Hati-hati Pertanyakan Keperawanan dan Keperjakaan untuk Bahan Gosip
Lalu apakah bertanya terkait keperawanan atau keperjakaan sudah termasuk ke arah pelecehan seksual?
Penulis: Ni Luh Putu Wahyuni Sari | Editor: Putu Dewi Adi Damayanthi
Laporan Wartawan, Ni Luh Putu Wahyuni Sri Utami
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR – Lalu apakah bertanya terkait keperawanan atau keperjakaan sudah termasuk ke arah pelecehan seksual?
Made Ayu Praditya Larashati, M.Psi selaku Psikolog yang praktek di RS Bhayangkara Denpasar memberikan penjelasan terkait hal tersebut.
Ayu mengatakan tergantung pada konteks bertanya dan pembahasannya.
Seperti yang sudah disampaikan sebelumnya, apabila pembahasan keperawanan ini berkaitan dengan kondisi medis tertentu sehingga perlu diketahui riwayat aktivitas seksual yang pernah dimiliki tentu tidak dapat dikategorikan pelecehan seksual.
Baca juga: Apakah Menanyakan Seseorang Tentang Keperawanan Akan Mempengaruhi Psikologisnya? Ini Penjelasannya
Baca juga: Lelang Keperawanan Demi Covid-19, Selebgram Sarah Kiehl Minta Maaf
Baca juga: Selebgram Sarah Keihl Unggah Tentang Lelang Keperawanan Rp 2 Miliar, Satu Jam Kemudian Video Hilang
"Hal ini dikarenakan, dalam penelitian yang dilakukan oleh Burn pada tahun 2019, ia mengemukakan bahwa pelecehan seksual terjadi ketika seseorang menjadi sasaran komentar-komentar, gerak-gerik atau tindakan yang bersifat seksual yang tidak diinginkan karena gender, cara ia mengekspresikan diri terhadap gender yang dimiliki maupun orientasi seksual yang membuat orang tersebut merasa terganggu, tersinggung, marah, dipermalukan, malu, terintimidasi, tertekan dan ketakutan," katanya, Rabu (6/1/2021).
Ayu juga menambahkan, maka dari itu kita perlu berhati-hati untuk melihat tujuan kita dalam bertanya atau membahas mengenai keperawanan atau keperjakaan dan hal-hal yang bersifat seksual lainnya.
Apabila tujuan kita membahas hal tersebut sebagai bahan pergunjingan, gosip, merendahkan dan aktivitas lainnya yang merugikan orang yang bersangkutan, sehingga ia merasa terganggu, tersinggung, dipermalukan, terintimidasi dan lain-lainnya.
"Nah situasi ini tentu membuat perilaku kita tidak jauh berbeda dengan orang-orang yang melakukan pelecehan seksual lainnya," tandasnya. (*).
Baca juga: TA Tega Setubuhi Anak Kandungnya dengan Modus Sebut Anak Sudah Tak Perawan
Baca juga: Fakta Lengkap Atlet Senam Sea Games Dipulangkan atas Tuduhan Tak Perawan, Ini Wawancaranya
Apakah Menanyakan Seseorang Tentang Keperawanan Akan Mempengaruhi Psikologisnya? Ini Penjelasannya
Keperawanan atau keperjakaan merupakan salah satu bagian dari kehidupan seksual seseorang yang bersifat sangat personal.
Ketika kita membicarakan hal-hal yang sangat personal, tentu kita membutuhkan persetujuan dari orang yang bersangkutan untuk membahas hal tersebut.
Made Ayu Praditya Larashati, M.Psi selaku Psikolog yang praktek di RS Bhayangkara Denpasar berikan penjelasan terkait hal tersebut.
Ayu mengatakan, hal itu tergantung pada apakah orang tersebut nyaman atau tidak dengan pertanyaan tersebut, karena setiap orang memiliki tingkat privasi yang berbeda-beda.
Tingkat privasi seseorang sangat dipengaruhi oleh nilai yang dipegang orang tersebut.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/ilustrasi-bergosip_20150509_140356.jpg)