Berita Bali
Awal Tahun 2021, DBD di Provinsi Bali Tembus 203 Kasus, Tertinggi Kabupaten Buleleng
Selain kasus positif Covid-19, kasus DBD juga meningkat pada awal tahun 2021 di Provinsi Bali.
Penulis: Ni Luh Putu Wahyuni Sari | Editor: Ida Ayu Suryantini Putri
Rincian kasus di tahun 2020 adalah Januari tercatat 18 kasus, Peberuari tercatat 56 kasus, Maret tercatat 84 kasus, April sebanyak 53 kasus, Mei tercatat 67 kasus, Juni tercatat 47 kasus, Juli tercatat 7 kasus, Agustus tercatat 5 kasus, September tercatat 2 kasus.
Sementara untuk bulan Oktober disebutkan tidak ada kasus tercatat, dan di bulan Nopember ada 1 kasus, terakhir Desember nihil kasus tercatat.
"Ada peningkatan jika dikalkulasikan dalal setahun.
Namun untuk bulan Oktober dan Desember 2020 tercatat tidak ada kasus," kata Kepala Dinas Kesehatan Tabanan, dr Nyoman Suratmika, Rabu (6/1/2021).
Dia melanjutkan, meningkatnya kasus DBD di tahun 2020 dibandingkan sebelumnya juga bisa disebabkan oleh penurunan angka bebas jentik.
Angka bebas jentik (ABJ) di tahun 2020 sendiri juga sudah melaksanakan pemeriksaan di ribuan rumah warga.
Dari pemeriksaan ABJ tahun 2020 masih lebih rendah dibandingkan dengan tahun 2019 lalu.
"Bisa dikatakan menurunnya ABJ ada indikasi masyarakat mulai kendor untuk melakukan PSN.
Padahal PSN adalah kunci dari pemberantasan DBD. Selain musim hujan juga menjadi salah satu penyebabnya," jelasnya.
Sehingga dengan kondisi ini, pemberantasan sarang nyamuk (PSN) adalah hal yang paling ampuh untuk menekan angka kasus DBD di Tabanan.
PSN yang dimaksud adalah 3M yakni Menguras tempat penampungan air secara rutin minimal seminggu sekali, Menutup rapat tempat penampungan air, Menguburkan atau memanfaatkan sampah yang bisa menampung air seperti kaleng, botol plastik dan gelas plastik.
"Selain tiga M itu juga ditambahkan dengan menaburkan bubuk abate di semua penampungan air yang sulit dibersihkan," tandasnya.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/ilustrasi-dbd-19022020.jpg)