Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

44,9 Juta Orang Indonesia Merasa Tak Mungkin Terpapar Covid-19, Doni Monardo Buka Suara

44,9 Juta Orang Indonesia Merasa Tak Mungkin Terpapar Covid-19, Doni Monardo Buka Suara

ANTARA FOTO/Nova Wahyudi/nz (NOVA WAHYUDI
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Doni Monardo (kanan) memberikan keterangan pers di Graha BNPB, Jakarta, Jumat (27/3/2020). Untuk menangani penyebaran virus COVID-19, Kantor Staf Presiden menyerahkan bantuan masker dan sarung tangan masing-masing sebanyak 1 juta buah yang diserahkan kepada Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 BNPB. 

TRIBUN-BALI.COM, JAKARTA – Survei Badan Pusat Statistik (BPS) tanggal 14 – 21 September yang lalu, masih terdapat 17% dari warga negara Indonesia yang merasa tidak mungkin dan sangat tidak mungkin terpapar Covid-19.

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Doni Monardo mengatakan 17% dari total penduduk Indonesia yang mencapai 270 juta penduduk, berarti setara dengan sekitar 44,9 juta orang.

“Berdasarkan kelompok umur baik usia muda maupun yang diatas 60 tahun itu sama, tidak terlalu jauh meleset, dari aspek pendidikannya juga tidak terlalu berbeda, tetapi memang dilihat dari kelompok umur mereka yang usianya sudah relatif tua itu relatif lebih rendah dibandingkan yang muda,” kata Doni di Jakarta, Jumat (2/10/2020).

Doni mengingatkan fakta di lapangan sudah ada jutaan korban jiwa akibat COVID-19 secara global.

Bahkan di Indonesia sendiri jumlah warga yang terpapar Covid-19 sudah mencapai 10 ribu orang.

"Korban jiwa di tingkat global telah mencapai lebih dari 1 juta orang, yang terpapar lebih dari 33 juta orang. Di tanah air kita yang sudah terpapar sudah lebih dari 280 ribu orang, dan yang wafat itu mencapai 10 ribu orang, suatu angka yang sangat besar," tuturnya.

Menurutnya hal yang yang membuat masyarakat menjadi tidak patuh, tertinggi pertama karena tidak adanya sanksi.

Doni mengatakan hasil survei itu menjadi referensi bagi pemerintah untuk menerapkan sanksi bagi pelanggar protokol covid-19.

“Masyarakat masih berharap adanya sanksi bagi mereka yang melanggar protokol kesehatan, kemudian ada juga di sini adalah suri tauladan, aparat atau pemimpin tidak memberi contoh,” imbuhnya.

Selain kepatuhan terhadap protokol kesehatan, menurutnya peran dari media sangat penting dalam meningkatkan kepatuhan dan disiplin masyarakat akan protokol kesehatan Covid-19.

Ketua Satgas Covid-19 itu mengatakan 63% kepatuhan dan disiplin masyarakat juga dipengaruhi peranan dari media.

“Peran media masih sangat besar, terutama media sosial, diikuti oleh televisi dan juga whatsapp,” kata Doni.

Selain itu, pihak yang juga berperan besar dalam meningkatkan kepatuhan dan disiplin protokol kesehatan Covid-19diantaranya antara lain adalah keluarga dan komunitas sebagai garda terdepan.

Disamping itu pelibatan tokoh berpengaruh di masyarakat seperti tokoh agama, tokoh pemuda, tokoh adat, tokoh masyarakat tidak kalah pentingnya menurut Doni bagi terciptanya kepatuhan dan disiplin protokol kesehatan Covid-19.

Pada acara Rapat Analisa dan Evaluasi (Anev) Pelaksanaan Kampanye Pilkada Serentak Tahun 2020 di Kemendagri, Doni menegaskan pelaksanaan Pilkada yang aman dari penularan Covid-19 akan sangat tergantung terhadap protokol kesehatan.

Sumber: Tribunnews
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved