Serba serbi
Nunas Tamba hingga Kawisesan di Pura Melanting Jambe Pole
Kisah unik dan menarik dari Pura Melanting Jambe Pole, adalah kerap didatangi pamedek yang ingin nunas tamba untuk kesembuhan.
Penulis: AA Seri Kusniarti | Editor: Ida Ayu Suryantini Putri
Laporan Wartawan Tribun Bali, A A Seri Kusniarti
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR – Kisah unik dan menarik dari Pura Melanting Jambe Pole, adalah kerap didatangi pamedek yang ingin nunas tamba untuk kesembuhan.
Bahkan oleh balian atau pengusada, termasuk bagi yang meminta kawisesan (kekuasaan/kesaktian)
Pura yang terletak di tengah-tengah area Taman Festival Bali, Kesiman, Padang Galak, Denpasar ini, memang memiliki sisi uniknya tersendiri.
Di dalam pura yang tidak terlalu besar ini, terdiri dari beberapa palinggih suci.
Di antaranya, gedong di tengah sebagai linggih dari Ida Bhatari Melanting dan Ida ratu Niang.
• Palinggih Polisi di Pura Dalem Kaler Belega, Pemedak Datang Nunas Tamba Hingga Pekerjaan
• Nunas Tamba di Pura Goa Peteng, Tempat Melukat yang Ada di Dasar Goa yang Sangat Gelap
• Bertujuan Nunas Tamba, Banyak Pejabat Datangi Pura Maospahit Tatasan
Kemudian di kiri (kauh) dari pintu masuk ada palinggih Ida Bhatara Ratu Gede Dalem Nusa dengan saput poleng.
Sementara di sebelahnya, ada palinggih Ida Ratu Ayu Manik Mas Maketel dan I Raty Ngurah Bagus Ketut Malumut.
Ada padmasana, dan di tengah-tengah semua palinggih ini ada pohon pole kembar menjulang tinggi.
Di sanalah ada palinggih Ida Bhatara Jambe Pole.
“Kalau nunas tamba ke linggih Ida Ratu Gede dan di polenya,” jelas Jero Arimbawa, satu diantara pengurus pura kepada Tribun Bali, Senin 1 Februari 2021.
Sedangkan bagi yang hendak meminta kawisesan, bisa memohon ke Ida Ratu Ayu Manik Mas Maketel.
Kemudian untuk memohon rezeki dari usahanya, bisa nunas ke Ida Bhatari Melanting.
“Nunas daksina linggih untuk toko atau usahanya di Ida Bhatari Melanting dan Ida Ratu Niang. Bawa daksina lingga dari puri masing-masing, daksina ini sudah dihias dan nantinya dimintakan pasupati serta tirta di pura untuk dibawa pulang,” jelas penekun tantra dan spiritual ini.
Boleh juga memakai sarana dupa, yang nantinya akan dipasupati di pura dan dibawa pulang lalu dupa itu dinyalakan di usahanya.
Ia menyebutkan banyak yang sudah menerapkan hal tersebut di pura.
“Untuk meminta kawisesan sendiri, tergantung apa yang dipelajari. Bisa memohon anugerah apa yang dipelajari dari palinggih Ratu Ayu Manik Mas Maketel,” sebutnya.
Untuk tamba, biasanya pamedek membawa bungkak nyuh gadang sebagai media.
Kemudian minta di taksu di linggih Ida Bhatara Ratu Gede.
“Lalu tunas di Ida Ratu Ayu Manik Mas Maketel dan itu dikasi pasiennya. Kalau memang sakit niskala maupun sekala, biasanya 3 kali datang ada ciri-ciri kesembuhan,” katanya.
Lalu setelah itu melukat di panglukatan Sang Hyang Ganapati.
Prosesi malukat ini, sebelum masuk ke dalam pura maka pamedek malukat terlebih dulu. Setelah itu ada tempat ganti baju, dan baru ke ajeng palinggih.
Baik untuk yang sudah sembuh atau melukat ipian ala (mimpi buruk), cuntaka dan lain sebagainya. Panglukatannya mata air yang ada di sini. Berupa air biasa tawar tidak payau.
Walau belum ada pangempon pura, namun pamedek yang datang tidak perlu khawatir.
Sebab biasanya ada saja yang berjaga di sana, khusus menjaga areal pura.
“Ada Wayan suwirta, dan rekannya biasanya dari jam 8 pagi sampai sore, pulang sebentar, lalu ke sini lagi malamnya. Kalau rerainan bisa sampai jam 3 pagi dan langsung makemit,” jelasnya.
Pengurus ini untuk menjaga, kesucian dan kesakralannya pura. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/pura-melanting-jambe-pole.jpg)