Corona di Indonesia

KSAD Jenderal Andika Perkasa Nyatakan Tekadnya untuk Menyempurnakan Obat Covid-19

Jenderal Andika Perkasa mengaku siap memperbaiki obat COVID-19 hasil kerja sama Unair-BIN-TNI AD itu jika BPOM menemukan kekurangan.

Editor: Wema Satya Dinata
Kolase Kompas dan Shutterstock
KSAD Jenderal Andika Perkasa (kiri), ilustrasi obat COVID-19 (kanan) 

TRIBUN-BALI.COM - Tekad Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) Jenderal Andika Perkasa untuk menyempurnakan temuan obat COVID-19 tampaknya tak setengah-setengah.

Jenderal Andika Perkasa mengaku siap memperbaiki obat COVID-19 hasil kerja sama Unair-BIN-TNI AD itu jika BPOM menemukan kekurangan.

Ketika BPOM memberikan hasil inspeksi pertama yang menyebutkan obat COVID-19 itu belum memenuhi uji klinis, Jenderal Andika Perkasa langsung memerintahkan untuk memperbaikinya.

Jenderal Andika Perkasa menyebut semua pihak yang terlibat dalam pengembangan obat COVID-19 ini hanya ingin memberikan yang terbaik.

Ada Proyek Pembuatan Drainase di Jalan By Pass Ngurah Rai Denpasar, 100 Pohon Perindang Ditebang

Hari Ini, Kuota Penukaran Uang Rupiah Rp 75.000 di BI Naik 2 Kali Lipat

Performa Fabio Quartararo Menurun, Begini Analisa Valentino Rossi

"Uji klinis sudah diselesaikan dan pada hari kami serahkan itu, langsung diserahkan hasilnya maupun CAPA (Corrective and Preventive Action). Dari situlah BPOM harus me-view dan melihat kembali.

Semangatnya adalah masing-masing ingin memberikan yang terbaik," ujar Jenderal Andika Perkasa usai bertemu dengan Wakil Gubernur DIY dan sejumlah pejabat Fokominda, Rabu (26/8/2020).

Jenderal Andika Perkasa juga berjanji akan secepatnya melakukan perbaikan jika ditemukan kekurangan dari BPOM.

"Jadi ketika ditemukan kekurangan dari BPOM kita pun akan siap untuk memperbaiki. Dokumen dari CAPA itu sudah dikirim ulang Senin kemarin dan kami tinggal menunggu sampai dengan hasilnya selesai. Tapi kita pasti akan melakukan yang terbaik dengan secepat-cepatnya," kata Jenderal Andika Perkasa.

Sebelumnya, tim peneliti Universitas Airlangga (Unair) Surabaya telah mengevaluasi dan menyempurnakan uji klinis kombinasi obat Covid-19 gagasan mereka.

Hal ini dilakukan setelah pertemuan pihak Unair dengan BPOM.

Rektor Unair, Prof Moh Nasih mengatakan, sebelumnya BPOM kembali mengundang Tim Peneliti dari Unair, BIN dan TNI AD untuk memberikan beberapa hal yang perlu dipersiapkan kembali agar temuan kombinasi obat Covid-19 bisa segera digunakan.

"Sebagaimana masukan dari BPOM. Untuk selanjutnya, tim peneliti juga menunggu dan akan mempelajari semua masukan tertulis dari BPOM," ujar Prof Moh Nasih, Kamis (20/8/2020).

Termasuk, mengambil langkah cepat untuk segera menyempurnakan uji klinis sesuai masukan BPOM.

Dalam kesempatan yang sama, Prof Moh Nasih juga menegaskan bahwa para ilmuwan yang ada dalam tim sangat terbuka untuk menerima masukan.

Nelayan Hilang Ditemukan Selamat, Andi Diselamatkan Kapal Ikan di Sekitar Perairan Uluwatu

Legenda UFC ini Sebut Khabib Nurmagomedov Petarung Terbaik di Muka Bumi

Bukan Rossi, Marc Marquez Sebut Satu Nama Juara MotoGP 2020

"Harapan utamanya agar hasil dari kombinasi obat tersebut segera bisa membantu mereka para pasien yang saat ini sangat membutuhkan penanganan," ujarnya.

Pasalnya, niatan tim peneliti didasari rasa kemanusiaan untuk menolong pasien Covid-19 yang sangat membutuhkan perawatan dan pengobatan.

Tentunya, ikhtiar yang dilakukan bersama dengan banyak pihak tersebut bisa memberi jalan keluar bagi bangsa Indonesia untuk bersama-sama menghadapi pandemi virus Covid-19.

China Racik Obat COVID-19 dan Berhasil Diuji ke Hewan

Tak cuma Indonesia, negara-negara di dunia kini memang tengah berlomba untuk mengembangkan obat COVID-19.

China sedang melakukan uji racikan obat COVID-19 yang diklaim bisa lebih cepat memulihkan dan meningkatkan kekebalan tubuh pasien dibandingkan vaksin.

Racikan obat tersebut diyakini cukup kuat untuk menghentikan penyebaran virus corona. Obat ini sedang diuji oleh para ilmuwan di Universitas Peking, China.

Para peneliti menerangkan, obat ini tidak hanya dapat mempersingkat waktu pemulihan pasien, tapi juga bisa menumbuhkan kekebalan jangka pendek.

Sunney Xie direktur pusat Inovasi Genomik Tingkat Lanjut di Beijing mengatakan kepada AFP, bahwa obat ini telah berhasil diuji pada hewan.

Obat ini menggunakan antibodi penawar, yang diproduksi oleh sistem kekebalan tubuh manusia untuk mencegah virus menginfeksi sel-sel tubuh.

Tim Xie mengisolasi antibodi tersebut dari 60 pasien yang sembuh dari Covid-19.

Sebuah studi pada penelitian tim yang diterbitkan pada Minggu (17/5/2020) di jurnal ilmiah Cell menunjukkan, penggunaan antibodi memberikan potensi "penyembuhan" untuk penyakit dan mempersingkat waktu pemulihan.

Xie mengatakan obat itu harus siap digunakan akhir tahun ini, dan pada waktunya saat terjadi potensi wabah di musim dingin.

"Perencanaan untuk uji klinis sedang dilakukan," kata Xie sembari menambahkan uji klinis akan dilakukan di Australia dan negara-negara lain dikarenakan kasus-kasus virus corona telah berkurang di China.

"Harapannya antibodi yang dinetralkan ini bisa menjadi obat khusus yang akan menghentikan pandemi," ungkapnya.

China sudah memiliki 5 calon vaksin Covid-19 yang sedang diuji coba ke manusia, kata seorang pejabat kesehatan pekan lalu.

Namun Badan Kesehatan Dunia telah memperingatkan bahwa pengembangan vaksin bisa memakan waktu 12-18 bulan.

Menggunakan antibodi dalam perawatan obat bukan hal baru, dan telah berhasil dilakukan untuk mengobati beberapa virus lain seperti HIV, Ebola, dan MERS.

Xie mengklaim para penelitinya telah memulai observasi sejak awal ketika wabah virus corona masih di China dan belum menyebar ke negara lain.

Obat Ebola Remdesivir juga telah dipertimbangkan sebagai obat untuk Covid-19.

Uji klinis di Amerika Serikat (AS) menunjukkan obat itu memperpendek waktu pemulihan pada sepertiga pasien, tetapi tidak ada perbedaan signifikan dalam tingkat kematian.

Studi menunjukkan bahwa jika antibodi penetralisir disuntikkan sebelum tikus terinfeksi virus, tikus tersebut tetap bebas dari infeksi dan tidak ada virus yang terdeteksi.

Organics Ini dapat menawarkan perlindungan sementara bagi pekerja medis selama beberapa minggu, dan Xie berharap dapat memperpanjangnya hingga beberapa bulan.

Lebih dari 100 vaksin Covid-19 sedang dikerjakan di seluruh dunia, tetapi karena proses pengerjaan vaksin lebih panjang, Xie berharap obat baru ini bisa menjadi cara yang lebih cepat dan efisien untuk menghentikan pandemi virus corona.

"Kami akan dapat menghentikan pandemi dengan obat yang efektif, bahkan tanpa vaksin," imbuh Xie.(*)

Artikel ini telah tayang di surya.co.id dengan judul Tekad KSAD Jenderal Andika Perkasa Menyempurkan Obat Covid-19, Inspeksi Pertama Belum Memenuhi,

Sumber: Surya
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved