Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

SOSOK dan Biografi Tan Malaka di Kancah Politik Dunia, Keluar dari PKI dan Diasingkan dari Indonesia

Setelah keluar dari PKI, Tan Malaka muncul kembali untuk memimpin sayap militan revolusi Indonesia hingga pembunuhannya pada 1949.

Tayang:
Editor: Kambali
KOMPAS.com/M.Agus Fauzul Hakim
Makam Tan Malaka di Selopanggung, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. 

TRIBUN-BALI.COM - Simak sosok dan sepak terjang Tan Malaka di artikel ini.

Tan Malaka membingkai sejarah kaum kiri di Indonesia.

Dia aktif di Partai Komunis Indonesia (PKI) pada masa-masa awal pergerakan, dan untuk beberapa waktu menjabat sebagai wakil Komintern (Organisasi Komunis) di Asia Tenggara.

Setelah keluar dari PKI, Tan Malaka muncul kembali untuk memimpin sayap militan revolusi Indonesia hingga pembunuhannya pada 1949.

Baca juga: Megawati Heran Dan Mengaku Kesal Kerap Dituduh Sebagai Anggota PKI

Namun, banyak aspek karirnya masih samar.

Helen Jarvis dalam tulisan berjudul “Tan Malaka: Revolusioner atau Pengkhianat,” berusaha menggambarkan perjalanan panjang revolusioner, putra Minangkabau ini " dari penjara ke penjara.''

Setelah menjadi pemimpin PKI pada 1921, dan semakin aktif menentang pemerintah kolonial ketika itu, Pemerintah Hindia Belanda mulai memburunya.

Pada 13 Februari 1922, dia ditangkap di Bandung dan kemudian diasingkan ke Belanda pada 24 Maret tahun itu.

Meski diasingkan jauh dari tanah air, perjuangannya tidak berhenti.

Kompas.com secara khusus merangkum beberapa sepak terjangnya pria kelahiran 2 Juni 1897 itu, di kancah mancanegara berikut ini;

Baca juga: Ketua Partai Komunis Ini Mendadak Hilang dan Ditemukan tak Bernyawa

1. Kandidat Muda Parlemen (Belanda)

Begitu tiba di Belanda, Tan Malaka langsung terjun ke medan politik.

Partai Komunis Belanda (CPH) memutuskan untuk mencalonkan Tan Malaka sebagai kandidat ketiga mereka dalam pemilihan parlemen pada 1922.

Itu adalah langkah yang berani: belum pernah ada orang Indonesia yang dicalonkan.

Tan Malaka sebenarnya juga masih terlalu muda untuk duduk di parlemen.

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved