Corona di Bali
Analisis Guru Besar Fakultas Pertanian Unud, Prof Windia: Hasil Kebijakan Mendewakan Pariwisata
Pada saat itu sudah ada kekhawatiran yang mendalam terhadap situasi perekonomian Bali yang sangat pincang dibandingkan dengan 30 tahun sebelumnya.
Penulis: I Wayan Sui Suadnyana | Editor: Ady Sucipto
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR -- Pada rapat Koordinasi Tingkat Menteri (RKTM) di Nusa Dua, Jumat lalu, Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengatakan Bali harus segera melakukan transformasi pembangunan ekonomi dan tidak terus bergantungan sektor pariwisata.
Pernyataan yang dikeluarkan oleh Airlangga itu seharusnya sudah dilakukan di Bali 20 tahun yang lalu.
Pada saat itu sudah ada kekhawatiran yang mendalam terhadap situasi perekonomian Bali yang sangat pincang dibandingkan dengan 30 tahun sebelumnya.
Sektor tersier (pariwisata) sudah terlalu dominan, dan sektor primer (pertanian) sudah sangat terpuruk.
Tetapi yang namanya manusia, selalu ingin enaknya saja.
Gubernur berganti gubernur, bupati berganti bupati, tetapi tidak ada perubahan kebijakan pembangunan.
• Sektor Pariwisata di Bali Dihantam Covid-19, Badung Rasionalisasi Target PAD 2020 Jadi Rp 2,7 T
• Guru Besar FP Unud: Seharusnya Bali Kurangi Ketergantungan Pariwisata Sejak 20 Tahun Lalu
Saat ini semuanya sudah terlena dengan zona nyaman yang menggiurkan, glamor, gampang memetik pendapatan asli daerah (PAD) dan kemudian terlena pada angka-angka pertumbuhan ekonomi.
Padahal, keberadaan sektor pariwisata di Bali sudah beberapa kali "digoda".
Di antaranya oleh perang teluk, perang Iran-Irak, resesi dunia, isu flu burung, isu kolera, penyakit gila anjing, dan sebagainya.
Tetapi tetap saja kita tidak bergeming.
Tampaknya, hanya virus Corona yang mampu mengubah otak dan kesadaran manusia.
Data yang pernah saya catat, sektor sekunder (industri pengolahan) di Bali sangat padat karya.
Pertumbuhannya padahal hanya 2,5 persen, tetapi dapat menyerap peningkatan tenaga kerja sebesar 13 persen.
Pada saat yang sama, situasi ini berbanding terbalik dengan sektor tersier (pariwisata) bertumbuh mencapai 37 persen, tetapi serapan tenaga kerjanya meningkat hanya 15 persen.
Sementara itu, sektor primer (pertanian), yang pertumbuhannya turun 39 persen, tetapi tenaga kerja yang diserap hanya menurun 28 persen.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/prof-wayan-windia-saat-ditemui-di-denpasar.jpg)