Serba Serbi
Pemacekan Agung, Jangan Panjat Pohon Hari Ini
Hari ini, Soma Kliwon Kuningan, bertepatan dengan hari raya suci Pemacekan Agung.
Penulis: AA Seri Kusniarti | Editor: Putu Dewi Adi Damayanthi
Laporan Wartawan Tribun Bali Anak Agung Seri Kusniarti
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Hari ini, Soma Kliwon Kuningan, bertepatan dengan hari raya suci Pemacekan Agung.
Kepercayaan umat Hindu di Bali, pada hari ini ada beberapa pantangan yang tidak boleh dilakukan.
Berikut ulasan selengkapnya.
Ulasan awal, adalah membahas arti kata Pemacekan Agung.
Baca juga: MDA Jembrana Imbau Umat Hindu Tetap Terapkan Prokes Saat Rayakan Galungan
Baca juga: Buda Wage Warigadean, Apa yang Seharusnya Dilakukan Umat Hindu?
Baca juga: Dulang Viral, Fungsi Dulang Sebagai Wadah Sesajen Bagi Umat Hindu di Bali
Di mana asal kata pemacekan adalah 'pacek' yang berarti tonggak, inti, pertengahan dan masih ada beberapa arti lainnya.
Sedangkan kata agung, berarti utama, besar, mulia dan nirmala.
Kemudian Jero Mangku Ketut Maliarsa, menambahkan.
Ia menjelaskan pemacekan juga berarti nancebang.
Dan kata agung berarti besar.
"Ini berarti bahwa umat Hindu agar menancapkan kekuatan yang besar, untuk menanamkan kebangkitan kesadaran diri dalam mempertahankan kemenangan Dharma melawan Adharma," jelasnya kepada Tribun Bali, Senin 19 April 2021.
Apalagi perbuatan Dharma ini, telah diusahakan pada saat hari suci Galungan.
Sehingga tidak tergoyahkan dengan melaksanakan ajaran kebenaran untuk mencapai keselamatan, kemuliaan dan kerahayuan dalam mengarungi hidup dan kehidupan.
Secara filosofi, kata dia, dapat dikatakan bahwa hari suci Pemacekan Agung diupayakan agar umat Hindu menanamkan kesadaran diri tingkat tinggi (besar) dalam mempertahankan kemenangan Dharma agar ajeg.
Sebab apabila diperhatikan, dari rentang waktu perayaan Galungan sebelumnya, dan Kuningan beberapa hari lagi.
Sebelumnya diawali dari Tumpek Wariga.
Hingga Soma Kliwon Kuningan yang rentang waktunya adalah selama 30 hari.
Lalu dari Soma Kliwon Kuningan sampai Budha Kliwon Pahang.
Atau yang disebut Pegatwakan. Juga rentang waktunya adalah 30 hari.
"Sehingga saat Soma Kliwon Kuningan ini disebut Pemacekan Agung," jelasnya.
Sebagai tonggak atau pertengahan dari awal sampai akhir rangkaian Galungan hingga Kuningan.
Juga sebagai tonggak yang kuat sehingga tidak tergoyahkan untuk mencapai kemuliaan dan keharmonisan.
"Makanya hari suci Pemacekan Agung dikatakan sebagai tonggak kebangkitan umat, sebagai pengukuhan kekuatan pikiran untuk menjaga harkat, martabat dan moral sehingga terhindar dari perbuatan yang tercela,"ucapnya.
Untuk itu, perlu dihaturkan upacara suguhan berupa caru panyambleh ayam samalulung.
Menggunakan anak ayam yang masih kecil.
Dihaturkan kepada Sang Kala Galungan, agar tidak membencanai umat-Nya.
Di samping itu juga, kata dia, para umat dimohon mengahaturkan segehan di halaman sanggah, halaman rumah, pintu keluar-masuk dan pada lebuh.
Agar para bhuta kala atau Sang Kala Tiga somia.
"Sehingga terwujud kedamaian, ketentraman dan keharmonisan. Baik bhuana alit, maupun bhuana agung," katanya.
Agar tidak terjadi hal- hal buruk yang menimpanya atau terhindar atau dari marabahaya.
Bahkan dalam lontar Sundarigama, dinyatakan bahwa para umat Hindu wajib menghaturkan segehan pada pintu masuk dan lebuh atau pemesuan rumah sebagai penyomya Sang Kala Tiga.
Biasanya segehan dihaturkan sore hari.
Tujuannya agar mengembalikan Sang Bhuta Galungan beserta para pengikutnya.
Kembali ke asalnya semula.
"Menurut kepercayaan umat Hindu Bali, bahwa hari suci ini dimaknai sebagai harinya umat manusia. Makanya pada saat ini umat Hindu tidak boleh bercukur rambut atau tidak boleh megundul dan jika dilanggar akan berakibat buruk," tegasnya.
"Hal demikian, tercantum di buku Wariga Krimping yang disusun I Wayan Purna," sebutnya.
Hari suci Pemacekan Agung, merupakan hari beryoganya Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam manifestasinya sebagai Ida Sang Hyang Paramesesra.
Maka pada saat ini, umat Hindu diharapkan dengan khusyuk memuja keagungan beliau dengan sarana upakara atau minimal canang asebit sari.
Bisa juga sesaji sakasidan (sekemampuan) sebagai sarana untuk memohon kerahayuan, kerahajengan dan keselamatan dalam mencapai kemuliaan hidup.
"Hal ini juga diperkuat dalam isi lontar Dharma Kahuripan, bahwa semua umat Hindu diwajibkan memusatkan kesadaran diri dengan sarana upakara untuk meningkatkan kekuatan kemenangan Dharma melawan Adharma dalam mencapai kemuliaan kehidupan," imbuhnya.
Pantangan lainnya seperti mendaki gunung, bahkan memanjat pohon juga tidak diperkenankan.
Sebab pada hari suci ini, saat beryoganya Ida Bhatara Sang Hyang Parameswara.
"Jadi jika ini dilanggar akan menimbulkan sesuatu yang negatif misalnya jatuh atau celaka dan yang lainnya," kata pensiunan kepala sekolah ini.(*).
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/ilustrasi-hindu-bali-sembahyang-1.jpg)