Awas Komplikasi Morning Sickness, Ini Tanda-tandanya
Tanda dan gejala morning sickness antara lain mual, kehilangan nafsu makan, muntah dan kecemasan
Penulis: Noviana Windri | Editor: Putu Dewi Adi Damayanthi
Laporan Wartawan Tribun Bali, Noviana Windri Rahmawati
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Tanda dan gejala morning sickness antara lain mual, kehilangan nafsu makan, muntah, efek prikologis, misal depresi dan kecemasan.
Berbagai gejala ini biasanya muncul sejak awal wanita mengandung dan akan membaik di minggu ke-12 kehamilan dan kondisi ini mungkin akan terus muncul selama kehamilan.
Morning sickness merupakan salah satu tanda kehamilan normal.
Walaupun tidak membahayakan ibu dan janin, morning sickness dapat mempengaruhi aktivitas sehari-hari.
Baca juga: Organda Gianyar Resah, 29 Bus Trans Metro Dewata Akan Masuk Gianyar Pada Akhir Desember 2020
Baca juga: Irjen Pol Fadil Imran Resmi Dilantik Kapolri sebagai Kapolda Metro Hari Ini, Termasuk Kapolda Bali
Baca juga: Pria Bule di Bali Perantara Pembeli Batu Meteor Milik Josua Beri Klarifikasi Soal Harga, Ungkap Ini
Kapan harus berkonsultasi ke dokter?
Dokter spesialis kandungan, dr. Sofani Munzila, Sp.OG menjelaskan, jika mengalami mual dan muntah selama hamil semakin parah atau disertai gejala tertentu maka harus segera konsultasi ke dokter.
Seperti mengalami muntah yang mengandung darah atau berwarna kecoklatan, mengalami penurunan berat badan, tidak dapat makan dan minum sama sekali,
Sakit kepala yang muncul berkali-kali, tubuh terasa sangat lelah, pusing atau terasa ingin pingsan, dan jantung berdebar-bedar.
"Pada kasus berat seperti hyperemesis gravidarium dapat terjadi komplikasi seperti dehidrasi, depresi dan kecemasan ekstrem, malnutrisi pada janin akibat berat badan ibu yang terus menurun, dan gangguan pada organ penting. Termasuk hati, jantung, ginjal, dan otak," paparnya dalam webinar 'How to Deal With Morning Sickness' yang digelar oleh KECC, Kamis (19/11/2020).
Hyperemesis gravidarium merupakan kondisi yang biasanya baru akan membaik di bulan ke-5 kehamilan dan penting segera mendapatkan perawatan agar tak berujung pada komplikasi.
Beberapa faktor risiko hiperemesis gravidarum, antara lain :
1. Hamil pada usia yang sangat muda.
2. Kehamilan pertama.
3. Kelebihan berat badan (obesitas).
4. Memiliki keluarga dekat (misalnya ibu, kakak, atau adik) yang pernah mengidap hiperemesis gravidarum.
5.Mengidap mola hidatidosa (hamil anggur).
6. Mengandung anak perempuan atau anak kembar.
7.Pernah mengalami hiperemesis gravidarum pada kehamilan sebelumnya.
(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/ilustrasi-ibu-hamilgh.jpg)