Breaking News:

Serba Serbi

Palinggih Rong Tiga, Sebagai Simbol Harapan Umat Hindu Capai Moksa

Sebab salah satu bagian Panca Sradha ini, berarti kembalinya atau menyatunya atman/roh dengan Brahman (Tuhan), guna mencapai kebahagiaan yang abadi

Penulis: AA Seri Kusniarti | Editor: Wema Satya Dinata
Tribun Bali/AA Seri Kusniarti
Palinggih Kamulan atau Rong Tiga 

"Sehingga dari isi lontar-lontar tersebut, jelas disebutkan bahwa Palinggih Kamulan memiliki fungsi untuk menyembah roh leluhur di satu bagian, dan sekaligus menyembah Tuhan di bagian yang lain," jelas ida. Sehingga dalam Hindu Bali, Palinggih Kamulan sering pula disebut Palinggih Batara Hyang Guru.

"Di dalam Lontar Siwagama, disebutkan bahwa Bhatara Hyang Guru adalah penyebutan terhadap Brahman (Tuhan)," ujarnya.

Sehingga penyembahan kepada Hyang Guru atau Bhatara Guru, tidak menyimpang dari kutipan Lontar Gong Wesi, Lontar Usana Dewa. Yang menyebutkan tentang Sang Hyang Tri Atma, Sang Hyang Tunggal atau Sang Hyang Tuduh dan Brahma sebagai pencipta.

Menurut Singgin Wikarma, kata beliau, dalam bukunya 'Sanggah Kamulan'.

Dikatakan bahwa apabila dikaji lebih mendalam tentang Sang Hyang Tri Atma. Seperti disebutkan dalam Lontar Gong Wesi dan Lontar Usana Dewa.

Baca juga: Ini Makna Tilem Jyesta yang Datang Setiap Setahun Sekali dalam Hindu Bali

Maka pengertian Hyang Kamulan sesungguhnya akan lebih tinggi lagi.

"Karena telah disebutkan, bahwa penyatuan Sang Hyang Tri Atma adalah Hyang Tuduh dan Hyang Tunggal. Yang menjadi Brahma sebagai Sang Pencipta," ucap beliau.

Selain itu, ketiga tingkatan Sang Hyang Tri Atma itu apabila ditinjau dari filsafat Siwa Tattwa maka atma adalah yang menjadikan hidup pada mahluk. Siwatma adalah sumber atma di alam nyata (sekala). Sedangkan Paratma adalah sumber atma (roh) di alam transendental (niskala).

"Ia adalah atma tertinggi, ia adalah Tuhan menurut sistem yoga. Ia adalah identik dengan Paramasiwa dalam Siwa Tattwa. Sedangkan dalam sistem Vedanta, ia adalah Tuhan Nirguna Brahma," jelas pensiunan dosen Unhi ini.

Siwa adalah Tuhan dalam dimensi imanen (sakala). Sadasiwa adalah Tuhan dalam dimensi sakala-niskala (Ardanareswari). Sedangkan Pramasiwa adalah Tuhan dalam dimensi niskala (transendental). "Siwa dalam wujud tiga tersebut di atas, dalam Lontar Siwagama digelari Bhatara Guru. Karena Siwa menjadi Dang Guru ing Iswara di jagat kita," ujar ida.

Halaman
1234
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved