Myanmar

Kembali Panas, Hampir Seluruh Myanmar Offline Demonstran Anti-Kudeta Aung San Suu Kyi Ditembaki

Seorang wartawan di tempat kejadian mengatakan, tidak diketahui berapa banyak yang terluka dalam penembakan itu, dan jenis peluru apa yang dipakai.

YE AUNG THU/AF
Para pengunjuk rasa mengambil bagian dalam demonstrasi menentang kudeta militer di Yangon pada 8 Februari 2021. 

TRIBUN-BALI.COM, MYITKYINA - Militer Myanmar kini semakin tegas menindak massa anti-kudeta pemerintahan Aung San Suu Kyi

Militer Myanmar bahkan memutus internet lagi pada Senin 15 Februari 2021 setelah menembaki para demonstran untuk membubarkan demo.

Myanmar kembali memanas akibat aksi protes berkelanjutan setelah terjadinya kudeta di negara tersebut. 

Pada Minggu 14 Februari 2021, Milter Myanmar menembaki demonstran dan menangkap para jurnalis di utara Myanmar, dalam upaya meredam aksi protes.

Belakangan ini demo kudeta Anti Myanmar terus bergejolak dan memanas. 

Hingga saat ini massa tetap menuntut pembebasan pemimpin de facto Aung San Suu Kyi yang ditahan militer.

Dilansir AFP, tentara menembakkan gas air mata lalu menembaki kerumunan yang berkumpul di Myitkyina.

Seorang wartawan di tempat kejadian mengatakan, tidak diketahui berapa banyak yang terluka dalam penembakan itu, dan jenis peluru apa yang dipakai.

"Kami tidak tahu apakah polisi memakai peluru karet atau timah panas," ujar wartawan tersebut.

Polisi kemudian menangkap setidaknya lima jurnalis yang melaporkan langsung dari tempat kejadian, menurut kantor berita di kota tersebut.

Kendaraan lapis baja juga sempat terlihat lalu-lalang di ibu kota komersial Yangon pada Minggu sore.

Pernyataan bersama dari duta besar Amerika Serikat (AS), Inggris, dan Uni Eropa mendesak pasukan keamanan untuk tidak membahayakan warga sipil.

"Kami menyerukan pasukan keamanan untuk menahan diri dari kekerasan terhadap demonstran, yang memprotes penggulingan sah mereka," kata para dubes tersebut dikutip dari AFP.

Aparat keamanan telah menangkap setidaknya 400 orang sejak hari pertama kudeta Myanmar, kata kelompok pemantau Assistance Association for Political Prisoners.

Halaman
123
Sumber: Kompas.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved