4 WNI yang Disandera Kembali ke Keluarga, Abu Sayyaf Ingatkan Nelayan Tak Melaut di Sabah
Menlu Retno mengatakan, dengan dibebaskannya empat WNI ini, tidak ada lagi warga Indonesia yang ditawan ASG. Tercatat 44 WNI disandera ASG sejak 2016
“Kehidupan tidak terjamin, takut kenapa-kenapa. Kalau penyiksaan memang tidak ada,” ujarnya.
Arizal juga menceritakan proses kebebasannya. Saat itu, mereka akan dipindahkan dengan menggunakan kapal. Saat kapal terbalik dihantam ombak, mereka memutuskan melarikan diri.
“Kami mendengar kalau akan dipindahkan ke Pulau Tawi-Tawi oleh personel pusat ASG. Berangkat dari Mainbung jam 11 malam, perjalanan menuju Tawi-Tawi,” kata Arizal.
“Jam 9 pagi kapal kami terbalik dihantam ombak. Terbaliknya kapal jadi kesempatan bagi kami menyelamatkan diri masing-masing,” lanjutnya.
Ia dan rekannya Riswanto mengambil haluan menuju pulau yang tidak jauh dari posisinya dengan cara berenang. “Kami dari jam 9 sampai jam 4 sore, jam 5 sore baru ada pertolongan,” katanya.
Pada akhirnya ia dan tiga rekannya yang lain berhasil selamat dari drama penyanderaan. Namun satu rekannya yang lain tidak berhasil diselamatkan.
Perairan Sabah
Arizal juga mengungkapkan pesan yang sempat disampaikan ASG kepada sandera. Mereka diminta tidak melaut lagi di perairan Tambisan, Sabah, Malaysia karena mudah bagi mereka untuk berkeliaran di perairan itu.
“Mereka sempat titip pesan sama kami, agar diberitahukan pada kawan-kawan yang ada di Sabah, Malaysia, nggak usah melaut lagi di Tambisan karena akses buat kami keluar masuk situ mudah,” katanya.
Arizal mengakui ia yang bekerja di kapal Malaysia memang biasa melaut di perairan tersebut.
Perairan yang tidak dijaga tersebut memudahkan kelompok Abu Sayyaf masuk wilayah itu dan menyandera nelayan. (Tribun Network/Larasti Dyah Utami/sam)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/menteri-luar-negeri-retno-marsudi-dalam-konferensi-pers-di-kantor-presiden-1.jpg)