Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Rugi Besar Akibat Covid-19, Dirut Garuda Indonesia : Yang Bisa Menyelamatkan Hanya Penumpang

Bantuan dari pemerintah berupa pinjaman senilai Rp8,5 triliun pun tidak mampu menutupi dan bertahan dalam waktu jangka panjang.

Tayang:
Editor: Eviera Paramita Sandi
Tribun Bali/Zaenal Nur Arifin
Maskapai Garuda Indonesia 

TRIBUN-BALI.COM, JAKARTA - Adanya pandemi Covid-19 yang melanda seluruh dunia membuat industri penerbangan mengalami keterpurukan.

Tak terkecuali di Indonesia, maskapai plat merah Garuda Indonesia juga mengalami kerugian yang cukup besar karena pandemi ini.

Direktur Utama Maskapai Garuda Indonesia, Irfan Setiaputra menyatakan bahwa pihak yang bisa menyelamatkan maskapai pelat merah tersebut dari situasi sulit akibat pandemi Covid-19 hanyalah penumpang.

“Saya selalu bicara kemana-mana yang bisa menyelamatkan Garuda dari situasi sekarang dan secepatnya bisa ‘recover’ (pulih) adalah penumpang,” kata Irfan dalam diskusi daring bertajuk “Yuk Terbang Lagi Bersama Garuda” di Jakarta, Jumat,( 24/7/2020) seperti dilansir dari kantor berita ANTARA. 

Bahkan, menurut Irfan, bantuan dari pemerintah berupa pinjaman senilai Rp8,5 triliun pun tidak mampu menutupi dan bertahan dalam waktu jangka panjang.

Bos Garuda Tarik Turis ke Indonesia Dengan Membuka Rute Baru dari Berbagai Negara Langsung ke Bali

Garuda mendapat dana talangan dengan skema “mandatory convertible bond” senilai Rp8,5 triliun dengan tenor tiga tahun guna membangkitkan kembali maskapai nasional itu dari keterpurukan selama pandemi.

“Pemerintah ketika membantu dana itu cuma sementara yang akan memastikan garuda ‘recovery’ itu penumpang itu yang selalu kampanyekan,” katanya.

Untuk itu, Ia memastikan protokol kesehatan selalu dilakukan, terutama di dalam pesawat, terutama jaga jarak yang diterapkan dengan mengosongkan kursi tengah untuk kelas ekonomi dan kursi bisnis hanya diisi untuk satu orang.

“Garuda ngotot sekali memastikan tempat duduk tengah di kelas ekonomi kosong karena kita enggak mau persepsi publik soal perjalanan ini bermasalah. Konfigurasi tengah kosong. Kelas bisnis yang kursi dua-dua itu sendiri, kecuali ada permintaan khusus bawa keluarga dengan anaknya tidak ingin dipisahkan tapi ada kesepakatan yang harus disepakati agar membuat orang lain aman,” katanya.

Selain itu, lanjut dia, di dalam pesawat menggunakan teknologi "High Efficiency Particulate Air" (HEPA) yang bisa mematikan virus hingga 99,99 persen dengan sirkulasi udara vertikal.

Irfan mengatakan saat ini orang-orang yang melakukan penerbangan adalah mereka dengan kebutuhan dinas atau bisnis, sementara itu mereka yang ingin terbang masih menunda.

“Mereka yang mau ini yang banyak, kepingin sekali terbang. Mereka yang ingin berwisata, bersosialisasi, bersilaturahmi, ini yang kita dorong dengan terbang bersama Garuda aman dan nyaman,” katanya.

Irfan menambahkan angkutan udara kalah bersaing dengan angkutan darat karena masyarakat tidak perlu mengantongi hasil rapid test negatif, sementara untuk naik pesawat hal itu merupakan syarat wajib.

“Kondisi rapid test ini kita kalah bersiang dengan jalan darat. Kalau darat, naik mobil langsung saja pulang ke Solo dan langsung masuk ke rumah,” katanya.

Dia menyebutkan penurunan trafik penumpang pada Mei lalu mencapai 90 persen.

400 Karyawan Pensiun Dini

Irfan sebelumnya juga mengatakan berkurangnya pendapatan membuat manajamen Garuda Indonesia memberikan tawaran pensiun dini kepada para karyawannya.

Langkah tersebut dilakukan agar perusahaan bisa bertahan di tengah pandemi Covid-19.

Karyawan yang telah menerima tawaran program pensiun dini karyawan Garuda mencapai 400 orang.

"Mendekati 400 karyawan (mengajukan pensiun dini). Secara sukarela," kata Irfan saat rapat dengan Komisi VI DPR RI, Selasa (14/7/2020).

Irfan menjelaskan, karyawan yang bersedia untuk pensiun dini akan diberikan haknya sesuai aturan yang sudah ditetapkan perusahaan layaknya orang pensiun.

"Benefitnya banyak banget lah itu ada di aturan perusahaan macam-macam kita compile semua
peraturan kalau orang pensiun terus kita kasih tambahan. Keuntungan dapat semua, terus dia baru umur 51 tahun punya aktivitas di luar yang mungkin produktif, ada opportunity kenapa enggak (pensiun dini)," ucapnya.

Karena harus memenuhi kewajiban karyawan yang pensiun dini, Irfan mengakui kebijakan ini memang memberatkan perusahaan.

Tetapi dalam jangka panjang diyakini akan menguntungkan.

"Jadi memang akan berat di jangka pendek karena kita mesti memenuhi kewajiban. Tapi ini akan meringankan di jangka panjang buat perusahaan dan yang penting kita memastikan bahwa karyawan mengambil tawaran (pensiun dini) itu adalah mereka merasakan keuntungannya," imbuhnya.

Irfan mengatakan, tawaran pensiun dini itu memang telah disampaikan kepada para karyawan perusahaan penerbangan plat merah itu atas alasan mengurangi beban keuangan.

Selain menawarkan program pensiun dini, perseroan juga memutuskan untuk memangkas gaji karyawan secara proporsional dalam rangka efisiensi.

Pemangkasan gaji mulai dari 10 persen untuk level staf hingga 50 persen untuk direksi.

Namun, sifatnya hanya penundaan sehingga perusahaan akan mengembalikan akumulasi pemotongan gaji saat kondisi keuangan sudah kembali pulih.

Upaya lainnya, kata Irfan, perseroan juga telah melakukan percepatan kontrak pilot yang statusnya masih status perjanjian kerja waktu tertentu (PKWT).

"Kita juga melakukan percepatan kontrak terhadap penerbang atau pilot kontrak PKWT kita selesaikan secara lebih dini, kita bayarkan hak-haknya ini sekitar 135 orang," ucap Irfan.

Perseroan juga telah menawarkan para pegawainya untuk cuti di luar tanggungan atau unpaid leave terlebih dahulu, selama pandemi Covid-19.

"Kami ingin sampaikan bahwa sekitar 800 pegawai PKWT kita tawarkan dan mereka menerima dengan status unpaid leave," tukas Irfan.

Irfan menjelaskan, upaya efisiensi dari sisi Sumber Daya Manusia (SDM) itu terpaksa ditempuh lantaran perseroan mengalami selisih (gap) tajam antara biaya operasional dengan pendapatan.

Pendapatan turun tajam hingga 90 persen akibat pandemi covid-19.

Namun, perseroan hanya mampu memangkas biaya operasional di level 60 persen.

"Sehingga terjadi gap yang cukup signifikan antara pendapatan dan biaya," katanya.

Soal sepinya maskapai penerbangan di masa pandemi Covid-19, Irfan memberi contoh salah satunya penerbangan ke Denpasar yang hanya diisi 15 penumpang dalam sekali terbang.

Irfan juga menyinggung mengenai ancaman kebangkrutan yang bakal dialami maskapai penerbangan tanah air.

Sejak virus corona merebak, okupansi pesawat tidak pernah melebihi 10 persen dari kapasitas.

"Bapak Ibu mengetahui juga banyak maskapai yang menyatakan kebangkrutan. Jadi enggak usah terlalu kaget dalam waktu dekat kalau ada maskapai di Indonesia yang tidak tahan lagi," ujar Irfan.( ANTARA / tribun
network/sen/dod)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Update Jadwal & Skor
Grup B - Matchday 1
Sabtu, 13 Juni 2026 | 02:00 WIB
Canada
Kanada
1 - 1
Bosnia
Bosnia
Grup D - Matchday 1
Sabtu, 13 Juni 2026 | 08:00 WIB
United States
Amerika Serikat
4 - 1
Paraguay
Paraguay
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga
Memuat video…
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved