Berita Bali

Prof Windia: Corona Menyadarkan Masyarakat Bali Bahwa Pariwisata Bukan Segala-galanya

Prof Windia: Corona Menyadarkan Masyarakat Bali Bahwa Pariwisata Bukan Segala-galanya

Tribun Bali/Rizal Fanany
Sejumlah wisatawan menanti sunset di penghujung tahun 2020 di Objek Wisata Tanah Lot, Tabanan, Kamis (31/12/2020). 

Laporan Jurnalis Tribun Bali, I Wayan Sui Suadnyana

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Serangan virus Corona atau Coronavirus Disease 2019 ( Covid-19) nampaknya mulai menyadarkan masyarakat Bali bahwa pariwisata bukanlah segala-galanya.

Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Udayana (Unud), Prof I Wayan Windia mengungkapkan, kesadaran ini sempat diperdebatkan dalam ujian promosi doktor Program Studi Lingkungan Hidup Nyoman Sudipa sebulan yang lalu.

Dalam penelitiannya, Sudipa menemukan bahwa serangan korona telah membangun kesadaran baru masyarakat Nusa Penida bahwa pariwisata tidak menjamin ekonomi rakyat bisa berlanjut.

"Ia (Sudipa) menandaskan bahwa pariwisata harus dianggap sebagai bonus dari kegiatan pertanian, dan budaya masyarakat Bali," kata Windia dalam keterangan tertulisnya yang diterima Tribun Bali, Kamis 21 Januari 2021.

Ketua Pusat Penelitian (Puslit) Subak Universitas Udayana (Unud) Prof Wayan Windia saat ditemui di Denpasar, Bali.
Ketua Pusat Penelitian (Puslit) Subak Universitas Udayana (Unud) Prof Wayan Windia saat ditemui di Denpasar, Bali. (Tribun Bali/I Wayan Sui Suadnyana)

Sekarang terbukti bahwa masyarakat Nusa Penida kembali sedikit demi sedikit mulai kembali ke ladang dengan menanam kacang, jagung, pisang dan tanaman hortikultura.

Prof Windia mengungkapkan, pariwisata sebagai bonus ekonomi telah sempat dirasakan di Bali sebelum akhir tahun 1969-an.

Buku The Island of Bali-nya Cuvarubias, telah mengundang Walter Spies, Arie Smith, Rudolf Bonnet, Antonio Blanco, Han Snel dan sebagainya datang ke Ubud.

Ubud kemudian berkembang sebagai kampung turis yang dinikmati langsung oleh masyarakat setempat.

Di Ubud, mereka menikmati kebudayaan Bali seperti upacara ngaben, menikmati keindahan pura, menyaksikan ritual panca yadnya, menikmati sawah, ritual di subak, melihat petani yang sedang bekerja, menikmati jaringan irigasi subak, menikmati gunung dan sebagainya.

"Jadi, menurut pikiran saya, bahwa kita di Bali jalani saja kehidupan kita sebagai masyarakat Hindu di Bali. Kalau ada turis yang datang ya syukuri, dan kalaupun tidak ada, ya tidak apa-apa," jelas Windia.

Namun sebagai orang timur, maka harus melayani dan menghormati kedatangan wisatawan itu dengan ikhlas dan ramah.

Pada akhir tahun 1960-an, para turis itu menginap di rumah-rumah penduduk (home stay) dan para turis yang harus menyesuaikan dirinya dengan alam serta budaya Bali.

"Saya masih ingat, bahwa dari Ubud turis semakin menyebar ke Desa Batuan, Sukawati. Kenapa? Karena di Batuan mereka dapat juga menikmati alam berkesenian, dan budaya masyarakat yang sepadan dengan di Ubud," tutur Windia.

Halaman
12
Sumber: Tribun Bali
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved