Berita Badung

100 Hektar Lahan Pertanian di Subak Balangan Mengwi Kering Tanpa Air Selama 21 Tahun

“Kekeringan ini sudah terjadi dari 21 tahun yang lalu itu karena adanya pembagian air yang dialirkan ke wilayah Tabanan,” ujarnya

istimewa
Pekaseh Subak Balangan I Ketut Matrayasa 

TRIBUN-BALI.COM, MANGUPURA – Sudah lama petani di Subak Balangan Desa Kuwum, Mengwi Badung kesulitan akan air untuk mengairi sawah.

Bahkan sampai kini sawah dengan luas 100 Hektar itu pun kering dan tidak bisa dimanfaatkan petani sama sekali.

Hal itu pun dikatakan Pekaseh Subak Balangan I Ketut Matrayasa didampingi  gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) usai rapat bersama Komisi II DPRD Badung  pada Senin 8 Maret 2021

“Kekeringan ini sudah terjadi dari 21 tahun yang lalu itu karena adanya pembagian air yang dialirkan ke wilayah Tabanan,” ujarnya

Kondisi itu pun sangat memprihatinkan, pasalnya 300 petani di Subak Balangan sama sekali tidak mendapat air.

Baca juga: Kekeringan, 40 Hektar Sawah di Buleleng Gagal Panen

Baca juga: Sebanyak 37 Desa di Karangasem Berpotensi Kekeringan Saat Musim Kemarau

Baca juga: Waspada Kekeringan Melanda Saat Masyarakat Hadapi Pandemi Covid-19

Sebelumnya para petani akunya bekerja di pariwisata, lantaran lahan pertaniannya tidak bisa dimanfaatkan.

Namun kini karena adanya pandemi covid-19, banyak petani yang mengeluhkan hal itu.

“Kami ingin aliran air irigasi Subak Balangan dan Uma Tegal dinormalisasi lagi. Selama ini aliran  ke Subak Balangan dibeton sehingga tidak dapat air,” ucapnya.

Dirinya juga mengakui sebelumnya juga sudah menghadap Ketua DPRD Badung yakni Putu Parwata.

Bahkan keluhannya tersebut kini sudah ditanggapi dengan dilaksanakannya rapat kembali bersama Komisi II DPRD Badung.

Dirinya pun mengakui, kondisi sawah di Subak Balangan akunya masih sangat lestari.

Bahkan sama sekali tidak ada alih fungsi lahan di wilayah tersebut.

“Jadi dengan luas subak kurang lebih 100 Hektar kan bisa menjaga atau menopang ketahanan pangan di Kabupaten Badung. Kami pun sebetulnya tidak ada masalah dengan rekan kami di Tabanan. Hanya saja sudah terjadi itu,” bebernya.

Lebih lanjut dirinya mengatakan, untuk pihaknya saat ini ada normalisasi untuk pembagian air.

Hal itu pun agar petani bisa memanfaatkan lahannya kembali.

“Kita ingin normalisasi, misalnya kita dapat air untuk menanam padi, setelah itu di wilayah Tabanan yang mendapat air, kita menanam palawija,” harapnya.

Matrayasa pun menaruh harapan besar agar masalah ini dapat dipecahkan.

Pasalnya dalam rapat yang difasilitasi dewan Badung dihadirkan pihak PUPR Badung dan Bali Wilayah Sungai (BWS) Bali Penida.

 “Kita kan tidak ada kewenangan terkait pembagian airnya, termasuk beton yang ada pada aliran sungai, semoga dengan pertemuan ini bisa diberikan solusi, minimal normalisasi dengan mendapat air bergilir,” tungkasnya. (*)

Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved