Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Serba serbi

Siapa Buat Penyakit, Siapa yang Menyembuhkan, Berikut Penjelasan Balian dan Usada Dalam Agama Hindu

Bali pada umumnya, bahkan khususnya di Kota Denpasar masih memiliki budaya pengobatan yang cukup manjur dan dipercayai masyarakat untuk menanggulangi

Tayang:
Shutterstock
ilustrasi pengobatan ayurweda 

Laporan Wartawan Tribun Bali, A A Seri Kusniarti

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR – Bali pada umumnya, bahkan khususnya di Kota Denpasar masih memiliki budaya pengobatan yang cukup manjur dan dipercayai masyarakat untuk menanggulangi penyakit.

Peninggalan budaya ini, hendaknya tetap dipelihara dan dilestarikan, sehingga mampu dipergunakan untuk menunjang pembangunan manusia Indonesia seutuhnya lahir dan batin.

“Dewasa ini pengetahuan orang Bali tentang penyembuhan, masih mempunyai keterkaitan erat dengan aktivitas pelaksanaan Tiga Kerangka Agama yang berhubungan dengan Agama Hindu,” jelas Anak Agung Putu Agung Mediastari, dalam program studi doktor (S3) Ilmu Agama dan Kebudayaan, Program Pascasarjana Universitas Hindu Indonesia, tahun 2020.

Baca juga: Nunas Tamba di Pura Goa Peteng, Tempat Melukat yang Ada di Dasar Goa yang Sangat Gelap

Baca juga: Wisata Religi Melukat di Pura Campuhan Windhu Segara Denpasar, Ada Berbagai Pelinggih dari Nusantara

Baca juga: Masepuh Majegau, Metode Pengobatan Alternatif Medis dan Non Medis ala Desa Bali Aga

Kepada Tribun Bali, Jumat (1/1/2021), dosen UNHI ini menjelaskan usada sebagai sumber pengetahuan pengobatan masyarakat Bali.

Namun hanya sedikit orang yang mau mempelajari secara seksama.

Hal ini disebabkan, bahwa masyarakat Bali mengalami hambatan sosio-psikologis untuk mempelajari lontar (usada dan tutur).

“Karena ada wacana yang ditafsirkan dan ditransformasikan secara keliru, sehingga masyarakat merasa sungkan dan ragu serta takut mempelajari teks lontar. Misalnya wacana aywa wera (pengendalian diri atau agar hati-hati) dalam belajar, hal ini diartikan tidak boleh diberitahu atau dipelajari,” tegasnya. Padahal maknanya tidak sedemikian mentah untuk dipahami.

Kata usada berasal dari kata ausadhi (Bahasa Sansekerta), yang berarti tumbuh-tumbuhan dan mengandung khasiat obat-obatan.

Kata usada ini tidaklah asing bagi masyarakat di Bali, karena kata ini sering dipergunakan dalam percakapan sehari-hari kaitannya dengan mengobati orang sakit.

Sehingga usada adalah ilmu pengobatan tradisional. Menurut Ajaran Agama Hindu di Bali (Siwa Sidhanta), Ida Sang Hyang Widhi atau Bhatara Siwa yang menciptakan semua yang ada di jagad raya ini.

Beliau pula yang mengadakan penyakit dan obat.

Dalam beberapa lontar seperti Usada Ola Sari, Usada Separa, Usada Sari, Usada Cemeng Sari, disebutkan siapa yang membuat penyakit dan siapa yang menyembuhkannya.

“Penyakit itu tunggal dengan obatnya, apabila salah cara mengobati akan menjadi penyakit dan apabila benar cara mengobati akan menjadi sembuh,” jelasnya. Secara umum penyakit ada tiga jenis, yakni penyakit panes (panas), nyem (dingin), dan sebaa (panas-dingin).

Demikian pula tentang obatnya. Ada obat yang berkhasiat anget (hangat), tis (sejuk), dan dumelada (sedang).

Sumber: Tribun Bali
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved