa yang harus dilakukan untuk mensiasati masalah tersebut.
"Kita perlu duduk bersama untuk pembahasan ulang, apa yang harus dilakukan. Langkah apa yang harus dilakukan desa adat," ungkapnya.
Sumerta mengaku sulit memberi tahu atau melarang masyarakat untuk bermain layang-layang.
Dirinya hanya bisa mengimbau masyarakat yang hobi bermain layang-layang agar memahami situasi tersebut.
"Kita tetap mengimbau agar masyarakat yang bermain layang-layang juga memikirkan keselamatan orang lain. Selain itu memperhatikan layangan jangan sampai jatuh dan merugikan orang lain," tandasnya.
Di tengah maraknya masyarakat bermain layangan, korban tali layang-layang terus berjatuhan di Bali. Bahkan kini hampir saban hari ada saja pengendara yang jatuh tersangkut tali layangan.
Senin (6/7), misalnya, dua pengendara sepeda motor mengalami kecelakaan lalu lintas saat berkendara karena tersangkut tali layang-layang yang melintang di jalan raya.
Kejadian pertama, seorang pengendara terpental tersangkut tali layangan di Jl Raya Kapal, Mengwi, Badung.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/pln-imbau-masyarakat-tidak-terbangkan-layangan-dekat-jaringan.jpg)