Berita Gianyar
Bantu Petani Pasarkan Hasil Pertanian, Pemkab Gianyar Gelar Pasar Tani
Pemerintah Kabupaten Gianyar menggelar pasar tani di areal parkir Kantor Bupati Gianyar, Bali, Jumat 9 April 2021.
Penulis: I Wayan Eri Gunarta | Editor: Putu Dewi Adi Damayanthi
TRIBUN-BALI.COM, GIANYAR - Dalam upaya membantu petani memasarkan produk hasil pertanian dan UMKM binaan Disperindag dan TP PKK Kabupaten Gianyar, Pemerintah Kabupaten Gianyar menggelar pasar tani di areal parkir Kantor Bupati Gianyar, Bali, Jumat 9 April 2021.
Beberapa petani yang tergabung dalam asosiasi petani hortikultura Kabupaten Gianyar ikut menjajakan hasil pertaniannya.
Di mana diantaranya ada yang dari Kecamatan Payangan, Tampaksiring, Tegalalang bahkan ada yang dari Kecamatan Sukawati.
Kadis Pertanian Gianyar, I Made Raka mengatakan, pasar tani dilaksanakan guna membantu petani memasarkan hasil pertanian.
Baca juga: Jelang Galungan, Ketersediaan Babi Siap Potong di Klungkung Daratan hanya 200 Ekor
Baca juga: Penyebab Stok Babi Kurang di Bali Jelang Galungan, GUPBI: Ada Peternak Kirim ke Luar
Baca juga: Kapolres Badung Minta Masyarakat Tetap Melaksanakan Prokes Saat Hari Raya Galungan Dan Kuningan
“Pasar tani dilaksanakan untuk mendekatkan petani dengan konsumen,” ujarnya.
Ditambahkannya pasar tani rutin dilaksanakan setiap 6 bulan sekali menjelang Hari Raya Galungan dan Kuningan.
Ada beberapa produk pertanian yang dijual, seperti pisang, jeruk, sayuran, janur, aneka bumbu masakan, dupa dan beberapa produk kebutuhan upakara menjelang hari raya.
Sedangkan Disperindag menjual sembako bekerjasama dengan Perum Bulog Bali, dan dari TP PKK Gianyar dijual beberapa kue-kue kering khas hari raya.
Sementara itu, Kadis Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Gianyar, Luh Gede Eka Suary mengatakan, disamping membantu petani, pasar tani juga membantu pelaku UMKM dalam memasarkan hasil produksinya.
Ditambahkannya pasar tani juga bertujuan meningkatkan pendapatan petani dan pelaku UMKM melalui pemanfaatan produk lokal untuk meringankan beban masyarakat dalam menyambut Hari Raya Galungan dan Kuningan di tengah pandemi Covid-19.
Dampak Krisis Ekonomi, Penggunaan Daging Babi Saat Galungan 2021 Diprediksi Menurun di Gianyar Bali
Harga daging babi yang melambung tinggi hingga tembus Rp 100 ribu per kilogram di tengah krisis ekonomi, menyebabkan masyarakat beralih ke penggunaan daging ayam dalam perayaan Hari Raya Galungan.
Penggunaan daging ayam sebagai pengganti daging babi, sejatinya bukan hal baru.
Namun, sebelum pandemi covid-19 yang menyebabkan masyarakat kesulitan ekonomi, penggunaan daging ayam ini biasanya digunakan oleh masyarakat kurang mampu.
Pantauan Tribun Bali, Kamis 8 April 2021, keriuhan permintaan daging babi tidak lagi terdengar di pasaran.
Bahkan grup-grup mepatung sekalipun, kini menyetakan tidak akan menggunakan daging babi, karena persoalan biaya.
Ketua Grup Mepatung Petulu Gunung, I Nyoman Astana mengatakan, pihaknya tidak menggelar patungan daging babi untuk Galungan ini.
Pihaknya pun akan beralih ke daging ayam, untuk menekan biaya.
"Karena persoalan biaya yang tinggi untuk daging babi, Galungan kali ini kami pakai daging ayam saja," ujarnya.
Hal senada juga terjadi di Kecamatan Payangan. Ketua Kelompok Mepatung, di Buahan Kaja, Payangan, I Wayan Sudita juga mengatakan tidak akan memotong babi saat penampahan Galungan ini.
Hal tersebut karena banyak anggotanya tidak akan membeli daging babi.
“Saya maklumi anggota kami kesulitan membeli daging babi. Lebih baik tidak memotong babi,” ujarnya.
Sebab,kata dia, estimasi pengeluaran masyarakat jika memotong daging babi saat ini, pengeluaran warga sekitar Rp 375 ribu per orang.
Hak tersebut pun, kata dka, jika babi yang dipotong itu memiliki berat 100 kilogram.
"Kalau lebih dari 100 kilogram, bisa sampai Rp 400 ribu per anggota. Inipun baru pengeluaran daging babi saja, belum lagi akan mengeluarkan biaya bumbu, daging itik, ayam dan sarana upacara lainnya. Biaya untuk upacara Hari Raya Galungan bisa mencapai Rp 1 juta per kepala keluarga. Untuk musim sekarang ini cukup berat,” tandasnya.
Sementara itu, tukang jagal babi, Made Rawi juga menyebut hal yang sama. Biasanya tiap Galungan dirinya memotong babi sampai 50 ekor.
Namun kali ini hanya sekitar 25 ekor, itupun untuk berjaga-jaga kalau ada yang membeli.
“Faktor modal yang besar dibutuhkan, juga karena permintaan tidak sebesar Galungan sebelumnya. Biasanya 10 hari menjelang Galungan sudah ada warga yang memesan daging. Kali ini sepi, baru satu dua warga,” ungkapnya. (*).
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/pasar-tani-di-areal-parkir-kantor-bupati-gianyar-jumat-9-april-2021.jpg)