Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Presiden Jokowi Merasa Heran Ajakan Benci Produk Asing Jadi Ramai

Hal itu dikatakan Presiden Jokowi dalam sambutannya pada Rapat Badan Pengurus Pusat Himpunan Pengusaha Muda Indonesia masa bakti 2019-2022.

Editor: DionDBPutra
tangkapan layar/tribunnews
Presiden Joko Widodo dalam Upacara Peringatan Detik-detik Proklamasi HUT ke-75 RI di Istana Kepresidenan Jakarta, Senin 17 Agustus 2020. 

TRIBUN-BALI.COM, JAKARTA - Presiden Joko Widodo (Jokowi) merasa heran pernyataannya tentang benci produk asing atau produk luar negeri yang menjadi ramai diperbincangkan.

Menurut dia, hak kita untuk tidak menyukai produk luar negeri.

"Kemarin saya sampaikan untuk cinta produk Indonesia, untuk bangga terhadap produk Indonesia, dan boleh saja kita ngomong tidak suka pada produk asing, masa ngga boleh kita ngga suka?! Kkan boleh saja tidak suka pada produk asing. Gitu aja ramai. Saya ngomong benci produk asing, gitu aja ramai," kata Jokowi.

Baca juga: Jokowi Ajak Masyarakat Cintai Produk Kita Sendiri, Benci Produk Luar Negeri

Baca juga: Kembali Digelar, Pameran KKI Tampilkan Produk dari 17 UMKM Binaan BI 

Hal itu dikatakan Presiden Jokowi dalam sambutannya pada Rapat Badan Pengurus Pusat Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (BPP HIPMI) masa bakti 2019-2022, di Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat, Jumat 5 Maret 2021.

Menurut Presiden, permintaan agar cinta produk dalam negeri dan benci produk asing tersebut agar perbaikan ekonomi Indonesia melalui peningkatan permintaan tidak hanya menguntungkan produk luar negeri saja, tetapi harus meningkatkan konsumsi produk dalam negeri.

"Agar tercipta efek domino sehingga dorongan untuk menggerakkan roda ekonomi di dalam negeri semakin besar," jelas Jokowi.

Sementara itu, pada i acara yang sama – Rakernas HIPMI 2021- yang digelar secara virtual, Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi mengungkap cerita awal hingga Presiden Jokowi menggaungkan benci terhadap produk asing.

Menurut Mendag, awalnya ia memaparkan sebuah artikel Word Economic Forum terkait tumbuhnya industri fesyen Islam di Indonesia.

Dalam artikel itu, diberikan contoh seorang pedagang hijab di Pasar Tanah Abang, yang memiliki konveksi dengan jumlah pekerja mencapai 3.000 orang.

"Dia mesti bayar ongkos gaji per tahun sekitar Rp 10 miliar (650.000 dolar AS). Ini bukan angka yang kecil," ucap Lutfi.

"Apa yang terjadi? Hijab yang dijual itu terekam oleh artificial intelligence salah satu perusahaan online asing yang datangnya dari luar negeri," kata Lutfi.

Setelah perusahaan online asing merekam bentuk, warna, dan harga hijab yang dijual pedagang Indonesia, maka pihak asing itu lalu membuat produk yang sama dan menawarkannya dengan harga jauh lebih murah.

"Dibuat (hijab) di negara itu, saya tidak perlu sebut negaranya. Kemudian, datang ke Indonesia, dilakukan dengan spesial diskon, yang saya katakan dalam istilah perdagangan namanya predatory pricing," kata Lutfi.

"Masuk ke Indonesia dengan harga Rp 1.900. Bagaimana caranya UMKM kita bersaing? Jadi ini adalah mekanisme perdagangan yang dilarang international trade, tidak adil," lanjutnya.

Lutfi menyebut, harga jual hijab produsen asing Rp 1.900 dan mereka hanya membayar bea masuk sebesar 44.000 dolar AS, padahal pengusaha hijab dalam negeri yang pekerjakan 3.000 orang itu harus mengeluarkan biaya gaji Rp 10 miliar (650.000 dolar AS) per tahun.

Sumber: Tribunnews
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved