Semenjak Pandemi, Marasin Jarang Dapat Jualan, Pasar Kodok Tabanan Sepi Pengunjung

Kunjungan Biasanya Ramai Di Akhir Pekan, Semenjak Pandemi, Marasin Jarang Dapat Jualan, Pasar Kodok Tabanan Sepi Pengunjung 

Tribun Bali/I Made Prasetia Aryawan
Foto : Suasana di Pasar Kodok di Desa Dauh Peken, Tabanan, terpantau sepi pengunjung, Jumat (13/11/2020). 

TRIBUN-BALI.COM, TABANAN - Suasana di Pasar Kodok, Desa Dauh Peken, Tabanan, Bali, terlihat sepi pengunjung, Jumat (13/11/2020).

Hanya ada beberapa pengunjung saja yang terlihat, tak seperti sebelumnya yang selalu ramai pengunjung.

Setidaknya sejak dimulainya pandemi Covid-19 ini, para pemburu pakaian ini mengurungkan niatnya.

Sehingga berdampak pada para pedagang setempat.

Baca juga: 4 Zodiak Ini Dikenal Selalu Mengorbankan Perasaannya hingga Lupa Membahagiakan Diri Sendiri

Baca juga: Anang Hermansyah Tanggapi Kabar Atta Halilintar Batal Nikahi Aurel 

Baca juga: 3 Zodiak Ini Dikenal Mandiri, Mereka Menyukai Karier dan Kehidupannya Ketimbang Urusan Asmara

Seorang pedagang, Marasin mengaku sejak bulan April lalu tepatnya kunjungan sudah sangat jauh menurun sekalipun adalah akhir pekan.

Karena biasanya ketika akhir pekan menjelang, para pengunjung yang mayoritas anak muda ini memburu pakaian ke Pasar Kodok Tabanan

Pria paruh baya yang sudah berjualan sejak 2002 silam ini mengungkapkan tahun ini pertama kalinya Pasar Kodok sepi.

Padahal selama 18 tahun ia berjualan, Pasar Kodok selalu ramai pembeli.

"Saya sudah berjualan disini sejak tahun 2002 silam. Jika dulu, pengunjung disini sampai berdesakan ketika masuk ke lapak-lapak pedagang disini," tutur Marasin sembari merapikan dagangannya, Jumat (13/11/2020). 

Dia melanjutkan, kondisi sebelumnya di Pasar Kodok ini tak pernah sepi transaksi jual beli.

Ia mengakui jika dulunya dalam sehari dapat berjualan Rp. 200-500 ribu, namun sejak pandemi ini sangat jauh turun kadang hanya Rp. 50 ribu, bahkan tak ada yang datang. 

"Sekarang sangat jauh, sepi sekali. Kadang dapat jualan hanya 50 ribu, tapi lebih banyak sepi atau gak dapat garus semenjak pandemi ini," katanya. 

Namun, kata dia, ia tak patah semangat dan harus tetap bertahan di kondisi seperti ini.

Sebab, hanya berjualan pakaian ini andalannya untuk kehidupan sehari-harinya.

Selain itu, hasil berjualan juga digunakan untuk membayar sewa tempat.

Dalam setahun ia membayar sewa Rp. 2 Juta karena menyewa dua lokal (kios) yang berukuran sekitar 2x1.5 meter tersebut. 

"Semoga saja akhir tahun ini nanti akan ada berkah, sehingga kondisi kembali normal seperti biasa," harapnya.(*).

Sumber: Tribun Bali
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved