Breaking News:

Serba serbi

Panca Mahabhuta dan Kaitannya dengan Upacara Ngaben

Ngaben adalah salah satu bagian dari Pitra Yadnya. Prosesinya dilaksanakan dengan pembakaran mayat, bagi pengabenan Sawa Prateka

pixabay.com
Ilustrasi ngaben - Panca Mahabhuta dan Kaitannya dengan Upacara Ngaben 

Laporan Wartawan Tribun Bali, Anak Agung Seri Kusniarti

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Ngaben adalah salah satu bagian dari Pitra Yadnya.

Prosesinya dilaksanakan dengan pembakaran mayat, bagi pengabenan Sawa Prateka. Atau pembakaran Puspa Sarira, bagi pengabenan Nyawa Wedana. 

"Tujuan upacara pengabenan adalah mempercepat proses pengembalian unsur-unsur Panca Maha Bhuta menuju asalnya," jelas Ida Rsi Bhujangga Waisnawa Putra Sara Shri Satya Jyoti kepada Tribun Bali, Jumat 4 Juni 2021. 

Ngaben berasal dari kata api, mendapat prefik atau awalan (anuswara) 'ng' menjadi kata 'ngapi'.

Lalu mendapat sefik atau akhiran 'an' menjadi kata 'ngapian'.

Baca juga: Ngaben Bikul Diiringi Bade Tumpang Pitu di Tabanan, Berharap Hama Tikus Terkendali

Kemudian terjadinya perubahan 'p' menjadi 'b' sesuai hukum perubahan bunyi p,b,m,w (merupakan rumpun huruf bilabial). 

Maka kata 'ngapian' berubah menjadi kata 'ngaben', yaitu upacara menuju ke api atau pembakaran untuk menjadikan abu.

"Upacara ini memiliki makna untuk mempercepat proses pengembalian Panca Maha Bhuta," jelas ida. 

Panca Maha Bhuta, bagiannya adalah Akasa (unsur eter), Wayu atau Bayu (unsur angin), Teja (unsur panas atau api), Apah (unsur air), dan Pertiwi (unsur tanah).

Halaman
12
Penulis: AA Seri Kusniarti
Editor: Ida Ayu Suryantini Putri
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved