Korea Utara
Pria Korea Utara Ini Lolos Secara Ajaib Meski 8 Kali Tertangkap Kamera dan Alarm Berbunyi
Aksi pria dari negara pimpinan Kim Jong Un tersebut tertangkap kamera pengintai sebanyak 8 kali. Dia juga memicu alarm di perbatasan berbunyi
TRIBUN-BALI.COM, SEOUL - Entah bagaimana caranya seorang pria asal Korea Utara lolos secara ajaib di perbatasan dengan Korea Selatan yang diawasi super ketat.
Aksi pria dari negara pimpinan Kim Jong Un tersebut tertangkap kamera pengintai sebanyak 8 kali. Dia juga memicu alarm di perbatasan berbunyi.
Akan tetapi, dia masih lolos dari pengawasan pasukan di perbatasan kedua negara semenanjung Korea yang bermusuhan tersebut.
Melansir BBC hari Selasa 23 Februari 2021, pria tersebut berenang dari laut, berjalan sejauh 5 km dalam kondisi pakaian basah, dan menghabiskan waktu 3 jam tanpa terdeteksi.
Baca juga: Jaksa Amerika Serikat Dakwa 3 Intel Korea Utara Mencuri Uang Rp 18,2 Triliun
Baca juga: Hacker Korea Utara Bikin Geger Lagi, Retas Vaksin dan Curi Uang Triliunan Rupiah
Pasukan di perbatasan baru menyadari dan mengambil tindakan setelah kali kesembilan dia tertangkap kamera pengintai.
Tidak jelas mengapa pria Korea Utara yang tidak diungkapkan identintasnya ini melakukan penyeberangan melalui rute yang berbahaya.
Kantor berita Yonhap melaporkan, pria itu melewati terowongan drainase di zona demiliterisasi ( DMZ ) yang bahkan tidak diketahui militer Korea Selatan.
Zona demiliterisasi di perbatasan Korea merupakan lokasi paling ketat diawasi pasukan militer yang didominasi sensor terbanyak di dunia.
Pelarian Korea Utara
Rincian terbaru datang dari laporan Kepala Staf Gabungan (JCS) Korea Selatan tentang penyimpangan keamanan pada 16 Februari 2021.
JCS enggan mengidentifikasikan pria itu dan sedang menyelidiki apakah dia mencoba membelot ke Korea Selatan.
Tidak diketahui dari titik mana perjalanannya dimulai, tetapi dia tiba di pantai dengan pakaian selam dan flipper pada pukul 01.05, dekat observatorium Korea Selatan, di utara perbatasan timur Kota Goseong.
Dia menyembunyikan setelan renang dan flipper di bawah batu dan kemudian mengikuti pagar kawat berduri ke selatan sepanjang pantai.
Selanjutnya pria itu memasuki terowongan drainase dan menyeberang ke DMZ.
Pria itu kemudian bergerak di sepanjang jalan tanpa terdeteksi selama lebih dari 5 km hingga 04.16 waktu setempat.
Kemunculannya yang kesembilan di kamera CCTV pada saat ini membuat pasukan melaporkan kehadirannya.
Militer menemukannya pada pukul 07.27. Laporan itu mengatakan dia telah mencari warga sipil untuk menyerahkan dirinya, karena dia takut tentara akan mengembalikannya ke Korea Utara.
Kesalahan sistem keamanan
Kamera pengintai melihat pria itu beberapa kali antara 01.05 dan 01.38, dengan alarm berbunyi 2 kali. Tapi, idak ada tindakan yang diambil.
Kamera CCTV militer Korea Selatan menangkap pria itu 3 kali lagi sekira pukul 04.00 waktu setempat.
Seorang pejabat JCS mengatakan kepada Yonhap bahwa prajurit yang bertanggung jawab atas peralatan pengawas pantai sedang melakukan penyesuaian pada saat itu, dan mengira alarm itu adalah kesalahan sistem.
Beberapa orang mempertanyakan apakah pria itu, seorang warga sipil yang bekerja di industri perikanan, telah berenang dari Korea Utara seperti yang diklaim, mengingat kondisi musim dingin.
Ada spekulasi dia bisa melakukan perjalanan dengan perahu sebagai gantinya.
Namun, JCS yakin pria itu telah berenang, mengatakan pakaian selamnya dalam kondisi baik dan air pasang akan membantu.
Ini merupakan insiden kedua dalam 4 bulan terakhir. Pertanyaan telah diajukan tentang bagaimana sistem keamanan di DMZ.
Setelah mantan pesenam membelot November 20201 lewat cara melompati pagar perbatasan, militer Korea Selatan mengumumkan akan memeriksa setiap sensor.
Peristiwa terbaru telah menyebabkan penyelidikan ke Divisi 22, yang bertanggung jawab atas area DMZ tersebut.
Ada pembelot saban tahun
Sejak menjabat pada 2011, pemimpin Korea Utara Kim Jong Un dipercaya telah memerintahkan pengetatan kontrol perbatasan antara kedua belah pihak, termasuk meletakkan lebih banyak ranjau darat di perbatasan dengan China.
Namun, sekitar 1.000 orang membelot dari Korea Utara setiap tahun, melarikan diri dari negara represif yang telah menghadapi banyak tuduhan pelanggaran hak asasi manusia.
Sebagian besar warga Korea Utara melarikan diri dengan menyeberangi perbatasan ke China, kendati mereka berisiko dikirim kembali ke Korea Utara.
Menyeberang melalui DMZ berbahaya. Jika ketahuan dan ditangkap oleh militer Korea Utara, mereka yang mencoba menyeberang pasti akan dibawa ke pusat penahanan untuk diinterogasi.
Mereka diadili dan dijatuhi hukuman lama di kamp kerja paksa.
Perbatasan dan bentengnya telah ada sejak Perang Korea berakhir dengan gencatan senjata pada 1953.
Korea Utara dan Korea Selatan secara teknis tetap berperang karena pertempuran tidak pernah diakhiri lewat perjanjian damai.
Artikel ini sudah tayang di Kompas.com berjudul 8 Kali Tertangkap Kamera dan Picu Alarm dengan Ajaib Pria Korea Utara Ini Lolos di Zona Dimiliterisasi
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/perbatasan-korea-utara.jpg)