Survei Sebut Masyarakat Tahu Protokol Kesehatan, Namun Penerapannya Kurang
Pengetahuan masyarakat tentang Covid-19 terkategori cukup, tapi dalam implementasinya tidak selalu baik.
TRIBUN-BALI.COM - Pandemi Covid-19 telah mengharuskan masyarakat untuk beradaptasi dengan kebiasaan hidup baru.
Pemerintah pun terus menggencarkan kampanye penerapan perilaku 3M yaitu memakai masker, menjaga jarak hindari kerumunan, dan mencuci tangan pakai sabun di air mengalir.
Ketua Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 Provinsi Jawa Timur, Joni Wahyuhadi mengatakan, pihaknya melakukan survei pengetahuan masyarakat tentang Covid-19.
Dalam survei selama empat bulan di masa pandemi itu menunjukkan pengetahuan masyarakat tentang Covid-19 terkategori cukup, tapi dalam implementasinya tidak selalu baik.
Menurutnya, perubahan perilaku terhadap ketaatan protokol kesehatan, tidak cukup sebatas tahu dan mengerti.
“Maka protokol kesehatan ditegakkan dengan melibatkan polisi dan tentara untuk menggelar operasi yustisi," katanya seperti dimuat covid19.go.id, Sabtu (17/10/2020).
Baca juga: Vaksin Covid-19 Belum Terbukti Halal, Maruf Amin Sebut Boleh Tetap Digunakan Dalam Kondisi Darurat
Baca juga: Update Covid-19: Tujuh Bulan Mengarungi Pandemi, 277.544 Orang Telah Sembuh di Indonesia
Hal tersebut dikatakan Airin dalam peluncuran buku "Pedoman Perubahan Perilaku Penanganan Covid-19” di Graha Badan Nasional Penanggulangan Bencana ( BNPB) Jakarta, Jumat (16/10/2020).
Sementara itu, Wali Kota Tangerang Selatan Airin Rachmi Diany yang juga hadir dalam acara tersebut menyatakan, masyarakat kini telah mengenal prinsip 3M dalam pencegahan Covid-19.
Adapun 3M yakni memakai masker, menjaga jarak menghindari kerumunan, dan mencuci tangan dengan sabun di air mengalir.
"Namun demikian, penerapan pengetahuan tentang 3M dalam kehidupan sehari-hari rupanya masih menjadi pekerjaan rumah untuk dikerjakan bersama," kata Airin Rachmi Diany.
Lebih lanjut, Airin pun mengisahkan pengalamannya tujuh bulan memimpin masyarakat dalam situasi pandemi. Menurutnya, kedisiplinan masyarakat menerapkan protokol kesehatan seharusnya menjadi kebutuhan bukan sekadar kewajiban.
"Kalau sudah jadi kebutuhan, ada atau tidak ada polisi dan tentara, masyarakat tetap pakai masker. Bukan karena ada razia masker baru pakai," kata Airin dalam keterangan tertulis, Sabtu (17/10/2020).
Percaya Tidak Akan Terpapar Covid-19
Sementara itu, di Bali, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), ada sebanyak 20,78 persen masyarakat Bali yang menganggap dirinya tidak mungkin terpapar Covid-19.
"Ya memang ini tantangan kita ya, karena masih cukup banyak masyarakat yang masih merasa begitu sehingga ampah, kadang-kadang ada yang meboye. Nah inilah orang-orang seperti sekian persen itu harus disadarkan," kata Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bali, Ketut Suarjaya, Senin (12/10/2020) lalu.
Bagi Suarjaya, penanggulangan Covid-19 sebenarnya menjadi tanggungjawab seluruh pemangku kepentingan, termasuk masyarakat.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/ayo-pakai-masker-ilustrasi-covid-19.jpg)