Breaking News:

Berita Bali

Fenomena BTS Meal McD, Ini Pandangan Pakar Sosiologi

Satgas Covid-19 akhirnya menerapkan sanksi bagi pengelola restoran cepat saji Mc'Donalds akibat kerumunan yang ditimbulkan karena promo BTS meal

Tribun Bali/Gung Sri
Suasana salah satu gerai McD saat promo BTS Meal di Kota Denpasar, Bali, pada Rabu 9 Juni 2021. 

Laporan wartawan Tribub Bali, Adrian Amurwonegoro

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Satgas Covid-19 akhirnya menerapkan sanksi bagi pengelola restoran cepat saji Mc'Donalds akibat kerumunan yang ditimbulkan karena promo BTS meal pada Rabu 9 Juni 2021 lalu. 

Sanksi yang dikenakan kepada pengelola berupa denda administrasi hingga penutupan sementara dan pengawasan diperketat di gerai McD di sejumlah wilayah di Indonesia.

Sosiolog Universitas Udayana Bali, Wahyu Budi Nugroho menilai penerapan sanksi dan tindakan tegas tersebut merupakan langkah tepat yang dilakukan oleh Satgas Covid-19 atas kerumunan yang ditimbulkan di tengah masa pandemi.

Baca juga: Heboh di Berbagai Negara, BTS Raup Keuntungan Hingga Rp 128 Miliar dari Promo BTS Meal

"Tentu Satgas Covid-19 harus terus memantau, dan jika kondisi sudah dirasa tidak terkontrol, penyegelan atau penutupan restoran cepat saji dalam kurun waktu tertentu memang menjadi pilihan paling tepat, dan ini memang sudah dilakukan," kata Wahyu kepada Tribun Bali, Minggu 13 Juni 2021.

Memang dari sisi aturan protokol kesehatan Covid-19, kerumunan promo BTS meal McD tidak dibenarkan.

Namun di lain hal, strategi penjualan ini juga menggerakkan perekonomian masyarakat yang tengah lesu selama pandemi. 

Baca juga: Rela Menunggu Lama demi Nugget-Kentang BTS Meal McD, Echa: Rasa Mah Sama Aja, Bungkusnya Gak Nguatin

"Keluh-kesah pengendara ojek online yang selama ini sepi orderan, gerai-gerai restoran cepat saji yang mulai banyak tutup; sedikit-banyak sebetulnya tertolong juga oleh fenomena masifnya konsumsi secara tiba-tiba ini," jelasnya.

Oleh karena itu, yang lebih tepat, kata Wahyu adalah membenahi prosedur penjualannya, yaitu dengan sistem “buka-tutup”. 

"Sebagai misal, restoran cepat saji terkait bisa membatasi jumlah pesanan agar tidak terjadi kerumunan, ketika kerumunan sudah mereda, restoran tersebut bisa kembali membuka pemesanan."

Halaman
1234
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved