Breaking News:

Berita Tabanan

Klaim Asuransi Pertanian 2020 Capai Rp 2.4 Miliar, Pertanian Tabanan Bali Dominan Diserang Tikus 

Jumlah lahan yang terserang OPT yang didominasi serangan tikus ini mencapai 409 hektare dan klaim asuransinya mencapai Rp 2.4 Miliar lebih. 

Tribun Bali/Made Prasetia Aryawan
Made Sukadana menunjukkan sawahnya yang terserang hama tikus di Subak Seronggo, Desa Pangkung Karung, Kecamatan Kerambitan, Tabanan, Senin (28/1/2019). 

TRIBUN-BALI.COM TABANAN - Serangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) yang mengganas dan bencana alam hingga mengakibatkan gagal panen membuat puluhan petani mengajukan klaim Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP) di tahun 2020.

Jumlah lahan yang terserang OPT yang didominasi serangan tikus ini mencapai 409 hektare dan klaim asuransinya mencapai Rp 2.4 Miliar lebih. 

Meenurut data yang diperoleh dari Dinas Pertanian Tabanan, lahan yang mengikuti AUTP di Tabanan seluas 14.695 hektare.

Dari jumlah ini seluas 409 hektare lebih mengalami gagal panen.

Jumlah tersebut tersebar di empat kecamatan seperti Kecamatan Kediri, Kecamatan Penebel, dan Kecamatan Tabanan.

Andalkan Anggaran Pusat, Enam Subak di Klungkung Diusulkan Penanganan Jalan Usaha Tani Tahun 2021

Minat Petani di Buleleng untuk Ikut Program Asuransi Usaha Tani Padi Masih Minim

"Di tahun 2020 klaim asuransi usaha tani yang diklaim dan sudah dibayarkan senilai Rp 2.4 Miliar lebih. Mereka yang mengajukan klaim ini lebih banyak terserang OPT dan sebagiannya dampak bencana alam seperti banjir dan kekeringan," kata Kepala Bidang Sarana dan Prasarana, Dinas Pertanian Tabanan, I Gusti Putu Wiadnyana, Rabu 10 Pebruari 2021. 

Wiadnyana menjelaskan, ada hitungannya untuk petani yang akan mengajukan klaim ini. Diantaranya lahan yang berhak mendapatkan klaim asuransi adalah yang puso.

Artinya yang bisa disebut puso apabila potensi serangannya mempengaruhi produksi sampai 70 persen dari produksi normal.

Kemudian, setelah pengajuan klaim tersebut ada petugas yang melakukan survey ke lokasi untuk penentuan layak dan tidaknya.

Secara umum, para petani di Tabanan yang mengajukan adalah mengalami gagal panen karena terserang organisme pengganggu tanaman (OPT) yakni tikus. 

"Nah, dalam membayar premi AUTP ini pemerintah pusat menanggung premi sebesar 80 persen sementara 20 persennya ditanggung oleh petani. Dari premi Rp 180 ribu per hektare, petani hanya membayar Rp 36 ribu per hektare. Pemerintah kabupaten Tabanan kemudian mengalokasikan anggaran di APBD untuk membayar premi sebesar Rp 36 per hektare yang harusnya ditanggung petani," jelasnya. 

"Dan untuk klaim asuransi ini petani akan mendapat uang ganti rugi untuk meringankan beban petani sebesar Rp 6 Juta per hektare," imbuhnya.

Sementara itu, untuk yang masih dalam proses adalah petani yang mengajukan pada masa tanam di tahun 2021 ini.

Untuk di bulan Januari 2021 ini sudah ada sejumlah petani yang mengajukan klaim dengan jumlah sekitar Rp 300 juta lebih. 

"Ini klaimnya masih dalam proses baik itu survey lokasinya serta proses administrasinya," tandasnya.

Penulis: I Made Prasetia Aryawan
Editor: Noviana Windri
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved