Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Serba Serbi

Saat Mengingatkan Keturunannya, Leluhur Tak Pernah Marah, Ini Penjelasannya Dalam Hindu di Bali

Sesepuh PHDI ini mengingatkan tidak ada yang salah saat umat Hindu, memuja leluhurnya yang telah meninggal dan disucikan

Penulis: AA Seri Kusniarti | Editor: Wema Satya Dinata
Tribun Bali/AA Seri Kusniarti
ilustrasi Palinggih Kamulan atau Rong Tiga, merupakan simbol atau harapan umat untuk mencapai moksa. 

Laporan Wartawan Tribun Bali,  AA Seri Kusniarti

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR – Banyak yang bertanya, mengapa umat Hindu masih memuja leluhur yang telah meninggal dan disucikan.

Kemudian apakah dengan memuja leluhur itu, membuat jalannya tidak lapang ke alam seharusnya.

Berikut penjelasan Dewa Ketut Suratnaya, Wakil Ketua Sabha Walaka PHDI Pusat.

Dalam penjelasannya di sebuah dharma tula daring, beberapa waktu lalu.

Baca juga: Makna Turus Lumbung Menurut Kepercayaan Hindu Bali

Sesepuh PHDI ini mengingatkan tidak ada yang salah saat umat Hindu, memuja leluhurnya yang telah meninggal dan disucikan.

“Di dalam Reg Weda disebutkan, Bhatara Hyang Guru setara dengan para dewa dan memiliki peran yang sama dengan para dewa,” sebutnya.

Oleh karena statusnya yang sama dengan para dewa, sehingga para leluhur yang telah suci ini juga menikmati persembahan layaknya para dewa.

Untuk itulah, dipercaya bahwa roh leluhur akan turun dalam waktu-waktu suci bersama para dewa.

Hal ini juga dijelaskan di dalam kitab suci Sundarigama.

Dijelaskan dalam lontar Sundarigama, bahwa pada saat hari baik tiba dipercaya sebagai hari suci bagi para dewa ataupun roh leluhur turun ke dunia menyucikan diri dan melakukan yoga semadi. Serta memberikan anugerah kepada segenap mahluk hidup, yang berada di muka bumi ini. Agar senantiasa dalam keadaan selamat dan sejahtera.

Oleh karena itu, manusia termasuk hewan dan tumbuh-tumbuhan wajib melakukan balas budi atau mengucapkan terimakasih atas kebaikan para dewa dan leluhur.

Dengan mempersembahkan sesajen sesuai kemampuannya masing-masing.

Hal inilah yang menyebabkan adanya upacara agama, atau yang lazim dikenal sebagai yadnya menurut umat Hindu di Bali.

Menurut Dewa Suratnyana, justru dengan memuja leluhur dan memberikan doa yang baik kepadanya.

Baca juga: Pentingnya Pemahaman Tentang Hindu Sejak Dini

Sumber: Tribun Bali
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved