Masuk Zona Merah Rabies, Populasi Anjing di Dua Wilayah Gianyar Ini Dipantau Intensif 

Berdasarkan data Distanak Gianyar, Senin 5 April 2021, estimasi polulasi anjing di Gianyar sekitar 88 ribu ekor.

Tribun Bali/dwi suputra
Ilustrasi rabies 

TRIBUN-BALI.COM, GIANYAR - Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Gianyar kini melakukan pengawasan intensif terhadap Desa Lodtunduh, Kecamatan Ubud dan Desa Kelusa, Kecamatan Payangan.

Hal tersebut dikarenakan saat ini, dua kawasan tersebut masuk dalam zona merah rabies.

Sebab, populasi anjing di sana relatif besar, meskipun anjing tersebut berstatus peliharaan.

Berdasarkan data Distanak Gianyar, Senin 5 April 2021, estimasi polulasi anjing di Gianyar sekitar 88 ribu ekor.

Dari total tersebut, Desa Lodtunduh menyumbangkan 1.654 ekor dan Desa Kelusa mencapai 1.122 ekor.

Kabid Kesehatan Hewan dan Dinas Pertanian dan Peternakan Gianyar, I Made Santiarka, mengatakan, dua desa tersebut merupakan bagian dari delapan desa yang menjadi zona merah rabies.

Enam desa lainnya, Desa Sebatu, Medahan, Buruan, Taro, Bresela, Keliki, Melinggih dan Ubud.

"Zona merah rabies tahun ini lagi dua, Lodtunduh dan Kelusa, semoga tidak meluas di desa lain. Untuk di Desa Lodtunduh, keseluruhan anjing sudah divaksin, sedangkan di Desa Kelusa dari populasi 1.122 ekor yang sudah divaksin sebanyak 936 ekor. Meskipun telah divaksin, tapi karena besarnya populasi, tetap kita harus waspadai," ujarnya.

Terkait anjing di Kelusa yang belum divaksin, kata dia, dikarenakan anjing-anjing tersebut dipelihara di tegalan dan dilepas, sehingga sulit untuk menangkap.

"Ini kesulitannya banyak anjing peliharaan di tegalan atau pondok dan saat vaksinasi anjing tersebut lepas liar," jelasnya.

Pihaknya meminta supaya masyarakat yang memiliki anjing peliharaan yang belum divaksin, agar segera vaksinasi atau melaporkan ke kelian banjar setempat, sehingga bisa dilakukan vaksin secara bersamaan.

Jika tidak ingin divaksin karena enggan memelihara, kata dia, bisa dilakukan eliminasi.

"Eliminasi harus ada permintaan dari warga, paling tidak permintaan dari kelian banjar atau perbekel. Selanjutnya kami eliminasi, daripada meresahkan dan membahayakan warga," tandasnya.

Perbekel Kelusa, Dewa Putu Jember mengatakan, populasi anjing yang relatif besar di desanya, dikarenakan banyak anjing yang dibebas liarkan di tegalan.

Namun pihaknya pun lega, karena saat ini desanya mendapatkan perhatian dari Distanak Gianyar.

"Yang menyebabkan polulasi tinggi ini anjing liar di tegalan. Kami sudah koordinasikan ke instansi terkait dan sosialisasi ke warga untuk vaksin anjing peliharaan," ujarnya. (*)

Sumber: Tribun Bali
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved