Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Kelanjutan Dugaan Meningitis di Abiansemal, Pemkab Badung Minta Masukan Profesor Peternakan

Tim khusus itu pun akan melakukan penelitian terkait kasus yang kini masih sifatnya praduga yang diakibatkan oleh daging babi.

Penulis: I Komang Agus Aryanta | Editor: Eviera Paramita Sandi
ist/via Kompas.com
Ilustrasi bakteri Streptococcus pneumoniae penyebab penyakit radang selaput otak atau meningitis. 

TRIBUN-BALI.COM, MANGUPURA - Setelah adanya dugaan warga terjangkit Meningitis, pemerintah Kabupaten Badung membuat tim khusus untuk menindaklanjuti hal tersebut. 

Sebelumnya diketahui kasus dugaan meningitis terjadi  di Desa Adat Samu, Desa Werdi Bhuwana, Abiansemal, Badung, Bali. 

Tim khusus itu pun akan melakukan penelitian terkait kasus yang kini masih sifatnya praduga yang diakibatkan oleh daging babi.

"Jadi pemkab Badung kini sudah membentuk tim untuk melakukan penelusuran. Termasuk didalamnya ada salah seorang profesor yang membidangi peternakan turun rembug menyampaikan beberapa hal," ujar Camat Abiansemal IB Mas Arimbawa saat dikonfirmasi Jumat 15 Mei 2021.

Namun demikian pihaknya mengimbau masyarakat agar tidak resah dan mencarikan solusi agar kejadian tersebut tidak terulang lagi.

"Kemarin kita juga melakukan pertemuan dengan warga setempat, untuk mencarikan solusi. Termasuk meminta warga tidak panik," ungkapnya.

Dijelaskan, sebelumnya pihaknya bersama instansi terkait dan beberapa tim ahli juga melakukan pertemuan terbatas di Balai Banjar Samu.

Dalam pertemuan tersebut, dibahas bahwa kasus tersebut perlu dilakukan kajian yang benar-benar matang dan amat teliti.

"Tim dari Pemkab Badung dan Instansi terkait termasuk GUPBI akan berkolaborasi memecahkan masalah ini. Mengingat, berbicara masalah daging babi yang diolah tersebut, rangkaian prosesnya sangat panjang," bebernya sembari mengatakan apalagi babi itu berasal dari luar kabupaten Badung.

Arimbawa mengakui Musyawarah Pimpinan Kecamatan (Muspika) dan perangkat daerah terkait menginginkan agar masyarakat tidak resah.

Selebihnya sangat berharap tidak ada masyarakat yang kembali mengeluhkan penyakit yang sama.

Warga yang terjangkit penyakit tersebut awalnya memakan daging babi yang digunakan sebagai upacara keagamaan.

Mereka yang memakan daging babi tersebut adalah warga yang mengayah saja.

"Memang dilakukan makan bersama saat itu. Nah menjelang beberapa hari barulah beberapa warga mengeluhkan gejala panas badan. Sehingga dirujuk ke RSD Mangusada dan jumlahnya pun hanya 5 orang," tegasnya.

Disinggung mengenai Meningitis yang terjadi, pihaknya belum berani memastikan.

Sumber: Tribun Bali
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved