Breaking News:

Berita Bali

Bank Indonesia Provinsi Bali Optimis Perekonomian Bali Tumbuh Positif Tahun 2021

BI juga melakukan penambahan likuiditas di perbankan (quantitive easing) sebesar Rp 23,81 triliun.

Tribun Bali/Karsiani Putri
Deputi Kepala Perwakilan wilayah Bank Indonesia (KPwBI) Provinsi Bali, Rizki Ernadi Wimanda yang didampingi Donny H. Heatubun dan Ekonom Ahli Grup Perumusan dan Implementasi KEKDA, M. Setyawan Santoso, dalam acara Obrolan Santai BI Bareng Media (OSBIM) pada Selasa 23 Februari 2021 

Laporan Wartawan Tribun Bali, Karsiani Putri

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Dalam acara Obrolan Santai BI Bareng Media (OSBIM) yang digelar Kantor Perwakilan wilayah Bank Indonesia (KPwBI) Provinsi Bali pada Selasa 23 Februari 2021 disebutkan bahwa pemulihan ekonomi Bali dinilai lebih lambat dibandingkan perekonomian nasional mengingat Bali yang bergantung kepada sektor pariwisata. 

Menurut Deputi Kepala Perwakilan wilayah Bank Indonesia (KPwBI) Provinsi Bali, Rizki Ernadi Wimanda, hasil tracking sampai triwulan I 2021 menunjukkan bahwa pemulihan berlangsung lebih lambat dibandingkan perkiraan sebelumnya. 

"Wisatawan Nusantara kami perkirakan pulih lebih awal dan berpotensi menjadi penopang pariwisata Bali. Dan kunjungan wisman kami proyeksikan baru akan kembali pulih pada 2024," kata Rizki Ernadi Wimanda yang dalam acara tersebut didampingi Donny H. Heatubun dan Ekonom Ahli Grup Perumusan dan Implementasi KEKDA, M. Setyawan Santoso. 

Sementara itu, Kepala Perwakilan BI Provinsi Bali, Trisno Nugroho menjelaskan bahwa sesuai keputusan Rapat Dewan Gubernur tanggal 18 Februari 2021, Bank Indonesia menurunkan suku bunga kebijakan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 25 bps, menjadi 3,50 persen. 

Suku bunga Deposit Facility dan suku bunga Lending Facility masing-masing juga diturunkan menjadi 2,75 persen dan 4,25 persen.

Baca juga: Bank Indonesia Provinsi Bali bersama Korem 163/Wira Satya Gelar Aksi Donor Darah & Plasma Konvalesen

Baca juga: Bank Indonesia Dukung Gerakan Nasional Bangga Buatan Indonesia, Hadirkan Showcase Puluhan UMKM 

"Tingkat suku bunga tersebut adalah yang paling rendah sejak Bank Indonesia mulai memberlakukan BI7DRR sebagai suku bunga acuan pada 2016," ujar Trisno Nugroho. 

Ia menjelaskan bahwa keputusan tersebut konsisten dengan prakiraan inflasi yang tetap rendah dan stabilitas nilai tukar Rupiah yang terjaga, serta sebagai langkah lanjutan untuk mendorong momentum pemulihan ekonomi nasional. 

BI juga berkoordinasi dengan Pemerintah dan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) dengan fokus pada upaya untuk mengatasi permasalahan sisi permintaan dan penawaran dalam Paket Kebijakan Terpadu untuk Peningkatan Pembiayaan Dunia Usaha dalam rangka Percepatan Pemulihan Ekonomi.

Dan untuk mendukung implementasi program Pemulihan Ekonomi Nasional, dari awal tahun hingga 16 Februari 2021, BI telah melakukan pembelian SBN di pasar perdana sebesar Rp 40,77 triliun, yaitu Rp 18,16 triliun melalui mekanisme lelang utama dan Rp 22,61 triliun melalui Greenshoe Option (GSO).

Halaman
1234
Penulis: Karsiani Putri
Editor: Noviana Windri
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved