Breaking News:

Sri Artini Diputus Bebas, Pihak Wirantara Sebut Ada Keanehan

Terdakwa tetap menguasai asli sertifikat tanah sampai disita oleh penyidik dari tangannya, meskipun secara perdata sudah terbukti tidak ada hutang

ist
Sidang virtual dengan terdakwa Ketua KSP Sedana Yoga, 

TRIBUN-BALI.COM, NEGARA- Terdakwa kasus dugaan dan penggelapan sertifikat, Sri Artini (43), diputus bebas atau tidak bersalah.

Vonis inkracht atau berkekuatan hukum tetap ini dibaca oleh Ketua Majelis Hakim Benny Octavianus di Pengadilan Negeri Negara, Selasa (18/8/2020).

Majelis hakim menganggap bahwa apa yang didakwakan JPU dalam dua pasal yakni 378 KUHP tentang penipuan dan 372 penggelapan tidak terbukti secara hukum.

Oleh karena itu, pil pahit pun harus diterima korban I Made Wirantara yang sebelumnya meminta sertifikatnya dikembalikan.

Terkait putusan itu, Penasihat hukum Wirantara, Yulius Benyamin Seran sangat kecewa.

Ia menjelaskan, fakta persidangan jelas bahwa terdakwa melakukan rekayasa hutang dengan cara merayu korban agar mau menandatangani surat pengakuan hutang dan perjanjian kredit pada saat korban berada di Rutan Klas II B Negara, surat-surat mana yang isinya tidak benar alias fiktif.

Di dalam surat perjanjian kredit itulah direkayasa seolah-olah korban menyerahkan sertifikat tanah sebagai jaminan hutang padahal hal itu tidak pernah terjadi.

Lalu, dengan dasar surat fiktif tersebut terdakwa menggugat ke pengadilan namun gugatannya ditolak, bahkan sudah ada putusan Mahkamah Agung pada tingkat PK yang dimenangkan oleh korban.

“Faktanya, terdakwa tetap menguasai asli sertifikat tanah sampai disita oleh penyidik dari tangannya, meskipun secara perdata sudah terbukti tidak ada hutang. Bagaimana bisa Majelis Hakim membebaskan terdakwa? Menurut kami ini sebuah keanehan, namun kami tetap menghormati kebebasan hakim dalam memutus kasus ini,” tegas Benyamin.

Dalam sidang sendiri, Hakim Benny menilai dalam amar putusannya, melihat bahwa JPU tidak dapat menghadirkan bukti-bukti yang cukup kuat.

Dimana adanya transaksi di dalam LP, kemudian unsur bujuk rayu dan penipuan yang dilakukan oleh terdakwa. Majelis hakim menilai, bahwa sangkaan pasal itu kemudian gugur di mata hukum.

Sehingga, Hakim pun memutus bebas kepada Ketua Koperasi KSP Sedana Yoga yang saat ini menjalani masa penahanan di Rutan Kelas II B Negara.

"Dengan tidak terbuktinya unsur pasal 372 dan 378 yang disangkakan oleh JPU, maka memutus saudara terdakwa Sri Artini dengan putusan tidak bersalah atau bebas," ucap Benny sembari menggedokan palu tiga kali.

Atas hal ini, Kasipidum Kejari Negara, I Gede Gatot Hariawan pun mengaku, masih memiliki waktu tujuh hari untuk melakukan upaya hukum kasasi.

"Kami pikir-pikir. Dan masih ada waktu tujuh hari untuk upaya hukum (kasasi)," tegasnya.(*)

Penulis: I Made Ardhiangga Ismayana
Editor: Aloisius H Manggol
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved