Tertarik dengan Keris Ratusan Tahun Warisan Opa Ashanty, Azriel Hermansyah Justru Kena Semprot
Azriel Hermansyah menunjukkan ketertarikannya pada salah satu keris milik pamannya, Gangsar.Bahkan Azriel meminta izin untuk merawatnya di rumah.
Penulis: Meika Pestaria Tumanggor | Editor: Eviera Paramita Sandi
TRIBUN-BALI.COM - Azriel Hermansyah menunjukkan ketertarikannya pada salah satu keris milik pamannya, Gangsar.
Bahkan Azriel meminta izin untuk merawatnya di rumah.
Momen ini dibagikan dalam video yang diunggah di channel YouTube The Hermansyah A6 berjudul ASHANTY NGAMUK!! AZRIEL NEKAT BUKA dan BAWA PULANG KERIS WARISAN LELUHUR.
Saat melihat-lihat koleksi keris milik pamannya, dan tertarik dengan salah satu keris milik Opa Ashanty Azriel menanyakan bagaimana keris tersebut bisa berada di tangan pamannya, Gangsar.
Lantas Gangsar menyebutkan, mendiang Abdullah Sidik berpesan agar keris tersebut diberikan kepada cucu pertamanya yakni dirinya.
Sambil bercerita tentang keris tersebut, Gangsar juga meminta Azriel untuk menganggap keris tersebut sebagai warisan budaya, dan tidak melihat dari sisi mistis.
Setelah mendengar penjelasan pamannya, Azriel meminta izin untuk membawa keris dari Pos Ashanty.
"Berarti ini gimana om?," tanya Azriel.
Saat meminta izin untuk membawa pulang kerisnya, Gangsar sempat berat untuk melepas.
Ia menyebut merawat keris tersebut susah.
"Wah, ini susah. Ini kan kalau warisan dari keluarga merawatnya juga susah. Bukan merawat secara ini ya, mistis. Karena ini besi umurnya sudah ratusan tahun," kata Gangsar.
Azriel lantas menanyakan bagaimana cara membersihkan keris tersebut.
"Enggak setiap hari. Karena ini gading jadi memang harus dibersihin terus," kata Gangsar.
Azriel lantas meminta izin untuk membawa keris tersebut untuk ditunjukkan terlebih dahulu kepada Ashanty.
"Apa ini aku bawa dulu om ke hotel. Kasih tahu Bunda dulu," kata Azriel.
"Waduh. Ya udah kalau mau kasih lihat Bunda dulu. Kalau kamu bisa ngerawat ya nggak apa-apa," kata Gangsar.
"Nanti kalau dibawa tapi jangan dibuka. Ini senjata tajam berbahaya," pesan Gangsar.
Setibanya di hotel Azriel langsung menunjukkan keris yang dibawanya kepada Ashanty.
"Bun, aku bawa sesuatu dari rumah Om Gangsar. Ini keris punya eyang Abdullah Sidik waktu jadi Duta Besar
Anang yang juga melihat keris tersebut juga tampak terkesima.
"Terus ngapain kamu bawa-bawa," tanya Ashanty.
"Keren banget Ziel," kata Anang.
"Mau aku pegang," jawab Azriel
"Emang boleh sama Om Gangsar?," tanya Ashanty lagi sambil memegang keris tersebut.
Saat memegang keris tersebut Ashanty terlihat seperti akan membukanya lantas Azriel mengingat untuk tidak membukanya karena keris tersebut tajam.
"Jangan-jangan," kata Azriel melarang Ashanty.
Anang pun turut mencegah dengan mengatakan tidak sembarang membuka ketua tersebut.
"Pasti nggak sembarangan bukanya," kata Anang.
Ashanty yang mengetahui hal tersebut langsung menunjukkan ketakutannya.
"Ya makanya jangan Ziel, takut ah," kata Ashanty.
"Lho kok takut," balas Azriel.
"Ini buat apa?," tanya Ashanty lagi.
Anang Hermansyah yang penasaran dengan keris tersebut lantas memintanya dari Ashanty untuk melihat detail keris tersebut.
"Keren ini," kata Anang.
"Emang boleh sama Om Gangsar bawa ini?," tanya Ashanty lagi.
"Katanya tergantung Bunda. Kalau Bunda boleh," jawab Azriel.
Anang Hermansyah tampak mendukung Azriel dan meminta Ashanty untuk mengizinkan Azriel membawa keris tersebut.
"Ya izininlah Bunda," kata Anang.
Namun Ashanty tidak mengizinkan Azriel membawa keris tersebut.
"Enggaklah, ngeri bawa-bawa beginian," kata Ashanty.
Ashanty yang mengetahui bahwa keris tersebut tidak boleh dibuka sembarangan lantas menyuruh Azriel untuk mengembalikan keris tersebut.
"Enggak enggak, balikin ah," kata Ashanty.
"Ini peninggalan Ziel, kamu tu masih kecil belum bisa megang ginian, nanti dari pada ilang, dipake nggak sengaja, nanti ada teman kamu buka-buka, atau jatuh sama embak di rumah," tambah Ashanty memberikan penjelasan.
"Ya tarok di atas, ditempeli," kata Anang tampak mendukung Azriel membawa keris tersebut pulang.
"Jangan yang, bahaya. Ziel pasti belum bisalah. Ini pasti ada sejarahnya," kata Ashanty.
"Jadi bolehnya kapan," tanya Azriel.
"Emang Om Gangsar boleh kasih kamu," tanya Ashanty.
"Katanya tergantung Bunda. Kalau Bunda boleh, oke," jawab Azriel.
"Kemarin pas ke rumah dia bilangnya kalau kamu mau kawin boleh dipinjam pakai ini," kata Ashanty.
"Jadi kalau aku mau kawin ya," kata Azriel.
"Ya belum, kawinnya masih lama kali," kata Ashanty.
"Dipercepat aja," kata Azriel.
Mendengar perkataan Azriel tersebut, Anang dan Ashanty tersenyum.
"Orangnya mana," ledek Anang.
Ashanty lantas menunjukkan keris tersebut kepada Aurel Hermansyah.
"Ini keren banget," kata Aurel.
"Cuma ini nilai sejarah dan budayanya tinggi, jadi Azriel itu dari pada pegang yang aneh-aneh, pistol," kata Anang.
"Jiel tu masih muda, jangan main gini-ginian dulu. Ini punya opa dulu kan. Nanti dipakai pas dia kawin aja. Atau kalau kakak nikah pakai adat Jawa ini boleh dipakai. Karena ini ada nilai historisnya " kata Ashanty.
"Udah ini balikin aja," kata Ashanty.
"Kenapa dibikinin? Ini kalau sudah keluar nggak boleh masuk. Kalau sudah masuk nggak boleh keluar," kata Anang.
"Mobil nggak boleh, ini nggak boleh," tambah Anang.
"Yang, udahlah yang, jangan cari masalah," kata Bunda.
"Ya udah balikin-balikin. Ziel balikin ke Om Gangsar," ucap Ashanty. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/azriel-meminta-izin-ashanty-untuk-membawa-pulang-keris-milik-pamannya.jpg)