Breaking News:

SMA Negeri 8 Denpasar Siap Menggelar PTM Juli 2021 Mendatang, Libatkan 30 Persen Siswa

Selain itu, orang tua peserta didik yang diwakili oleh komite sekolah juga telah meninjau fasilitas pendukung protokol kesehatan (prokes) di sekolah.

ISTIMEWA
ILUSTRASI SMA. 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR- Pada tahun ajaran baru 2021/2022 akan dimulai pada bulan Juli 2021 ini, SMA Negeri 8 Denpasar berencana melaksanakan pembelajaran tatap muka (PTM).

Dimana pihak sekolah sudah melakukan rapat koordinasi terkait hal tersebut.

Selain itu, orang tua peserta didik yang diwakili oleh komite sekolah juga telah meninjau fasilitas pendukung protokol kesehatan (prokes) di sekolah.

Ketua Komite SMA Negeri 8 Denpasar I Made Gde Putra Wijaya mengatakan, berkenaan dengan dilaksanakannya PTM Juli mendatang, pihak komite diberi mandat oleh orangtua siswa untuk memastikan kesiapan sarana prasarana dan kelengkapan protokol kesehatan di sekolah. 

Pihaknya juga memastikan teknis pengaturan ruangan agar tidak terjadi kerumunan, termasuk memastikan bahwa seluruh guru dan pegawai telah divaksin.

Menurutnya, semua harus melewati proses matang guna mencegah klaster baru penularan Covid-19.

“Indonesia tidak mau kehilangan generasi karena gara gara Covid-19 ini. Masalah kesehatan anak didik sangat penting, meskipun masalah pendidikan nya juga tidak bisa diabaikan. Mari kita dukung PTM dengan tetap disiplin prokes,” katanya dalam rilis yang diterima Rabu, 9 Juni 2021.

Sementara itu, Kepala SMA Negeri 8 Denpasar, I Made Arsana mengatakan, persiapan PTM di sekolah yang ia pimpin telah mencapai 100 persen.

Mulai dari belasan wastafel, hand sanitizer, alat pengukur suhu badan, serta pengaturan bangku di ruang kelas.

Berdasarkan petunjuk pemerintah, setiap sekolah diizinkan menggelar PTM dengan melibatkan maksimal 50 persen peserta didik.

Namun, di SMA Negeri 8, pihaknya hanya melibatkan 30 persen dari total 1.500 peserta didik kelas X, XI dan XII. 

“Kami punya 1.500 murid. Untuk di awal PTM kami hanya ambil 30 persen, artinya lebih kurang 500 murid yang PTM dengan shift yang sudah ditentukan. Sedangkan sisanya mengikuti pembelajaran daring,” katanya. 

Arsana menambahkan, hampir semua orangtua peserta didik setuju alias mengizinkan putra-putrinya mengikuti PTM.

Selain dilanda kejenuhan, mereka khawatir kualitas pendidikan menurun.

“Kami mempercepat PTM justru karena dorongan orangtua murid yang menyampaikan aspirasinya lewat telpon ke sekolah,” katanya. (*)

Penulis: Putu Supartika
Editor: Eviera Paramita Sandi
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved