Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Serba Serbi

Kisah Pancoran Solas Bangli, Pasiraman Dalem Dimade, Tempat Minta Keturunan dan Kesembuhan

Kisah sejarah, atau bahkan sisi mistis menjadi daya tarik wisata spiritual ketika malukat.

Tribun Bali/AA Seri Kusniarti
Pancoran Solas - Kisah Pancoran Solas Bangli, Pasiraman Dalem Dimade, Tempat Minta Keturunan dan Kesembuhan 

TRIBUN-BALI.COM, BANGLI - Genah atau tempat malukat di Bali, selalu mempunyai sisi unik untuk digali.

Kisah sejarah, atau bahkan sisi mistis menjadi daya tarik wisata spiritual ketika malukat.

Seperti kisah di balik hadirnya Pancoran Solas di Guliang Kangin, Desa Taman Bali, Bangli.

Panglukatan dengan sekitar 135 anak tangga ini, memiliki cerita tersendiri.

Baca juga: Meminta Anak Hingga Penyembuhan, Berikut Kisah Pancoran Solas Bangli

"Sekarang sejak pandemi ini memang agak sepi. Dahulu cukup ramai yang datang ke sini," ucap Dewa Ngakan, guide yang biasa memandu pamedek, Selasa 18 Mei 2021 sore sekitar pukul 17.00 Wita.

Ngakan menarik napas menaiki anak tangga.

Kala itu sepi. Hanya terlihat warga sekitar, yang mandi dan mencari air minum dengan jeriken warna putih.

Mereka lalu lalang, dan kebanyakan telah lanjut usia. Ratusan anak tangga tak membuat nyali para tetua ini ciut.

Sebab setiap hari, jalan tersebut telah mereka lalui.

Jalan tangga dengan tumbuhan rambat berwarna hijau di sekitarnya.

Rimbun pepohonan memberikan oksigen lebih banyak.

Tak lama setelah menuruni anak tangga, terdengar deru air cukup besar.

Ternyata di seberang semak belukar ada sebuah air terjun.

Walau debit airnya tak banyak, namun cukup menyegarkan mata.

Deru air juga terdengar, dari aliran Tukad Melangit, tatkala perjalanan kian dekat dengan lokasi panglukatan.

Tak lama kemudian, terlihat tempat melukat di depan mata.

Beberapa gadis desa, sedang asyik bermain dengan ikan hias yang berenang ke sana ke mari di tempat panglukatan.

Para pria mandi di pemandian yang terletak di bawahnya. Ada empat pancoran di area pemandian itu.

Dua untuk wanita, dan dua sebelahnya untuk pria. Airnya jernih dan dingin.

Kabarnya air di sana bisa langsung diminum.

Dari sana juga air untuk mengisi jeriken putih warga.

Sedangkan di atasnya adalah areal suci. Berisi 11 pancoran dengan kolam ikan di bawahnya.

Mirip seperti panglukatan di Tampaksiring, hanya lebih kecil.

Di atas lokasi malukat, ada papan pemberitahuan dengan tiga bahasa, yaitu bahasa Indonesia, Bali, dan Inggris.

Memberitahukan ihwal tata cara dan etika di area malukat.

Sehingga pamedek atau turis yang datang, tetap bisa menjaga kesakralan lokasi ini.

Tertulis di papan itu, pamedek yang datang bisa membawa dua pejati.

Satu pejati diletakkan dan dihaturkan di asagan, tepat di depan tempat malukat.

Satunya lagi dihaturkan, di Padmasana tepat berada di atas genah panglukatan.

Kemudian canang bisa ditaruh di setiap pancoran yang ada.

Ada 11 pancoran, karena itu namanya disebut Pancoran Solas.

Baca juga: Pasiraman Dalem Dimade, Sisi Lain Pancoran Solas Bangli

"Tempat malukat ini sudah ada sejak dahulu, bahkan sebelum saya ada," kata pria ini, yang juga kerap menjadi guide di sana. Ia kemudian menceritakan, bahwa ada kisah menarik dari Pancoran Solas ini.

Vibes malukat di sana terasa berbeda, sebab masih alami dan hanya dikelilingi hutan.

Airnya yang jernih dan dingin, mampu menenangkan jiwa dan raga dari kepenatan hidup setelah menjalani aktivitas sehari-hari.

Jika pamedek ingin membersihkan diri, bisa di pancoran pemandian.

Setelah itu malukat di Pancoran Solas.

Sebab di genah panglukatan, tidak boleh menggunakan sabun dan sampo atau benda sejenis lainnya.

Itu untuk menjaga kebersihan dan kesakralannya.

Banten pejati atau canang, di depan asagan dihaturkan lalu pamedek sembahyang sebelum malukat.

Setelah malukat, pamedek berganti pakaian di tempat yang sudah disediakan.

Kemudian sembahyang di Padmasana.

Dahulu konon katanya, lokasi ini adalah pasiraman Ida Dalem Dimade, salah satu raja Bali yang cukup tersohor, selain Dalem Waturenggong.

Beliau memerintah Pulau Dewata, pada 1625-1651 Masehi.

Namun pada 1651, beliau dikudeta oleh maha patihnya sendiri, yakni Gusti Agung Maruti, atau dikenal juga dengan nama Gusti Agung Widya. Dalem Dimade kemudian mengungsi ke Guliang Kangin, Bangli.

Dengan diiringi putera beliau, bernama Dewa Agung Pemayun yang kemudian berkuasa di Pejeng serta Dewa Agung Jambe, yang kemudian berkuasa di Klungkung.

Setelah kudeta berhasil, Gusti Agung Maruti hanya menguasai Gelgel. Sebab kabupaten lain, masih setia dengan Dalem Dimade.

Sehingga seolah-olah kekuasaan dijalankan dari Guliang Bangli. Hingga beliau wafat di sana.

"Bahkan kini ada Pura Dalem Dimade di sini (Guliang Kangin)," jelas Dewa Ngakan.

Kemudian setelah Dewa Agung Jambe dewasa, beliau tinggal di Sidemen dengan sebutan Anglurah Sidemen.

Lalu dari Sidemen, Karangasem itu Dewa Agung Jambe dibantu rakyat dan pasukan wilayah Karangasem, Gianyar Badung, Tabanan, Buleleng dan Bangli menggempur Gusti Agung Maruti di Gelgel pada 1686.

Akhirnya Gusti Agung Maruti kalah dan lari ke Jimbaran.

Dewa Agung Jambe kemudian membuat keraton di Semarapura atau Klungkung saat ini.

Selain kisah itu, ada pula kisah mistis dari lokasi panglukatan ini.

"Banyak yang datang memohon anak atau keturunan," katanya dengan nada lebih pelan.

Hal itu, kata dia, sudah terbukti dan cukup banyak akhirnya yang datang.

Satu diantaranya, adalah seorang pamedek dari Lombok yang sudah 12 tahun kawin, namun belum dikaruniai keturunan.

Lalu ia ke sana dan malukat, memohon agar dimudahkan dalam mendapat keturunan.

Tak dinyana, kini ia telah memiliki tiga orang putera.

Sehingga setelah itu, ia rutin datang ke sana untuk malukat.

Pamedek lain juga kerap datang, saat Purnama, Tilem, atau Kajeng Kliwon.

Bahkan ada pula pamedek yang memohon agar dimudahkan jodohnya.

"Anggara Kasih Prangbakat adalah wali di sini. Setiap enam bulan sekali, biasanya dari Puri Ubud dan Madangan datang patirtan ke sini," sebutnya.

Diantaranya adalah trah keturunan Ida Dalem Dimade.

Baca juga: Pancoran Solas Taman Mumbul, Wisata Religi Dengan 3 Konsep Penglukatan

Lanjutnya, 10 pancoran di bawah adalah lambang dasa aksara, yakni Sa, Ba, Ta, I, Na, Ma, Si, Wa, Ya.

Kemudian ada pancoran, yang mana berisi kain hitam dan putih.

Disebutkan bahwa banyak orang hamil, meminta perlindungan dari air pancoran tersebut.

"Nah kalau ada yang meminta keturunan, bisa membawa pejati dua tanding serta membawa bunga tunjung tiga warna. Lalu bungkak yang nantinya akan dibantu pemangku untuk dihaturkan," jelasnya.

Tak hanya sampai di sana, ternyata banyak pula balian yang datang untuk membantu penyembuhan pasiennya.

"Ada yang datang pukul 12 malam ke sini," sebutnya.

Sehingga memang mata air ini dipercaya memiliki kekuatan magis yang menyembuhkan. (*).

Kumpulan Artikel Bali

Sumber: Tribun Bali
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved