Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Formula 1

Lewis Hamilton Kecewa Kehilangan Senjata Andalan

Berbagai mode mesin yang berbeda itu bisa digunakan untuk memaksimalkan performa mesin dalam

Editor: DionDBPutra
Kompas.com/AFP PHOTO/OLIVIER MORIN
Pebalap Mercedes asal Inggris, Lewis Hamilton 

TRIBUN-BALI.COM - Pebalap tim Mercedes Lewis Hamilton mengungkapkan kekecewaannya atas regulasi baru pelarangan setelan mode mesin berbeda yang mulai berlaku di Grand Prix Italia akhir pekan ini.

Pasalnya, regulasi baru itu membuat ia kehilangan senjata andalannya, sebab mengatur mode mesin merupakan salah satu kekuatannya dalam menjalani balapan selama ini.

Berbagai mode mesin yang berbeda itu bisa digunakan untuk memaksimalkan performa mesin dalam rentang waktu yang singkat untuk agar mobil lebih cepat atau sebaliknya untuk menjaga reliabilitas dan umur mesin.

Menyusul arahan teknis dari FIA, setiap tim kini akan diharuskan menggunakan satu mode mesin saja baik di kualifikasi dan balapan.

Sementara Hamilton mengatakan dirinya bakal memiliki pekerjaan yang lebih sedikit ketika di kokpit mobil, dia juga menyayangkan kehilangan kemampuan untuk memilih berbagai setelan mesin ketika balapan.

3 Zodiak Beruntung September 2020: Capricorn, Waktunya Melebarkan Sayap & Meraih yang Kamu Inginkan!

Ini 5 Bahaya Minum Air Es untuk Tubuh, Apa Saja Itu ?

Masih Terapkan Sistem Bergilir, Distribusi Air PDAM Belum Merata di Kecamatan Dawan Klungkung

"Aku secara pribadi suka jika mampu mengendalikan ketika kalian melihat mesin bertenaga dan kapan ketika kalian menghematnya," kata Hamilton seperti dikutip laman resmi Formula 1, Kamis (3/9/2020).

"Hal itu telah menjadi kekuatanku dalam hal menjaga daya tempuh mesin sepanjang tahun dan membuat mesin itu bertahan lebih lama," ujarnya.

Lewis Hamilton mencoba tetap berpikiran positif di tengah spekulasi yang menyebutkan larangan itu untuk melambankan mobil Mercedes yang terlalu dominan tahun ini.

"Aku rasa itu adalah pujian pada akhirnya," kata Hamilton.

"Semoga orang-orang di pabrikan mengambilnya sebagai pujian atas pekerjaan luar biasa yang telah mereka lakukan dengan mesin ini.

"Tapi kami akan terus bekerja dan berbenah dengan situasi yang kami alami dan akan menarik melihat bagaimana itu bekerja di akhir pekan nanti."

Mercedes tampil superior musim ini dengan merebut pole position di tujuh balapan yang telah digelar.

Kendati ada larangan tersebut, Mercedes masih menjadi tim favorit untuk meraih posisi start terdepan di Monza sejak terakhir kali pada 2017 silam, sedangkan Ferrari start dari pole di balapan kandang mereka dalam dua musim terakhir.

Rekan satu tim Hamilton, Valtteri Bottas mengungkapkan larangan tersebut bakal berdampak kepada performa tim namun perbedaannya akan sedikit.

"Aku rasa di kualifikasi, tentunya, akan ada perbedaan sedikit, tidak besar," kata sang pebalap Finlandia.

"Tapi di balapan, sepertinya kami secara umum akan memiliki mobil yang lebih baik dengan mode yang layak di sepanjang balapan, jadi aku rasa tim telah benar-benar memaksimalkannya akhir pekan ini.

"Tapi ini tidak akan terlalu banyak berubah, seperti yang aku bilang tadi. Hanya berkurang satu strategi, jadi semuanya sedikit lebih setara aku kira."

Namun, pebalap Williams George Russell berpendapat jika larangan mode mesin itu justru akan membuat kecewa orang-orang yang berharap ingin Mercedes lebih lamban.

"Itu bahkan akan lebih membantu mereka di balapan, jadi keseluruhan ide untuk mencoba melambankan mereka sebenarnya menuju arah yang benar-benar sebaliknya," kata Russell. "Itu hanya akan meningkatkan performa mereka."

Sainz Tak Sesali Keputusannya

Pebalap asal Spanyol Carlos Sainz pada Kamis mengatakan ia tak menyesal pindah dari McLaren ke Ferrari tahun depan setelah melihat tim asal Italia itu kewalahan dan tampil mengecewakan musim ini.

Pekan lalu Ferrari mendapati hasil finis terburuknya musim ini ketika Sebastian Vettel dan Charles Leclerc menyelesaikan Grand Prix Belgia di P13 dan P14, di trek di mana Leclerc menang tahun lalu.

Jauh-jauh hari sebelum musim balapan yang tertunda pandemi itu restart, Ferrari mengakui jika paket mobil mereka tahun ini mengecewakan dan tidak secepat mobil tim-tim rival.

Managing director Formula 1 Ross Brawn menulis dalam suatu kolom di F1 pekan ini jika Sainz pasti cemas akan prospeknya di Ferrari setelah melihat hasil di Belgia pekan lalu. Namun pebalap berusia 26 tahun itu membantah hal tersebut.

"Aku sangat nyaman dengan keputusan yang telah aku ambil," kata Sainz di sesi jumpa pers virtual jelang Grand Prix Italia seperti dikutip Reuters.

"Aku 100 persen yakin dengan orang-orang Ferrari dan apa yang bisa mereka lakukan di masa depan.

"Kita ingat tahun lalu jika mereka mampu meraih tujuh pole position jadi ini adalah tim yang aku kira tahu bagaimana membuat mobil yang sangat bagus."

Sainz, yang bakal menggantikan Sebastian Vettel itu, mengatakan hal yang paling membuat dia cemas adalah gagal meraih poin di balapan karena disebabkan bukan oleh kesalahannya dia sendiri, seperti yang dia alami di Belgia ketika mobil McLarennya mengalami masalah power unit dan gagal start.

Sainz saat ini terpaut 22 poin dari rekan satu timnya, Lando Norris setelah tujuh balapan, namun masih berada dua peringkat di atas Vettel di klasemen.

"Aku sangat yakin, aku siap pergi ke Ferrari tahun depan," kata Sainz.

"Aku rasa pergi ke Ferrari adalah suatu pengalaman yang unik dan tempat yang spesial bagi seorang pebalap Formula 1... Beri aku pilihan itu 100 kali lagi, aku akan selalu bilang iya."

Sumber: antaranews.com

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved