Breaking News:

Berita Buleleng

Pidsus Kejari Buleleng Periksa Sembilan Saksi Buntut Dugaan Mark-up Dana Explore Buleleng

Dari sembilan saksi itu, empat diantaranya merupakan Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK) dari Dinas Pariwisata Buleleng.

Tribun Bali/Ratu Ayu Astri Desiani
Kasi Intel Kejaksaan Negeri Buleleng, AA Jalayantara 

“Saya sudah sempat memanggil Kadispar, katanya tidak ada persoalan. Tapi di Kejaksaan ada dugaan seperti itu, dan penyelidikan masih berjalan.

Biarkan saja. Saya tidak mau berandai-andai. Doakan saja semua baik-baik saja,” pungkas PAS.

Terpisah, Kasi Pidsus Kejaksaan Negeri Buleleng, Wayan Genip mengatakan, pasca berkas hasil penelusuran diserahkan oleh Bagian Intelijen Kejari Buleleng, dirinya juga langsung diberikan surat perintah penyelidikan oleh Kajari Buleleng.

Atas surat tersebut, dirinya pun mengagendakan untuk memeriksa sejumlah pejabat di Dinas Pariwisata Buleleng, serta pihak-pihak terkait yang terlibat dalam program Explore Buleleng itu, pada Kamis 27 Januari 2021.

“Berkas yang diberikan oleh bagian Intel itu sifatnya informasi untuk Pidsus melakukan pendalaman.

Dari berkas itu, bagian Intel menduga ada dugaan kasus mark-up itu.

Oleh karena itu, tugas kami di Pidsus melakukan pendalaman dengan memintai keterangan pihak-pihak terkait, untuk menentukan apakah benar di program itu ada indikasi tindak pidana korupsi atau tindak pidana lain.

Kalau ada indikasi tindak pidana korupsi, kasus akan kami tingkatkan ke penyidikan berupa mencari bukti dan siapa sih pelaku dari tindak pidana itu,” jelasnya.

Kegiatan itu adalah bagian penggunaan dana hibah pariwisata dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif untuk pemulihan ekonomi pariwisata dampak pandemi Covid.

Buleleng mendapatkan dana hibah pariwisata sekitar Rp 11 miliar.

Dari jumlah itu, 70 persennya atau sekitar Rp 7 miliar dibagikan kepada para pengelola hotel dan restoran. Dana itu sudah terserap, dan tidak ditemukan adanya indikasi pemotongan.

Sementara 30 persennya atau sekitar Rp 4 miliar diperuntukan sebagai dana operasional kegiatan pemulihan pariwisata, seperti Bimtek dan Buleleng Explore.

Program Buleleng Explore dilaksanakan Dinas Pariwisata untuk memromosikan wisata di tengah pandemi Covid.

Program yang dilaksanakan sebanyak empat kali dalam rentang November-Desember 2020 ini mengajak masyarakat melakukan perjalanan wisata selama tiga hari secara gratis.

Masyarakat yang mengikuti program Buleleng Explore sebanyak 360 orang.

Mereka diajak berwisata gratis, menjelajahi pelosok Buleleng yang mempunyai spot-spot destinasi wisata.

Selama melaksanakan perjalanan wisata, masyarakat diberi fasilitas menginap di hotel.

“Kami menerima laporan dari kumpulan masyarakat yang identitasnya masih harus dirahasiakan, sekitar dua minggu yang lalu. Di laporan itu, mereka menduga ada indikasi penyelewengan dana. Diduga melakukan mark-up harga hotel, sehingga dia mendapatkan keuntungan untuk kepentingan pribadi,” terang Kasi Intel Kejari Buleleng AA Jayalantara Selasa 26 Januari 2021.

Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata Buleleng, Made Sudama Diana menyerahkan sepenuhnya kasus hukum tersebut kepada pihak Kejaksaan.

Termasuk terkait adanya dugaan mark-up biaya hotel dari dana hibah pariwisata.

Namun Sudama menyebut, sejauh ini dirinya belum dimintai keterangan oleh pihak Kejaksaan.

“Masih dalam proses, kami serahkan semuamya ke Kejaksaan. Berkas-berkas yang dibutuhkan seperti SPJ sudah kami berikan semua. Kami tunggu saja bagaimana hasilnya. Saya belum dimintai keterangan apapun terkait itu. Itu saja dulu ya,” pungkasnya.(*)

Penulis: Ratu Ayu Astri Desiani
Editor: Wema Satya Dinata
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved