Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Hotel Bintang 5 Ini Jualan Nasi Bungkus Agar Bertahan Hidup di Tengah Pandemi

Menurut laporan Kantor berita Malaysia, Bernama, langkah itu ditempuh manajemen Hatten Hotel di Melaka.

Tayang:
Editor: DionDBPutra
Pixabay
Ilustrasi nasi bungkus. Untuk bertahan hidup di tengah terpaan pandemi Covid-19, manajemen hotel bintang lima di Malayia berjualan nasi bungkus. Harganya relatif terjangkau yaitu 2 ringgit Malaysia atau setara Rp 7.000 per bungkus. 

TRIBUN-BALI.COM, MELAKA - Kalau puluhan hotel di Bali akan dijual pemiliknya karena terus merugi, tidak demikian dengan langkah manajemen sebuah hotel bintang lima di Melaka, Malaysia.

Untuk bertahan hidup di tengah terpaan pandemi Covid-19, manajemen hotel bintang lima tersebut berjualan nasi bungkus. Harganya relatif terjangkau yaitu 2 ringgit Malaysia atau setara Rp 7.000 per bungkus.

Menurut laporan Kantor berita Malaysia, Bernama, langkah itu ditempuh manajemen Hatten Hotel di Melaka.

60 Hotel di Bali Akan Dijual, Belum Ada Investor yang Sepakat Membeli

Banyak Hotel di Ubud Bali Belum Laku Dijual, Kadisparda: Fenomena Jual Hotel Sulit Dihindari

Dihantam Pandemi, 60 Hotel di Bali Akan Dijual, PHRI: Orang Punya Uang pun Masih Berpikir

Mereka bukan yang pertama. Langka serupa yakni jual nasi murah sebelumnya ditempuh hotel lainnya di Penang dan Terengganu Malaysia.

Dagangan hotel bintang lima yang diberi label Nasi Bajet atau nasi murah dijajakan demi menambal keuangan yang anjlok saat Movement Control Order ( MCO ) di Malaysia karena pandemi Covi-19.

MCO itu mirip pemberlakukan PSBB di Indonesia.

Menurut Kepala koki Hatten Hotel, Badrol Hisham Mohd Ali, inisiatif menjual nasi bungkus itu mereka ambil karena tidak ada tamu yang menginap di hotel dan restoran masih tutup.

"Selain mendatangkan pendapatan hotel yang terkena pandemi Covid-19, penjualan nasi bajet juga diharapkan dapat memberikan kegembiraan bagi masyarakat yang terkena imbas pendapatan, untuk mendapatkan makanan dengan harga yang lebih murah," kata Hisham.

"Kami mulai menjual nasi bajet ini pada Jumat (5/2/2021) dan tanggapan yang diterima sangat menggembirakan, sekitar 500 orang datang setiap hari," ujarnya kepada Bernama, Selasa 8 Februari 2021.

Badrol Hisham menambahkan, hidangan yang disajikan antara lain nasi putih dengan potongan ayam atau ikan serta beberapa sayuran.

"Ada juga lauk lainnya seperti ayam madu, ayam percik, dan kukis, tapi dijual terpisah."

"Kami menawarkan menu yang berbeda setiap hari sehingga pelanggan dapat menikmati hidangan yang bermacam-macam dan tidak pernah bosan dengan lauk yang sama setiap hari," tambahnya.

Menurut sang koki, mereka buka mulai pukul 12 siang sampai 8 malam setiap hari.

Ia mengungkapkan, Hatten Hotel akan tetap berjualan nasi bajet setiap hari selama sebulan, dan tindakan selanjutnya akan diputuskan menyesuaikan perkembangan MCO.

Seorang pelanggan yang menyebut namanya Azlin (22) mengaku sangat senang dengan adanya nasi bajet, karena pekerjaannya sebagai pramuniaga  toko dekat hotel membuat bujet makannya terbatas.

"Karena Banda Hilir adalah area fokus publik, kebanyakan restoran menjual makanan dengan harga agak mahal."

"Oleh karena itu nasi bajet ini menolong saya mendapat makanan enak dengan harga lebih murah."

"Meski saya harus mengantre sekitar 30 menit, saya rasa sepadan dengan harga yang ditawarkan," pungkasnya.

Jadi Penjual Gorengan

Sebelumnya, maskapai penerbangan Thai Airways yang bangkrut juga banting setir menjadi penjual gorengan olahan sendiri.

Gorengan itu bernama patong-go, sejenis roti goreng atau cakwe yang per bulannya bisa menghasilkan omzet sekitar 10 juta baht atau Rp 4,7 miliar.

Chansing Treenuchagron yang bertindak sebagai presiden maskapai mengatakan, gorengan itu sangat populer sampai orang-orang rela antre panjang membelinya tiap pagi.

Terdapat lima gerai makanan produksi Thai Airways itu di Bangkok, dan ke depannya mereka berencana membuat franchise.

Kelima gerai itu berlokasi di toko roti Puff & Pie di pasar Or Tor Kor, di kantor pusatnya di distrik Chatuchak, gedung Rak Khun Tao Fa, gedung Thai Catering di distrik Don Muang, serta kantor cabang Thai Airways di Silom.

Jajanan itu juga dijual di dua gerai provinsi Chiang Mai. Thai Airways rutin menjualnya pada pagi hari, tetapi beberapa outlet tidak setiap hari buka.

Thai Airways bangkrut setelah bertahun-tahun mismanajemen keuangan dan diperparah oleh pandemi virus corona.

Maskapai ini dinyatakan bangkrut dengan total utang 332,2 miliar baht atau kira-kira Rp 157 triliun.

Pengadilan Kebangkrutan Sentral Thailand memberikan persetujuan untuk restrukturisasi utang.

Artikel ini sudah tayang di Kompas.com berjudul Hotel Bintang 5 Banting Setir Jualan Nasi Bungkus, Harganya Rp 7.000 Seporsi

Sumber: Kompas.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved