Hendak Buang Air tapi Tak Kunjung Pulang, Jenazah Sugiyanti Ditemukan dalam Mulut Buaya

Hendak Buang Air tapi Tak Kunjung Pulang, Jenazah Sugiyanti Ditemukan dalam Mulut Buaya

Editor: Widyartha Suryawan
Gambar oleh TeeFarm dari Pixabay
Ilustrasi buaya - Hendak Buang Air tapi Tak Kunjung Pulang, Jenazah Sugiyanti Ditemukan dalam Mulut Buaya 

TRIBUN-BALI.COM, JAMBI - Kejadian nahas dialami oleh Sugiyanti (41).

Pergi dari rumah dengan niat buang air saat malam hari, ia tak kunjung pulang.

Setelah sempat dinyatakan hilang, Sugiyanti akhirnya ditemukan dalam keadaan sudah tewas.

Mirisnya, saat ditemukan warga, jenazah Sugiyanti masih berada dalam mulut buaya.

Warga yang mendapati jenazah Sugiyanti harus merebutnya dari buaya berukuran lebih dari 3 meter.

Baca juga: Ibu Sugiyanti Diterkam Buaya dan Diseret hingga 3 Kilometer, Warga Rebut Jenazahnya di Mulut Buaya

Sugiyanti, warga Dusun Keman, Desa Catur Rahayu, Kecamatan Dendang, Kabupaten Tanjab Timur, Jambi itu ditemukan pada Senin 25 Januari 2021.

"Saat ditemukan, jenazah Ibu Sugiyanti berada dalam mulut buaya dan sudah diseret sejauh 3 kilometer dari lokasi hilang," kata Didik seorang warga setempat seperti dilansir dari Kompas.com, Selasa 26 Januari 2021.

Tampak masyarakat Desa Catur Rahayu, Kecamatan Dendang berkumpul di tepi sungai saat penemuan jenazah Sugiyanti yang berada dimulut buaya, jenazahnya baru dilepas buaya setelah disentrum warga
Tampak masyarakat Desa Catur Rahayu, Kecamatan Dendang berkumpul di tepi sungai saat penemuan jenazah Sugiyanti yang berada dimulut buaya, jenazahnya baru dilepas buaya setelah disentrum warga (Suwandi/KOMPAS.com)

Menurut Didik, kejadian penyerangan buaya itu terjadi saat malam hari, ketika Sugiyanti berniat buang air.

Dia pergi membawa senter ke kanal primer di tengah kampung.

Namun, setelah beberapa saat, dia tidak juga kembali ke rumah.

Baca juga: Buaya Gigit Tangan Warga hingga Nyaris Putus, Habitat Buaya Kian Sempit karena Proyek Pemerintah

Suaminya yang bernama Hardi mencari Sugiyanti ke belakang rumah.

Dalam pencarian itu, suaminya hanya menemukan senter yang terjatuh dan sandal yang terpisah jauh antara kanan dan kiri.

Menurut Didik, rusaknya hutan gambut di wilayah itu membuat populasi buaya meningkat.

Bahkan, buaya masuk ke dalam kanal primer di tengah kampung.

"Saat ditemukan, warga dan buaya itu rebutan jenazahnya.

Halaman
12
Sumber: Kompas.com
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved