Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Corna di Indonesia

Indonesia Pinjam 1,5 Miliar Dolar ke Australia, untuk Tangani Covid-19

Pinjaman dari Australia kepada Indonesia sebesar 1,5 miliar dolar Australia.

Editor: Kander Turnip
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati(KOMPAS.com / ANDRI DONNAL PUTERA) 

Eks direktur pelaksana Bank Dunia itu menambahkan, dirinya siap jika ada yang mau berdebat terkait utang asal sesuai substansi.

"Kalau debatnya sehat, kami tidak masalah, tapi masyarakat kadang membuatnya secara tidak sehat," pungkasnya.

Dalam kesempatan yang sama, Menteri Keuangan Australia Frydenberg menggarisbawahi bahwa Australia berkeyakinan Indonesia dapat menangani pandemi Covid-19 dengan baik.

Kemudian, dapat melakukan pemulihan ekonomi yang cepat dan kuat, antara lain didukung oleh manajemen fiskal yang hati-hati.

“Indonesia dan Australia menghadapi pandemi Covid-19 ini sebagai mitra. Sebagai mitra, kami akan pulih bersama. Dalam semangat kemitraan inilah, Australia dan Indonesia menandatangani pinjaman sebesar 1,5 miliar dolar Australia," ujar Frydenberg.

Menguat

Terpisah, Bank Indonesia (BI) menyatakan, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) perlahan menguat dengan berbagai kebijakan dan stabilisasi yang terus dilakukan.

Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, nilai tukar rupiah sekarang bergerak stabil dan cenderung menguat dibanding awal pandemi corona atau Covid-19.

"Memang kalau dilihat yang paling rendah itu adalah puncaknya di tengah pandemi Covid-19 saat kepanikan global pada 23 Maret 2020, waktu itu rupiah mencatat Rp 16.575 per dolar AS," ujarnya.

Kemudian, Perry menjelaskan, pelan tapi pasti rupiah terus menguat dari sejak Maret hingga November sekira 17,8 persen, meski secara tahun kalender masih melemah 1,2 persen.

"Sejak (Maret) itu menguat secara signifikan sekira 17,8 persen, sehingga kalau kita lihat year to date (tahun kalender), nilai tukar itu melemah sekira 1,2 persen," katanya.

Di sisi lain, cadangan devisa pada Oktober 2020 meningkat jadi 133,7 miliar dolar AS dibanding kuartal II 2020 sebesar 131,7 miliar dolar AS untuk menopang stabilisasi nilai tukar.

Perry memperkirakan defisit transaksi berjalan tahun ini berada di level rendah yakni di bawah 1,5 persen dan tahun depan di kisaran 1,5 persen.

"Di tahun depan itu kurang lebih sekira 1,5 persen, sehingga secara keseluruhan mendukung ketahanan eksternal ekonomi Indonesia," ujarnya.

Perry juga menyebut beberapa indikator premi risiko seperti The Volatility Index (VIX) maupun Credit Default Swap (CDS) menurun, terutama di bulan November 2020 setelah Pemilihan Presiden (Pilpres) di Amerika Serikat (AS).

Sumber: Tribunnews
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved