Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Myanmar

Takhayul Sarung Perempuan Myanmar Menakutkan Polisi dan Tentara

Video yang beredar di medsos menunjukkan polisi Myanmar menurunkan sarung-sarung dari tali jemuran tersebut saat mereka akan melintasi jalanan.

Tayang:
Editor: DionDBPutra
Getty Images via BBC Indonesia - KOMPAS.COM
Perempuan menggantungkan sarung mereka di tali jemuran. 

Dia menjelaskan tradisi Htamein juga digunakan sebagai simbol keberuntungan.

"Pria yang pergi berperang akan menggulung potongan kecil dari sarung ibu mereka, dan memakainya sebagai anting-anting, dan para pengunjuk rasa selama masa pemberontakan 8888 (pada 1998) mengenakan kain sarung ibu mereka sebagai bandana," kata MiMi Aye.

Para pengunjuk rasa perempuan sekarang memilih memanfaatkan kekuatan kain sarung di ruang publik.

Pada Hari Perempuan Internasional, 8 Maret 2021, mereka mengikat kain sarung ke tiang bendera sebagai bagian apa yang mereka sebut sebagai Revolusi Sarung.

Aktivis pro-demokrasi, Thinzar Shunlei Yi memposting fotonya di internet dengan menuliskan, "Dengan jubah saya...Kain sarung saya telah melindungi saya, lebih baik dari militer di Myanmar."

Sejumlah pedemo bahkan menempelkan foto Jenderal senior Min Aung Hlaing-yang merebut kekuasaan-pada pembalut dan disebar di jalan-jalan.

Tujuannya untuk menghambat gerak langkah pasukan militer, karena mereka tak mau menginjak wajah pemimpinnya yang tertempel pada pembalut itu.

Pria seperti mahasiswa bernama Htun Lynn Zaw juga mengambil bagian dari gerakan ini, membalut kepalanya dengan kain sarung.

"Ini adalah cara untuk mendukung dan bersolidaritas dengan perempuan-perempuan pemberani yang melakukan protes," katanya di media sosial.

Sejauh ini, lebih dari 54 orang, kebanyakan perempuan, telah dibunuh oleh pasukan keamanan dalam unjuk rasa, menurut kantor urusan Hak Asasi Manusia PBB.

Puluhan negara telah mengutuk aksi kekerasan tersebut, akan tetapi seruan itu diabagikan oleh para pimpin militer.

Namun, perempuan yang berunjuk rasa menolak untuk diam, mereka menggunakan kain sarung untuk menentang kekuasaan militer.

Slogan mereka adalah "Sarung Kami, Panji Kami, Kemenangan Kami".

Artikel ini telah tayang di Kompas.com berjudul Cara Perempuan Myanmar Lawan Junta Militer dengan Takhayul Sarung

Sumber: Kompas.com
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved